Kugugat tengkorak di gubuk sederhana
Ketika tempat memetakan warna mata
Selalu membentuk hitungan sama
Dengan benakmu yang pelabuhan membalik masa
Tidakkah langit selalu rubuh
Dan mampus di pangkuan malam?
Tempat dulu kutemukan gerbang salam
Hari kepada perjanjian berdarah
Hidup dalam gigil yang tanpa celah
Kini, kampung kita punya kolam sastra air mata
Menyambut pasukan-pasukan yang berduka
Ia lebih dulu mengembarakan kesulitan
Meladang batu-batu yang terkutuk aroma busuk
Tidak pernah punya rumah untuk sebuah kenangan
Lalu jarak waktu memang sungguh menghakimi
Bagi pahlawan yang melepaskan tawanya di gigir pantai
Hanya peristiwa dari kitab suci yang diberkati
Tak pernah cemas meski kepada puisi
Adalah lukaku yang tak juga pulih
Dan, bila telah tiba pada kesungguhan itu
Maka biarkan aku datang menyusulmu
Membawa sebungkus putus asa
Untuk kampung kita yang barangkali berdosa
Jogjakarta, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.