Minggu, 15 Mei 2016

BERRIT*





            Dalam tubuhku seperti ada biji asam yang menyemai. Semakin hari semakin tumbuh besar. Akar-akarnya menggerogoti seluruh isi perut. Kepalaku dipenuhi dengan rerimbun rantingnya. Perasa di lidahku kecut mengunyah apa saja yang masuk ke dalam mulut. Sudah satu minggu aku tidak menelan makanan. Aku sakit entah penyakit apa namanya. Hampir semua rumah sakit, dari yang ada di kecamatan sampai yang ada di kabupaten sudah aku kunjungi. Dan rasanya tak ada obat dokter yang mampu mengobati atau mampu menyembuhkan sakitku. Ini mungkin akibat berrit yang beberapa waktu lalu Emak bilang di dekat makam bajang ...

***
            Matahari sudah sepenggala. Embun yang menyungkupi pucuk dedaunan mulai beterbangan. Suasana pagi seperti dipenuhi kepul asap berkabut karena embun. Emak masih menyibukkan diri dengan barang-barang dapur. Seperti biasa, hari ini Bapak sedang menggarap sawah. Bapak menyambut datangnya musim penghujan dengan membajak sawah untuk persiapan penyemaian bibit padi. “Sebelum gabah ditabur, sawah ini harus dipersiapkan dengan matang. Membajakknya pun harus benar-benar teliti,” ucap Bapak sembari mencambuk bokong sapi betinanya.
            Suasana pagi yang serba sibuk. Setelah tadi aku membantu Bapak menuntun sapi ke sawah, kini aku disuruh pulang untuk mengambil gabah kering—bibit padi, ke rumah. Jalan ke rumah memang tidak terlalu jauh, kira-kira hanya membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit dengan jalan kaki. Hanya saja sepanjang perjalanan ke rumah, banyak rerimbun pohon. Kuburan-kuburan. Pohon beringin yang besar. Enak untuk dinikmati.
            Pada rerimbun pohon yang menaungi jalan itulah terdapat sebuah makam kecil yang ukurannya sejengkal rentangan jari orang dewasa. Makam bajang namanya. Makam bajang itu terdiri dari tiga makam yang berdempetan. Makam bajang yang ukurannya antara ujung ibu jari tangan ke ujung kelingking itulah yang dipercayai oleh masyarakat Madura sebagai tempat yang berrit.
            Tak terasa aku sudah sampai di halaman rumah. Tampak Emak sudah siap dengan hasil masakannya yang sedari tadi pagi-pagi sekali. Masakan itu akan dikirim ke sawah, buat kita makan bersama—aku, Bapak, dan Emak. Namun tujuanku sebenarnya bukan makanan itu, tapi bakal makanan yang masih berbentuk gabah dan masih akan disemai sehingga kelak menjadi padi, kemudia menjadi beras yang akan dimakan bersama-sama.
            Gabah yang hanya satu ember itu rasanya tidak mungkin aku yang membawa. Terlalu ringan untuk seorang lelaki seperti aku. Aku mengalihkan keinginan untuk membawa barang bawaan yang akan dibawa Emak. Aku akan membawa nasi, kopi, air minum dan semua sesuatu yang akan menjadi bahan makanan di sawah. Biarlah Emak hanya membawa sesuatu yang lebih ringan dari aku. Biarlah yang agak menyusahkan bawaannya itu aku  yang melakukan.
            Aku dan Emak berjalan menyusuri jalan yang sama, yang tadi aku juga lalui. Di perjalanan yang penuh dengan naung pohon beringin, kuburan, dan tak lupa makam bajang yang berrit itu, aku berjalan dengan Emak. Tapi sayang, aku tidak begitu percaya dengan angker atau kata berrit sebagaimana yang penduduk desa yakini.
            “War, kamu nanti saat melintas di makam bajang itu, lemparkan sedikit makanan yang kamu bawa itu ya?” Sambil menunjukkan telunjuknya ke arah makam bajang di depan, Emak menyuruhku hal-hal yang aku tidak percayai.
            “Iya Mak,” kataku yang berjalan agak jauh di belakang Emak. Sebenarnya memang niat dalam hati tidak akan melempar secuil makanan yang aku bawa ke makam bajang itu. Sekali lagi aku orang yang kurang percaya terhadap sesuatu yang orang kebanyakan bilang—berrit.
            Semenjak kecil, hingga sekarang aku dewasa, aku selalu dikenalkan dengan sesuatu yang mistis. Termasuk berritnya makam bajang. Katanya kalau setiap orang yang melintas di makam bajang itu, jika membawa makanan lalu tidak mencuilkan sedikit makanan yang dibawa, penghuni makam bajang akan membututi dan akan mengganggu orang tersebut. Berlaku juga bagi mereka yang hanya melintas tanpa membawa makanan. Jika mereka tidak membawa makanan, maka hendaklah meludah tiga kali, agar melepas ruh-ruh jahat yang berusaha menguasai tubuh orang yang melintas di situ, katanya.
            Ketidak percayaan sekaligus keinginanku untuk membuktikan kebenaran kata-kata masyarakat akan dimulai dari sekarang. Setelah Emak tadi menyuruhku memberi makan pada penghuni makam bajang, aku tidak melakukannya, biarlah aku buktikan kebenarannya. Tapi kekhawatiran Emak masih tersisa sampai aku tiba di sawah. Emak meyakinkan apakah aku tadi membuang sedikit makannya pada makam bajang. Aku dengan entengnya pun mengangguk polos, seakan aku sungguh-sungguh melakukan apa yang disuruh Emak.
***
            Sepulang dari sawah, malam harinya, badanku langsung meriang. Kadang aku kedinginan, tapi badanku berkeringat. Atau aku kepanasan tapi kaki dan badanku dingin. Aku tidak tahu penyakit apa namanya ini. Aku hampir tidak sadar apa saja yang menjadi aktivitas dalam keluarga. Hanya yang jelas, Bapak dan Emak terlihat melakukan kesibukan. Beberapa ramuan herbal buatan Emak, aku teguk. Hanya air yang bisa aku makan selama malam itu. Makanan yang lain serasa kecut rasanya.
            Sampai esok harinya, aku semakin parah. Orangtua melarikan aku ke puskesmas terdekat di kecamatan. Dokter di puskesmas kebingungan dengan penyakit yang bersarang di tubuhku. Aku pun disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit Mohammad Anwar Sumenep. Hanya saja Bapak tidak mengikuti saran dokter di puskesmas. Aku di bawa pulang lagi ke rumah. Beberapa hari, beberapa malam Bapak mengundang para kiai di desaku untuk mengaji. Aku hanya terbaring lemah. Keringat terus landai, tapi tangan tak pernah mampu untuk menyeka.
            Empat hari aku diobati dengan ayat-ayat, tapi tak ada perubahan juga. Bapak merubah pendiriannya untuk membawaku ke rumah sakit Mohammad Anwar di Kabupaten Sumenep. Di rumah sakit yang cukup besar itu pun, ternyata tidak sanggup untuk mengobati penyakitku. Kembali aku disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit yang ada di Surabaya. Itu adalah ketidak mungkinan. Keluargaku orang yang tidak punya. Penghasilan yang hanya didapat dari bertani dan sesekali orangtua yang menguli, tidak akan cukup untuk membiayai pengobatanku hingga ke Surabaya.
            Sungguh aku merasakan sakit yang luar biasa. Dalam tubuhku seperti ada biji asam yang menyemai. Semakin hari semakin tumbuh besar. Akar-akarnya menggerogoti seluruh isi perut. Kepalaku dipenuhi dengan rerimbun rantingnya. Perasa di lidahku kecut mengunyah apa saja yang masuk ke dalam mulut. Sudah satu minggu aku tidak menelan makanan. Aku sakit entah penyakit apa namanya. Hampir semua rumah sakit, dari yang ada di kecamatan sampai yang ada di kabupaten sudah aku kunjungi. Dan rasanya tak ada obat dokter yang mampu mengobati atau mampu menyembuhkan sakitku. Ini mungkin akibat berrit yang beberapa waktu lalu Emak bilang di dekat makam bajang padaku. Dan aku yang menantang kemistisannya pun, kini merasakan sungguh akibat dari berrit.
            Aku ingin menyampaikan apa yang hampir tersadar oleh batin kepada Bapak namun, lidahku keluh. Aku tak mampu menyampaikan sekata dua kepada Bapak. Untung, sepulang dari rumah sakit Mohammad Anwar, Bapak langsung menemui salah seorang kiai ternama di desa sebelah.
            Dari ramalan kiai itulah, aku divonis terjangkit penyakit akibat makam bajang. “Sebenarnya ada ruh jahat yang merasuki tubuh anak sampeyan Pak Bukir. Maka coba sampeyan rokat itu makam bajang yang menuju sawah sampeyan. Perbaiki makam itu, kemudian bacakan Surah Yasin empat puluh empat kali,” ucap Kiai Husen kepada Bapak yang sudah hampir kehabisan cara untuk pengobatan sakitku.
            Apa yang disarankan Kiai Husen pun langsung Bapak laksanakan. Selesai mengundang beberapa tetangga untuk mengaji Surah Yasin sebanyak empat puluh empat kali, dan memperbaiki serta merawat makam bajang itu, aku mulai mendingan. Satu hari setelah ritual dilakukan di makam bajang oleh Bapak, berkat pertolongan Allah SWT aku sembuh. Mulai itu aku belajar, bahwa penyakit bukan sebuah pilihan. Sakit adalah sebuah kenikmatan yang perlu kita syukuri, dengan cara mengingat-Nya kembali.
            Makam bajang yang dipercayai masyarakat di desaku karena keangkerrannya adalah suatu kontrol bagi para penduduk untuk menghargai para moyang. Makam bajang adalah makam para leluhur yang tertinggal dan dibiarkan tidak terawat, sehingga identitasnya pun tidak diketahui. Kita bukan lahir dari batu, atau terjatuh dari langit, melainkan melalui para rahim itulah Tuhan menghendaki kita berada di dunia ini.
Catatan:
*) Berrit: Kepercayaan masyarakat pedesaan di Madura, pada tempat yang dapat membuat orang sakit. Berpenghuni makhluk halus. Tempat angker. Mistis.

2 komentar:

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.