Liea, begitu aku menyebutnya dengan damai hati. Banyak dari orang yang aku kenal bahkan orang yang bersemayam dihati juga turut mempertanyakan tentang sebuah kata yang melekat di akhir namaku. Misterius memang, sebab aku sendiri tidak tahu harus menjawabnya dengan kalimat yang tepat dan pas terhadap arti dari Liela. Liea bukan manusia yang aku sayang. Liela juga bukan barisan mantan yang telah banyak menanam luka dalam dada. Liela lahir dari mimpiku secara murni dan syahdu. Saat aku mencoba mencorek-corek beberapa kertas yang mulus dan putih. Lalu pada saat itu pula Liela lahir dalam penaku yang abadi. Pena yang melahirkan kata kedalam tubuh kertas, dan Liela juga yang membahasakan derita sekaligus bahagianya hatiku. Terlepas dari semua kecemburuan teman-teman. Liela sendiri memang agak mirip dengan nama seorang wanita. Namun, maaf saja Liela tidak ada pada sosok wanita yanng kerap menyiksa batinku. Dia terlalu jujur dan setia untuk menjadi seorang wanita. Aku sudah memberanikan diri membawanya lari dari kumpulan wanita keji. Aku sangat menyayanginya dengan bentuk cara dia yang ajaib. Aku melahirkan duka pada kata. Mengabadikan tubuhku pada saat kelak aku tiada. Dia sudah berjanji akan hal itu pada jiwa dan batinku. Sehalus tepung yang terbang sejarah tentangku, dia akan tetap meneteskan tinta hitamnya di setiap lembar kehidupan bangsa sesamaku. Aku saja tidak pernah perduli akan sebuah tulisan ku hendak dibaca orang atau tidak. Seabab aku hanya menyadarinya dengan kesederhanaan redaksi yang tidak menarik atau terlalu desa. Lantas, aku masih bukan penulis hebat. Tapi aku adalah penulis yang berkemauan besar, mungkin mengalahkan mereka yang sudah duduk menikmati sajian pujian diatas kasur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.