Senin, 13 April 2015

MADURA; MASIH PULAU ?


            SURAMADU adalah jembatan yang menghubungkan antara Kota Surabaya dengan Madura. Jembtan dengan panjang 5.438 meter itu resmi dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono(SBY) pada tanggal 10 Jun 2009 lalu. Adanya Suramadu secara tidak langsung menghapus nama Madura sebagai pulau. Madura telah menyatu menjadi daratan Surabaya. Masuknya berbagai transportasi modern tidak bisa dikontrol oleh masyarakat Madura. Namun saya tidak mau membahas tentang darat atau pulaunya dari Madura.
            Kapitalis industrialisasi menyusup ke dalam tubuh masyarakat Madura. Tersebab Sumber Daya Manusia(SDM) di Madura masih terbukti lemah. Kekayaan alam dan kebudayaan secara perlahan terkikis entah kemana larinya. Akan sangat disayangkan bila pemerintahnya belum memiliki rasa sayang terhadap pulau-pulau kecil lain di Madura, ksusnya di daerah Suemenep yang paling banyak memiliki pulau. Germerlap pembangunan sudah tampak dengan sebagai pembeda antara kepulauan dan daratan. Padahal pulau seharusnya dipelihara dengan menjaga kelestarian lingkungannya.
            Ironi memang bila berbicara tentang sebuah kekayaan alam. Sebab ketika terjadi masalah bukan masalah pelestariannya yang dijadikan gugatan kasus, melainkan lebih kepada perilakunya yang melanggar hukum[;katanya]. Salah satu contoh ketika terjadi penebangan kayu. Kasus penebangan tersebut yang digugat sampai kepengadilan bukan karena kayunya yang dicabut dari bumi sebagai kekayaan alam. Melainkan lebih kepada tindakan pencuriannya. Persoalan reboisasi tidak dibahas sebagai penjatuhan hukuman.
            Terlepas dari kasus hutan tersebut.  Sesuai peraturan Mentri Keuangan RI Nomor 08/PMK.07/2012 untuk dana bagi hasil migas 23 miliar. Sedang masyarakat di Sumenep sendiri selama ini hanya menikmati Pajak Bumi dan Bangunan(PBB) antara 6-8 miliar pertahun. Madura memiliki lebih dari 100 blok di sekeliling pulau Madura. Itu adalah suatu jumlah yang jarang dimiliki oleh pulau-pulau lain di nusantara ini. Sampai kemaren sempat lahir kicauan bahwa Madura bercita-cita menjadi provinsi sendiri. Kangean pun sempat terdengar isu ingin menjadi kabupaten.
            Dari kegamangan permasalahan di pulau garam tersebut. Pragmatis saja, Madura tidak kehilangan kejatiannya sebagai wilayah yang kaya. Termasuk kekayaan emas hitam(migas) yang terkandung di dalam perut bumi Madura. Kembali ke awal tulisan ini, jembatan Suramadu tidak menjadi bumerang dalam sektor perekonomian masyarakat Madura. Masyarakat Madura diharapkan tetap bersatu, tidak terjadi ketimpangan sosial, atau awal lahirnya kesenjangan sosial.
            Dalam hal ini empati saya terhadap pulau yang melahirkan dan membesarkan saya tetap hijau dan menjaga pelestarian lingkungan seperti sediakala. Karena bukan orang Sumatera yang bisa mempertahankan Madura, melainkan masyarakat Madura sendiri. Semoga !!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.