SURAMADU adalah jembatan yang menghubungkan antara Kota Surabaya dengan
Madura. Jembtan dengan panjang 5.438 meter itu resmi dibuka oleh Presiden RI
Susilo Bambang Yudoyono(SBY) pada tanggal 10 Jun 2009 lalu. Adanya Suramadu
secara tidak langsung menghapus nama Madura sebagai pulau. Madura telah menyatu
menjadi daratan Surabaya. Masuknya berbagai transportasi modern tidak bisa
dikontrol oleh masyarakat Madura. Namun saya tidak mau membahas tentang darat
atau pulaunya dari Madura.
Kapitalis
industrialisasi menyusup ke dalam tubuh masyarakat Madura. Tersebab Sumber Daya
Manusia(SDM) di Madura masih terbukti lemah. Kekayaan alam dan kebudayaan
secara perlahan terkikis entah kemana larinya. Akan sangat disayangkan bila
pemerintahnya belum memiliki rasa sayang terhadap pulau-pulau kecil lain di
Madura, ksusnya di daerah Suemenep yang paling banyak memiliki pulau. Germerlap
pembangunan sudah tampak dengan sebagai pembeda antara kepulauan dan daratan. Padahal
pulau seharusnya dipelihara dengan menjaga kelestarian lingkungannya.
Ironi memang bila
berbicara tentang sebuah kekayaan alam. Sebab ketika terjadi masalah bukan
masalah pelestariannya yang dijadikan gugatan kasus, melainkan lebih kepada
perilakunya yang melanggar hukum[;katanya]. Salah satu contoh ketika terjadi
penebangan kayu. Kasus penebangan tersebut yang digugat sampai kepengadilan
bukan karena kayunya yang dicabut dari bumi sebagai kekayaan alam. Melainkan
lebih kepada tindakan pencuriannya. Persoalan reboisasi tidak dibahas sebagai
penjatuhan hukuman.
Terlepas dari
kasus hutan tersebut. Sesuai peraturan
Mentri Keuangan RI Nomor 08/PMK.07/2012 untuk dana bagi hasil migas 23 miliar.
Sedang masyarakat di Sumenep sendiri selama ini hanya menikmati Pajak Bumi dan
Bangunan(PBB) antara 6-8 miliar pertahun. Madura memiliki lebih dari 100 blok
di sekeliling pulau Madura. Itu adalah suatu jumlah yang jarang dimiliki oleh
pulau-pulau lain di nusantara ini. Sampai kemaren sempat lahir kicauan bahwa
Madura bercita-cita menjadi provinsi sendiri. Kangean pun sempat terdengar isu
ingin menjadi kabupaten.
Dari kegamangan
permasalahan di pulau garam tersebut. Pragmatis saja, Madura tidak kehilangan
kejatiannya sebagai wilayah yang kaya. Termasuk kekayaan emas hitam(migas) yang
terkandung di dalam perut bumi Madura. Kembali ke awal tulisan ini, jembatan
Suramadu tidak menjadi bumerang dalam sektor perekonomian masyarakat Madura.
Masyarakat Madura diharapkan tetap bersatu, tidak terjadi ketimpangan sosial,
atau awal lahirnya kesenjangan sosial.
Dalam hal ini
empati saya terhadap pulau yang melahirkan dan membesarkan saya tetap hijau dan
menjaga pelestarian lingkungan seperti sediakala. Karena bukan orang Sumatera
yang bisa mempertahankan Madura, melainkan masyarakat Madura sendiri. Semoga !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.