Sabtu, 20 Januari 2018

Dan kali kesekian laut di matamu berdarah. Pada suatu senja aku menampung perahu dari segala arah. Seumpama perasaan hujan tak terhitung lagi jeda kepada pasir yang menjadikannya berulang bimbang. Ternyata dadaku tak sebidang yang aku bilang. Seperti halnya banyak lelaki, aku bisa saja melepaskan sebelum napas mampu kuuraikan. Dengan membaca tempat terindah yang ditimpakan kenangan.


Malam itu, jemariku menjadi sebilah diam. Antara lalu-lalang bus antar kota yang menyampaikan salam, rinduku bertubi menyebutmu dalam remang. Semoga kepergianku bukan satu-satunya tangis yang terus kaupelajari. Tetaplah bersama lampu-lampu itu. Yang menyala meski terbiar.


Sebab aku mencintaimu hingga berita malam sampai sepenuh kekuatan. Dan apa-apa yang kuingat nyaris membuat gila.


-Wardi-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.