Minggu, 15 Mei 2016

Menghormati Guru Bagian dari Thalabul Ilmi



            Berbicara tentang guru tentu membutuhkan banyak waktu untuk disita, agar mencapai titik finis. Hal demikian karena berangkat dari betapa mulianya seorang guru. Hanya saja kemulian itu sekarang sudah mulai terkikis dari kalangan pelajar sendiri. Bisa kita lihat, misalnya dari sekian banyak generasi terpelajar, akhir-akhir ini, kerap melaporkan gurunya kepada yang berwenang hanya karena dijewer. Bukan hanya itu saja, kurangnya memuliakan guru dari generasi pelajar, dewasa ini sangat memprihatinkan. Lalu kenapa guru harus dimuliakan?
            Bagi para generasi, guru seharusnya jangan hanya ditempatkan sebagai sosok manusia yang tidak ada bedanya dengan kita. Dalam artian, guru tidak memiliki nilai panutan baik sama sekali. Guru lebih dari itu. Guru adalah pendidik bathin. Gurulah yang memperkenalkan pengetahuan bagaimana seharusnya hubungan antara hamba dengan Tuhannya, hubungan antar sesama manusia, juga hubungan manusia dengan alam. Tiga poin tersebut sarat maknanya, yang dimiliki oleh seorang guru.

            Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan orang yang melahirkan kita—kedua orangtua. Karena orangtua adalah guru pertama dan guru adalah orangtua pertama. Berangkat dari itulah, antara orang yang melahirkan kita dan yang mendidik kita selama mengenyam pendidikan di bawah naungan instansi pendidikan tidak dapat terpisahkan. Dalam persoalan tersebut, maka harus bagi kalangan terpelajar untuk memposisikan guru tidak saja ketika dalam proses belajar—kelas, tapi sepanjang hayatnya.


Kunci Membangun Generasi Bangsa
            Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Manusia yang posisinya sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan yang lain, maka tidak bisa diganjal lagi bahwa membangun manusia harus menjadi yang paling prioritas guna melahirkan sebuah bangsa yang memiliki kemampuan untuk menyempurnakan tatanan dunia—bukan merusak alam.
            Seperti yang diulas di awal, bahwa antara guru dan orangtua, dalam hal ini keluarga, adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Salah satu dasar yang menjadi awal dari kehancuran peradaban umat, adalah dengan hancurnya sebuah tatanan keluarga. Kehancuran sebuah keluarga dalam mendidik generasi-generasi yang bermoral dan berintlektual adalah sesuatu yang jangan sampai terjadi. Karena dengan mengikis peran orangtua dalam keluarga akan menjadi titik penting berhentinya aliran nilai-nilai luhur bagi para generasi.
            Selanjutnya adalah hancurnya pendidikan. Dengan cara menghancurkan pendidikan, maka juga akan menghancurkan generasi bangsa. Tidak perlu kita membayangkan bagaimana jika sebuah bangsa tanpa generasi yang bermoral dan berintlektual (baca: intlektual), pastilah hanya tinggal menunggu detik-detik hancuran dari bangsa tersebut. Dari pendidikan inilah peran seorang guru harus benar-benar dioptimalkan. Guru tidak boleh hanya menjadi sosok pesuruh (baca: pekerja) yang jika diberi gaji baru semangat ngajarnya. Guru harus menjadi sosok pengabdi, yang mengesampingkan soal nominal, mengedepankan kecerdesan bangsa. Dengan cara seperti itu akan lebih tegak sebuah kata-kata yang sudah cukup terkenal dari Bapak Pendidikan Nasional—Ki Hajar Dewantara, “Guru adalah seorang pejuang, tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan kehidupan bangsa.”
            Hanya saja sangat disayangkan ketika melihat banyak para guru yang justru menyimpang dari  gelar pahlawannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena guru merupakan sebuah kunci berkembang tidaknya sebuah bangsa, maka perlu ditegaskan lagi bahwa guru saat ini jangan sampai menjadi penyimak dari tangis-tangis bangsa akibat dijewer sebuah fakta stagnasi. Bangsa kita tidak boleh tertinggal satu langkah saja dari bangsa lain dalam soal pendidikan, karena mengejarnya butuh jutaan generasi yang harus menjadi tua dulu.

Patutnya Guru dan Murid
            Pandangan antara guru dan murid yang erat kaitannya dengan persoalan ilmu ini, kita tidak boleh memandang sebelah mata. Keduanya adalah kopi yang memiliki rasa pahit dan manis. Sepandai apa pun membuat rasa manis, kopi tetaplah kopi, ia tidak bisa disamakan dengan air tebu. Begitu pula dengan seorang murid, meski seorang murid telah memiliki keluasan ilmu, ia tetap harus menjaga sikap tawadhu’ (rendah hati) dan menjauhi sikap sombong terhadap gurunya. Mengingat keluasan ilmu seorang murid tidak akan diperoleh, jika para guru dari waktu kecil hingga waktu besar (baca: dewasa) tidak meletakkan dasar pengetahuan—para gurulah yang meletakkannya.
            Dari setumpuk nilai mulia yang disandangkan pada seorang guru tersebut, jangan sampai diperkosa dengan hal-hal yang tidak baik. Guru harus mempunyai dua cermin sebagai pendidik: satu cermin untuk melihat bagaimana muridnya harus menjadi sukses, dan cermin yang satunya lagi untuk melihat layak tidaknya moral yang dimilikinya sebagai guru. Artinya, kemulian itu jangan sampai dijadikan tabir penghalang atau lampu pijar di mata masyarakat bahwa dirinya adalah seorang guru yang patut menggurui. Guru adalah murid yang menerima karunia untuk mengamlkan ilmunya. Dari karunia itu akan menjadi nista jika dalam implementasi keilmuannya sangat jauh dari kata baik sebagai seorang pendidik.
            Maka sebagaimana disebutkan di awal-awal tulisan ini bahawa guru adalah orangtua pertama dan orangtua adalah guru pertama; maka orangtua sebagai guru pertama dalam generasi bangsa ini harus menempatkan dirinya sebagaimana benarnya. Benar jika menghargai para guru yang sudah mendidik anaknya. Atau benar jika membantu memilihkan guru yang baik untuk pendidikan anaknya.
            Orangtua murid adalah sosok utama yang secara empiris keilmuannya tidak boleh diragukan. Menjadi orangtua yang kurang baik, pasti harapannya pada anaknya harus lebih baik darinya. Menjadi orangtua yang baik, anaknya harus lebih baik lagi darinya. Seperti itulah kata-kata orangtua saya yang selalu diwanti-wanti kepada saya. Sebagai sosok paling banyak menelan asam garam kehidupan dalam keluarga, tidak salah jika keharmonisan antara si anak dan sang guru betul-betul dijaganya. Selain mengingat mereka adalah manusia yang masih membutuhkan kontrol secara sosial dari orang lain, pentinglah kiranya kehormanisan tersebut diperkuat secara bathiniah pula.
            Terakhir, marilah kita tanamkan nilai-nilai toleran untuk menjaga keutuhan Bhinneka Tunggal Ika yang menghargai ragam perbedaan. Orangtua, guru, dan murid adalah manusia yang memiliki perbedaan dari bermacam pandangan, namun tetap terpadu dalam kesatuan runcing sebuah tujuan yakni; sebagai pendidik bangsa yang akan membawa negeri ini ke arah di mana maju berkuntum-kuntum, hingga harum baunya pun dapat kita hirup bersama-sama tanpa mempersoalkan keyakinan atau suku. Mengingat sejatinya belajar adalah kewajiban kita semua, tidak ada kata berakhir dalam belajar, kecuali kematian yang mencarai kita dan ilmu. Wallahua’lam bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.