Kamis, 14 Mei 2015

Ironinya Sebuah Perjanjian Manis




            Beasiswa. Semoga tidak terjadi kebosanan di hati pembaca bila mendengar celotehan sumbang anak Sumenep yang sering kami ceritakan. Satu kata yang sering sekali saya suguhkan kepada teman-teman pembaca, yaitu kata “Beasiswa Penuh Sumenep”. Entah sampai dimana kemanjaan kami terhadap masalah finansial itu akan tumbang? Masih dalam pertanyaan yang belum terjawab. Keluhan-keluhan selalu terlontar abadi, karena memang belum ada realisasi yang pasti. Janji tidak terbukti sering kali mencekam hati. Seperti itulah kira-kira redaksi bahasa yang perih.
            Pengharapan dengan segala asanya telah menelan beribu dimensi luka cita-cita, untuk Sumenep yang awalnya sangat dicinta. Biar tidak ada kesalah sangkahan dari pembaca, perlu kiranya tulisan ini diperjelas bahwa bertujuan untuk menagi isi surat perjanjian yang manis untuk Beasiswa Laskar Pelangi dan Super Mantap Sumenep1 kepada para pihak terkait. Khususnya Pemerintah Daerah Sumenep, yang dengan bijaknya turut serta menorehkan hitam di atas putih dari surat perjanjian yang mereka buat secara sepakat.
            Pastinya Beliau-Beliau yang memiliki kekuasaan dalam bidang ini, bukan tidak berfikir dalam menyepakati sebuah program yang notabenenya untuk kesejahteraan Sumenep. Untuk kontek itu pun, penulis sangat mengapresiasi sebesar-besarnya kepada Pemerintah dan Titis Sampurna. Bayangkan saja, sebuah perusahaan yang belum apa-apa di Kabupaten Sumenep, tapi sudah memberikan sebuah sumbangsih di sektor pendidikannya, yaitu melalui program beasiswa penuh untuk putera-puteri Sumenep yang ingin kuliah namun dalam kondisi tidak mampu (MISKIN). Mari, kita berkaca kepada banyak perusahaan Minyak dan Gas (MIGAS) yang lain, yang sudah lama mengeksploitasi kekayaan alam di Sumenep, Sumbangsih untuk pembangunan daerah masih belum terlihat secara maksimal. Perasaan penulis.
            Sependek pengetahuan saya mengenai hukum pemberdayaan sumber daya, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Hal demikian bisa dilihat dalam hukum agraria Indonesia. Untuk mengantisipasi kepincangan hukum yang bersifat kaku (Undang-undang tertulis), lagi-lagi hukum agraria sangat menerima terhadap pluralisme hukum. Artinya, antara hukum tertulis yang positif dan hukum tidak tertulis bisa menjadi acuan untuk hak ulayat masyarakat. Oh, begitu sempurnanya sistem hukum negara ini.
            Maka jika kita coba acukan terhadap pemaparan di atas, yaitu pengutamaan kesejahteraan lewat sumber daya alam, adalah kewajiban bagi pihak penguasa untuk menyalurkannya secara sempurna kepada masyarakat. Dalam hal ini pastinya saya akan mengambalikan sebuah persoalan yang urgen kepada pemangku kepentingan. Yang dimaksud, kira-kira adalah sumbangsih pemerintah terhadap pendidikan rakyatnya. Tersebab persoalan pendidikan bagi saya tetap menjadi suatu hal yang sangat penting atau urgen dan paling utama untuk tidak terkotori oleh kebodohan. Hal tersebut saya coba sedikit mengutip dari isi Pembukaan UUD 1945 Negara kita, yang katanya bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
            Kembali saya kepada pembahasan pokok, tentang beasiswa. Baru-baru ini tidak segan-segan isu mengerikan menimpa teman-teman Laskar Pelangi dan Super Mantap yang tengah menuntut pendidikan S1 di Yogyakarta. Mulai dari hendak diusirnya teman-teman puteri dari asrama mereka, lantaran tidak dibayar sejak beberapa dekade waktu ini sampai pada isu mau diusirnya mereka dari kampus UP45. Hal tersebut disampaikan oleh mintor beasiswa Sumenep di sini, pada saat peretemuan terakhir kemarin di kampus UP45. Poin penting yang perlu diketahui oleh anak beasiswa menganai tunggakan biaya kuliah ke kampus. Lantas, biaya tunggakan ke kampus memang sudah semakin besar. Kalimat pedih yang kami dengar adalah tentang ingin mengembalikannya Laskar Pelangi dan Laskar Super Mantap ke Sumenep, karena kampus merasa sudah tidak sanggup.
            Begitu sadis. Selintas saja di paragraf ini saya ingin mengajak pembaca merenungkan maslah ini. Mereka (Penerima Beasiswa), betapa akan menanggung malu jika benar harus dipulangkan ke kampung halaman mereka. Yang padahal jauh hari sebelumnya, tak segan-segan pemberitaan dan sambutan hangat beriring do’a dari para petinggi Sumenep menyuntikkan ribuan kalimat “selamat atas keberhasilannya” kepada mereka karena sudah lolos seleksi dari sekabupaten Sumenep yang hanya dipilih sepuluh orang untuk diberangkatkan ke Jogjakarta. Bagaimana cara mereka membelok sebuah kebahagiaan menjadi sebuah kesedihan? Bagaimana pula cara mereka menatap wajah supaya tidak malu di hadapan orang-orang di kampung halamannya? Yang katanya, orang Madura sangat memiliki rasa malu yang besar. Bagi saya jika benar semua terjadi, adalah pecundang bila sekawanan teman-teman beasiswa apatis.
            Lantas mereka diberi hak, mereka menjalankan semua kewajiban, tidak ada kesalahan yang menjadi garis merah di dalam buku penilaian. Bagi saya, mereka sama saja dengan dipermainkan. Semoga saja hal demikian salah prediksi dan berupa isu tidak pasti. Lantaran kami sangat tidak ingin semua terjadi. Tidak mungkin mereka menjadi Tuhan, mereka hanya akan berdoa dan berusaha sekuat-kuatnya. Biarlah Tuhan mengartikan kalimat-kalimat yang setiap waktu selalu terpanjat. Semoga pula Pemerintah tidak sengaja berpura-pura ambiguitas, antara kewajibannya sebagai pemerintah dan dilematika politik di Tahun 2015 ini. Lantaran, doa mereka akan tetap setia, bergeming dengan syahdu dari bibir ikhlas mereka.
            Yang terakhir, kami ingin meminta maaf kepada seluruh pembaca artikel ini. Maaf karena tulisan saya monoton pada pembahasan Beasiswa Sumenep. Maaf jika semua ini pula mengganjal perasaan para masyrakat yang masih berhati kanan/kepemirantahan. Karena kami tidak ingin hidup dalam sebuah tirani kekuasaan. Kami akan menempatkan diri dalam golongan marhaen. Kami hanya ingin menuntut hak, kami bisa kuliah karena kekayaan bumi Sumenep. Bumi yang kaya dengan berbagai sumber daya alam, termasuk titik-titik MIGAS yang terbukti banyak diminati perusahaan minyak.
            “Terima kasih Sumenep, bumimu mampu menghidupi geliat cita-cita kami. Semoga kelak kami  bisa membalasnya dengan pemberdayaan sumber daya bagi anak-anak mu. Sumenep, salam kami hanyalah untuk mu. Semoga...”
            TTD: Laskar Super Mantap Jogjakarta.

Notabene: 1. Laskar Super Mantap : Adalah nama yang diberikan oleh Bapak Bupati Sumenep kepada teman-teman beasiswa yang angkatan 2014.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.