Dalam tubuhku seperti ada biji asam yang menyemai. Semakin hari semakin tumbuh besar. Akar-akarnya menggerogoti seluruh isi perut. Kepalaku dipenuhi dengan rerimbun rantingnya. Perasa di lidahku kecut mengunyah apa saja yang masuk ke dalam mulut. Sudah satu minggu aku tidak menelan makanan. Aku sakit entah penyakit apa namanya. Hampir semua rumah sakit, dari yang ada di kecamatan sampai yang ada di kabupaten sudah aku kunjungi. Dan rasanya tak ada obat dokter yang mampu mengobati atau mampu menyembuhkan sakitku. Ini mungkin akibat berrit yang beberapa waktu lalu Emak bilang di dekat makam bajang ...
***
Matahari sudah sepenggala. Embun
yang menyungkupi pucuk dedaunan mulai beterbangan. Suasana pagi seperti
dipenuhi kepul asap berkabut karena embun. Emak masih menyibukkan diri dengan
barang-barang dapur. Seperti biasa, hari ini Bapak sedang menggarap sawah.
Bapak menyambut datangnya musim penghujan dengan membajak sawah untuk persiapan
penyemaian bibit padi. “Sebelum gabah ditabur, sawah ini harus dipersiapkan
dengan matang. Membajakknya pun harus benar-benar teliti,” ucap Bapak sembari
mencambuk bokong sapi betinanya.
Suasana pagi yang serba sibuk.
Setelah tadi aku membantu Bapak menuntun sapi ke sawah, kini aku disuruh pulang
untuk mengambil gabah kering—bibit padi, ke rumah. Jalan ke rumah memang tidak
terlalu jauh, kira-kira hanya membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit
dengan jalan kaki. Hanya saja sepanjang perjalanan ke rumah, banyak rerimbun
pohon. Kuburan-kuburan. Pohon beringin yang besar. Enak untuk dinikmati.
Pada rerimbun pohon yang menaungi
jalan itulah terdapat sebuah makam kecil yang ukurannya sejengkal rentangan
jari orang dewasa. Makam bajang namanya. Makam bajang itu terdiri dari tiga
makam yang berdempetan. Makam bajang yang ukurannya antara ujung ibu jari
tangan ke ujung kelingking itulah yang dipercayai oleh masyarakat Madura
sebagai tempat yang berrit.
Tak terasa aku sudah sampai di
halaman rumah. Tampak Emak sudah siap dengan hasil masakannya yang sedari tadi
pagi-pagi sekali. Masakan itu akan dikirim ke sawah, buat kita makan
bersama—aku, Bapak, dan Emak. Namun tujuanku sebenarnya bukan makanan itu, tapi
bakal makanan yang masih berbentuk gabah dan masih akan disemai sehingga kelak
menjadi padi, kemudia menjadi beras yang akan dimakan bersama-sama.
Gabah yang hanya satu ember itu
rasanya tidak mungkin aku yang membawa. Terlalu ringan untuk seorang lelaki
seperti aku. Aku mengalihkan keinginan untuk membawa barang bawaan yang akan
dibawa Emak. Aku akan membawa nasi, kopi, air minum dan semua sesuatu yang akan
menjadi bahan makanan di sawah. Biarlah Emak hanya membawa sesuatu yang lebih
ringan dari aku. Biarlah yang agak menyusahkan bawaannya itu aku yang melakukan.
Aku dan Emak berjalan menyusuri
jalan yang sama, yang tadi aku juga lalui. Di perjalanan yang penuh dengan
naung pohon beringin, kuburan, dan tak lupa makam bajang yang berrit itu, aku
berjalan dengan Emak. Tapi sayang, aku tidak begitu percaya dengan angker atau kata
berrit sebagaimana yang penduduk desa yakini.
“War, kamu nanti saat melintas di
makam bajang itu, lemparkan sedikit makanan yang kamu bawa itu ya?” Sambil
menunjukkan telunjuknya ke arah makam bajang di depan, Emak menyuruhku hal-hal
yang aku tidak percayai.
“Iya Mak,” kataku yang berjalan agak
jauh di belakang Emak. Sebenarnya memang niat dalam hati tidak akan melempar
secuil makanan yang aku bawa ke makam bajang itu. Sekali lagi aku orang yang
kurang percaya terhadap sesuatu yang orang kebanyakan bilang—berrit.
Semenjak kecil, hingga sekarang aku
dewasa, aku selalu dikenalkan dengan sesuatu yang mistis. Termasuk berritnya
makam bajang. Katanya kalau setiap orang yang melintas di makam bajang itu,
jika membawa makanan lalu tidak mencuilkan sedikit makanan yang dibawa, penghuni
makam bajang akan membututi dan akan mengganggu orang tersebut. Berlaku juga
bagi mereka yang hanya melintas tanpa membawa makanan. Jika mereka tidak
membawa makanan, maka hendaklah meludah tiga kali, agar melepas ruh-ruh jahat
yang berusaha menguasai tubuh orang yang melintas di situ, katanya.
Ketidak percayaan sekaligus
keinginanku untuk membuktikan kebenaran kata-kata masyarakat akan dimulai dari
sekarang. Setelah Emak tadi menyuruhku memberi makan pada penghuni makam
bajang, aku tidak melakukannya, biarlah aku buktikan kebenarannya. Tapi
kekhawatiran Emak masih tersisa sampai aku tiba di sawah. Emak meyakinkan
apakah aku tadi membuang sedikit makannya pada makam bajang. Aku dengan
entengnya pun mengangguk polos, seakan aku sungguh-sungguh melakukan apa yang
disuruh Emak.
***
Sepulang dari sawah, malam harinya,
badanku langsung meriang. Kadang aku kedinginan, tapi badanku berkeringat. Atau
aku kepanasan tapi kaki dan badanku dingin. Aku tidak tahu penyakit apa namanya
ini. Aku hampir tidak sadar apa saja yang menjadi aktivitas dalam keluarga.
Hanya yang jelas, Bapak dan Emak terlihat melakukan kesibukan. Beberapa ramuan
herbal buatan Emak, aku teguk. Hanya air yang bisa aku makan selama malam itu.
Makanan yang lain serasa kecut rasanya.
Sampai esok harinya, aku semakin
parah. Orangtua melarikan aku ke puskesmas terdekat di kecamatan. Dokter di
puskesmas kebingungan dengan penyakit yang bersarang di tubuhku. Aku pun
disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit Mohammad Anwar Sumenep. Hanya saja
Bapak tidak mengikuti saran dokter di puskesmas. Aku di bawa pulang lagi ke
rumah. Beberapa hari, beberapa malam Bapak mengundang para kiai di desaku untuk
mengaji. Aku hanya terbaring lemah. Keringat terus landai, tapi tangan tak
pernah mampu untuk menyeka.
Empat hari aku diobati dengan
ayat-ayat, tapi tak ada perubahan juga. Bapak merubah pendiriannya untuk
membawaku ke rumah sakit Mohammad Anwar di Kabupaten Sumenep. Di rumah sakit
yang cukup besar itu pun, ternyata tidak sanggup untuk mengobati penyakitku.
Kembali aku disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit yang ada di Surabaya. Itu
adalah ketidak mungkinan. Keluargaku orang yang tidak punya. Penghasilan yang
hanya didapat dari bertani dan sesekali orangtua yang menguli, tidak akan cukup
untuk membiayai pengobatanku hingga ke Surabaya.
Sungguh aku merasakan sakit yang
luar biasa. Dalam tubuhku seperti ada biji asam yang menyemai. Semakin hari
semakin tumbuh besar. Akar-akarnya menggerogoti seluruh isi perut. Kepalaku
dipenuhi dengan rerimbun rantingnya. Perasa di lidahku kecut mengunyah apa saja
yang masuk ke dalam mulut. Sudah satu minggu aku tidak menelan makanan. Aku
sakit entah penyakit apa namanya. Hampir semua rumah sakit, dari yang ada di
kecamatan sampai yang ada di kabupaten sudah aku kunjungi. Dan rasanya tak ada
obat dokter yang mampu mengobati atau mampu menyembuhkan sakitku. Ini mungkin
akibat berrit yang beberapa waktu lalu Emak bilang di dekat makam bajang
padaku. Dan aku yang menantang kemistisannya pun, kini merasakan sungguh akibat
dari berrit.
Aku ingin menyampaikan apa yang
hampir tersadar oleh batin kepada Bapak namun, lidahku keluh. Aku tak mampu
menyampaikan sekata dua kepada Bapak. Untung, sepulang dari rumah sakit
Mohammad Anwar, Bapak langsung menemui salah seorang kiai ternama di desa
sebelah.
Dari ramalan kiai itulah, aku
divonis terjangkit penyakit akibat makam bajang. “Sebenarnya ada ruh jahat yang
merasuki tubuh anak sampeyan Pak Bukir. Maka coba sampeyan rokat itu makam
bajang yang menuju sawah sampeyan. Perbaiki makam itu, kemudian bacakan Surah
Yasin empat puluh empat kali,” ucap Kiai Husen kepada Bapak yang sudah hampir
kehabisan cara untuk pengobatan sakitku.
Apa yang disarankan Kiai Husen pun
langsung Bapak laksanakan. Selesai mengundang beberapa tetangga untuk mengaji
Surah Yasin sebanyak empat puluh empat kali, dan memperbaiki serta merawat
makam bajang itu, aku mulai mendingan. Satu hari setelah ritual dilakukan di
makam bajang oleh Bapak, berkat pertolongan Allah SWT aku sembuh. Mulai itu aku
belajar, bahwa penyakit bukan sebuah pilihan. Sakit adalah sebuah kenikmatan
yang perlu kita syukuri, dengan cara mengingat-Nya kembali.
Makam bajang yang dipercayai
masyarakat di desaku karena keangkerrannya adalah suatu kontrol bagi para
penduduk untuk menghargai para moyang. Makam bajang adalah makam para leluhur
yang tertinggal dan dibiarkan tidak terawat, sehingga identitasnya pun tidak
diketahui. Kita bukan lahir dari batu, atau terjatuh dari langit, melainkan
melalui para rahim itulah Tuhan menghendaki kita berada di dunia ini.
Catatan:
*)
Berrit: Kepercayaan masyarakat pedesaan di Madura, pada tempat yang dapat
membuat orang sakit. Berpenghuni makhluk halus. Tempat angker. Mistis.

saya selalu menikmati tulisanmu...
BalasHapusTerima kasih,Mas.
BalasHapus