Beasiswa.
Semoga tidak terjadi kebosanan di hati pembaca bila mendengar celotehan sumbang
anak Sumenep yang sering kami ceritakan. Satu kata yang sering sekali saya
suguhkan kepada teman-teman pembaca, yaitu kata “Beasiswa Penuh Sumenep”. Entah
sampai dimana kemanjaan kami terhadap masalah finansial itu akan tumbang? Masih
dalam pertanyaan yang belum terjawab. Keluhan-keluhan selalu terlontar abadi,
karena memang belum ada realisasi yang pasti. Janji tidak terbukti sering kali
mencekam hati. Seperti itulah kira-kira redaksi bahasa yang perih.
Pengharapan dengan segala asanya
telah menelan beribu dimensi luka cita-cita, untuk Sumenep yang awalnya sangat dicinta.
Biar tidak ada kesalah sangkahan dari pembaca, perlu kiranya tulisan ini
diperjelas bahwa bertujuan untuk menagi isi surat perjanjian yang manis untuk
Beasiswa Laskar Pelangi dan Super Mantap Sumenep1 kepada para pihak
terkait. Khususnya Pemerintah Daerah Sumenep, yang dengan bijaknya turut serta
menorehkan hitam di atas putih dari surat perjanjian yang mereka buat secara
sepakat.
Pastinya Beliau-Beliau yang memiliki
kekuasaan dalam bidang ini, bukan tidak berfikir dalam menyepakati sebuah
program yang notabenenya untuk kesejahteraan Sumenep. Untuk kontek itu pun,
penulis sangat mengapresiasi sebesar-besarnya kepada Pemerintah dan Titis
Sampurna. Bayangkan saja, sebuah perusahaan yang belum apa-apa di Kabupaten
Sumenep, tapi sudah memberikan sebuah sumbangsih di sektor pendidikannya, yaitu
melalui program beasiswa penuh untuk putera-puteri Sumenep yang ingin kuliah
namun dalam kondisi tidak mampu (MISKIN). Mari, kita berkaca kepada banyak
perusahaan Minyak dan Gas (MIGAS) yang lain, yang sudah lama mengeksploitasi
kekayaan alam di Sumenep, Sumbangsih untuk pembangunan daerah masih belum
terlihat secara maksimal. Perasaan penulis.
Sependek pengetahuan saya mengenai
hukum pemberdayaan sumber daya, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk
kesejahteraan rakyat. Hal demikian bisa dilihat dalam hukum agraria Indonesia.
Untuk mengantisipasi kepincangan hukum yang bersifat kaku (Undang-undang
tertulis), lagi-lagi hukum agraria sangat menerima terhadap pluralisme hukum.
Artinya, antara hukum tertulis yang positif dan hukum tidak tertulis bisa
menjadi acuan untuk hak ulayat masyarakat. Oh, begitu sempurnanya sistem hukum negara
ini.
Maka jika kita coba acukan terhadap
pemaparan di atas, yaitu pengutamaan kesejahteraan lewat sumber daya alam,
adalah kewajiban bagi pihak penguasa untuk menyalurkannya secara sempurna
kepada masyarakat. Dalam hal ini pastinya saya akan mengambalikan sebuah
persoalan yang urgen kepada pemangku kepentingan. Yang dimaksud, kira-kira
adalah sumbangsih pemerintah terhadap pendidikan rakyatnya. Tersebab persoalan
pendidikan bagi saya tetap menjadi suatu hal yang sangat penting atau urgen dan
paling utama untuk tidak terkotori oleh kebodohan. Hal tersebut saya coba
sedikit mengutip dari isi Pembukaan UUD 1945 Negara kita, yang katanya
bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kembali saya kepada pembahasan
pokok, tentang beasiswa. Baru-baru ini tidak segan-segan isu mengerikan menimpa
teman-teman Laskar Pelangi dan Super Mantap yang tengah menuntut pendidikan S1
di Yogyakarta. Mulai dari hendak diusirnya teman-teman puteri dari asrama
mereka, lantaran tidak dibayar sejak beberapa dekade waktu ini sampai pada isu
mau diusirnya mereka dari kampus UP45. Hal tersebut disampaikan oleh mintor
beasiswa Sumenep di sini, pada saat peretemuan terakhir kemarin di kampus UP45.
Poin penting yang perlu diketahui oleh anak beasiswa menganai tunggakan biaya
kuliah ke kampus. Lantas, biaya tunggakan ke kampus memang sudah semakin besar.
Kalimat pedih yang kami dengar adalah tentang ingin mengembalikannya Laskar
Pelangi dan Laskar Super Mantap ke Sumenep, karena kampus merasa sudah tidak
sanggup.
Begitu sadis. Selintas saja di
paragraf ini saya ingin mengajak pembaca merenungkan maslah ini. Mereka
(Penerima Beasiswa), betapa akan menanggung malu jika benar harus dipulangkan
ke kampung halaman mereka. Yang padahal jauh hari sebelumnya, tak segan-segan
pemberitaan dan sambutan hangat beriring do’a dari para petinggi Sumenep menyuntikkan
ribuan kalimat “selamat atas keberhasilannya” kepada mereka karena sudah lolos
seleksi dari sekabupaten Sumenep yang hanya dipilih sepuluh orang untuk
diberangkatkan ke Jogjakarta. Bagaimana cara mereka membelok sebuah kebahagiaan
menjadi sebuah kesedihan? Bagaimana pula cara mereka menatap wajah supaya tidak
malu di hadapan orang-orang di kampung halamannya? Yang katanya, orang Madura
sangat memiliki rasa malu yang besar. Bagi saya jika benar semua terjadi,
adalah pecundang bila sekawanan teman-teman beasiswa apatis.
Lantas mereka diberi hak, mereka
menjalankan semua kewajiban, tidak ada kesalahan yang menjadi garis merah di
dalam buku penilaian. Bagi saya, mereka sama saja dengan dipermainkan. Semoga
saja hal demikian salah prediksi dan berupa isu tidak pasti. Lantaran kami
sangat tidak ingin semua terjadi. Tidak mungkin mereka menjadi Tuhan, mereka
hanya akan berdoa dan berusaha sekuat-kuatnya. Biarlah Tuhan mengartikan
kalimat-kalimat yang setiap waktu selalu terpanjat. Semoga pula Pemerintah
tidak sengaja berpura-pura ambiguitas, antara kewajibannya sebagai pemerintah
dan dilematika politik di Tahun 2015 ini. Lantaran, doa mereka akan tetap setia,
bergeming dengan syahdu dari bibir ikhlas mereka.
Yang terakhir, kami ingin meminta
maaf kepada seluruh pembaca artikel ini. Maaf karena tulisan saya monoton pada
pembahasan Beasiswa Sumenep. Maaf jika semua ini pula mengganjal perasaan para
masyrakat yang masih berhati kanan/kepemirantahan. Karena kami tidak ingin
hidup dalam sebuah tirani kekuasaan. Kami akan menempatkan diri dalam golongan
marhaen. Kami hanya ingin menuntut hak, kami bisa kuliah karena kekayaan bumi
Sumenep. Bumi yang kaya dengan berbagai sumber daya alam, termasuk titik-titik
MIGAS yang terbukti banyak diminati perusahaan minyak.
“Terima kasih Sumenep, bumimu mampu
menghidupi geliat cita-cita kami. Semoga kelak kami bisa membalasnya dengan pemberdayaan sumber
daya bagi anak-anak mu. Sumenep, salam kami hanyalah untuk mu. Semoga...”
TTD: Laskar Super Mantap Jogjakarta.
Notabene:
1. Laskar Super Mantap : Adalah nama yang diberikan oleh Bapak Bupati Sumenep
kepada teman-teman beasiswa yang angkatan 2014.a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.