Kamis, 07 Mei 2015

IRWAN Vs. LASKAR PELANGI SUMENEP ;PAK BUPATI PILIH MANA?



Pada tahun ini, Sumenep menerima lirikan mata dari kanca media di Indonesia. Yaitu melalui Irwan.Tentu memang ketenaran Irwan sudah tidak bisa diragukan oleh sebagian banyak masyarakat di Negeri ini, untuk pura-pura tidak tahu Irwan. Lewat senandung suaranya yang merdu, sudah menyulap banyak orang yang mendengarkan. Bukan hanya masyarakat Sumenep Madura, teman saya orang Makasar juga menyukai suara Irwan yang katanya sangat bagus. Tulisan ini tidak ada maksud untuk membandingkan Irwan atau mengkerdilkan kemampuan suara Irwan ketika bernyanyi dikanca musi dangdut Indonesia. Atau menyulut api pada hati penggemar Irwan di Indonesia, di Sumenep pada khususnya.
Berbicara kemampuan Irwan, bagi saya memang tidak bisa diragukan begitu saja. Sampai Irwan mendapat dukungan dari para petinggi Pemkab Sumenep. Mulai dari Bupati A. Busyro Karim, Ketua DPRD Herman Dali Kusuma. Seluruh ketua dari komisi di DPRD, serta beberapa pimpinan SKPD dan camat(dikutip dari web Madura terkini)1. Hal itu sudah menandakan bahwa Irwan memang sudah bagus, dan pantas untuk didukung.
Selanjutnya mengenai LASKAR PELANGI SUMENEP. Saya yakin, tidak akan banyak orang yang tahu mengenai nama itu. Maka saya coba perkenalkan sekarang kepada masyarakat Sumenep. Laskar Pelangi Sumenep itu adalah nama putera daerah yang terlantar di tanah Jogja. Mereka adalah anak-anak sumenep yang mendapat beasiswa penuh dari kerja sama antara Pemda dan Salah satu PT yang bergelut di dunia MIGAS. -Memorandum of Understandin-nya langsung ditanda tangani oleh Bapak Bupati Sumenep,  PT WUS Sumenep, PT Titis Sampurna, dan Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Saya katakana mereka terlantar, karena kenyataannya MOU yang dibuat sedemikian manis ternyata berupa empedu ketika mereka kini telan. Para penerima beasiswa itu sekarang sudah tidak mendapatkan uang jajan, uang asrama, fasilitas belajar, dll. Untungnya, mengenai perkuliahan masih ditanggulangi kampus untuk saat ini. Bukan berarti gratis. Seperti itulah bahasa miris saya.
Mengingat tentang perjalanan Laskar Pelangi sejak dari angkatan 2013 dan 2014, sama sekali tidak ada follow up yang baik dari Pemkab Sumenep. Meski yang paling bermasalah sebenarnya adalah Laskar Pelangi angkatan 2014. Ada dua angkatan, yang pertama angkatan 2013, dan yang kedua angkatan 2014. Padahal dalam kontrak perjanjiannya dengan PT Titis Sampurna, selaku yang membiayai beasiswa ini, pemberian beasiswa akan berlangsung selama lima tahun dan pertahun akan diambil sepuluh orang. Sayang, di Tahun 2015 sudah tersendat. Betapa bagusnya program kerja sama Bapak Bupati Sumenep kita. Namun kini sudah diterlantarkan.
Sekarang kita berkaca kepada bumi Sumenep sendiri, yang begitu kaya dengan sumber daya alam, tentu butuh yang namanya manusia kreativ untuk mengelolahnya. Dengan cara mencerdaskan mereka. Seperti yang disampaikan Bapak Bupati pada saat pelepasan penerima beasiswa ke UP45 Yogyakarta tahun 2014 lalu, yaitu diharapkan dari putera-puteri daerah Sumenep ini akan bisa mengelolah sumber daya yang ada di bumi Sumenep. “Karena bagi saya selaku penerima beasiswa ini sangat merasa sakit hati, bila Bapak Bupati sudah pilih kasih sama Irwan.” Begitulah keluhan anak-anak Laskar Pelangi yang hinggap ditelinga saya.
Saya merasa miris melihat nasib mereka yang terlantar di tanah Jogja, mengharap janji yang dibuat secara tertulis tapi tidak terpenuhkan kepada mereka. Aparat petinggi Pemkab tidak pernah melihat putera daerahnya ke Jogja, selama penderitaannya berlangsung. Sedang Irwan, jauh di Jakarta sana didukung dan menjadi sorotan hangat(politik) oleh kalangan Pemerintah. Andai antusiasme Pemerintah program beasiswa ini, dengan ketika Pemerintah meluangkan pulsa untuk mendukung irwan atau bahkan mereka menyempatkan hadir untuk mendukung Irwan, pastilah hati teman-teman Laskar Pelangi bahagia. Kenapa kok pendidikan malah dikesampingkan? Sekedar harapan yang tidak akan pernah pupus dari saya adalah, cuilkan sedikit uang APBD untuk pendidikan di Sumenep. Tersebab, mereka(Laskar Pelangi) yang kuliah di Kampus Migas bagi saya tidak akan kalah jika dibandingkan dengan Irwan kemampuannya yang hanya semata. Mereka memiliki potensi untuk memberi sumbangsi pembangunan berkelanjutan di Sumenep. Saya yakini hal itu. Suemenp juga, sebagaimana kita tahu dengan kekayaan Migasnya, maka saya rasa tepat dan tidak ada yang disalahkan jika Bapak Busyro Karim memberikan dukungan, dan menyelesaikan permasalahan mereka para penerima beasiswa.
Ironi memang ketika berbicara beasiswa. Pasti, ya namanya juga beasiswa. Akan tetapi, apakah tidak setidaknya Pemerintah memerhatikan pendidikan dibanding joget-joget dan nyanyi-nyanyi? Madura itu terkenal dengan Pesantren ke-Islamannya. Madura kental dengan kebudayaannya. Saya takut semua itu akan terkikis dengan adanya budaya baru yang namanya joget-joget. Kapitalisasi sudah terbungkus dengan beragam bentuk untuk menyemukan tubuh asin Madura.
Kesimpulan akhir dari saya, mengharapkan adanya kejelasan transparansi untuk sebuah bisnis dan untuk sebuah pembangunan. Dalam keduanya sama-sama mengandung yang namanya kepentingan politik. Maka menurut saya, bisinis dalam kategori kekuasaan tidak bermasalah, asal jangan sampai mengimbas ke wilayah pendidikannya. Sekali lagi, pendidikan lebih penting dari pada Joget-joget dan nyanyi-nyanyi. Siapa tidak bahagia bila mendengar Sumenep kaya dengan sumber daya alam dan sumeber daya manusianya? Sumenep bersih dari nepotisme, berbudaya, sekaligus terjaganya sebuah kearifan lokal. Semoga didengar.

CATATAN: 1. https://www.maduraterkini.com/berita-sumenep/bupati-dewan-kompak-dukung-irwan.html

Bio: Penulis adalah salah satu dari penerima beasiswa Sumenep. Email: lielawardhy@gmail.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.