Berbicara
tentang guru tentu membutuhkan banyak waktu untuk disita, agar mencapai titik
finis. Hal demikian karena berangkat dari betapa mulianya seorang guru. Hanya
saja kemulian itu sekarang sudah mulai terkikis dari kalangan pelajar sendiri.
Bisa kita lihat, misalnya dari sekian banyak generasi terpelajar, akhir-akhir ini,
kerap melaporkan gurunya kepada yang berwenang hanya karena dijewer. Bukan
hanya itu saja, kurangnya memuliakan guru dari generasi pelajar, dewasa ini
sangat memprihatinkan. Lalu kenapa guru harus dimuliakan?
Bagi
para generasi, guru seharusnya jangan hanya ditempatkan sebagai sosok manusia
yang tidak ada bedanya dengan kita. Dalam artian, guru tidak memiliki nilai
panutan baik sama sekali. Guru lebih dari itu. Guru adalah pendidik bathin. Gurulah
yang memperkenalkan pengetahuan bagaimana seharusnya hubungan antara hamba
dengan Tuhannya, hubungan antar sesama manusia, juga hubungan manusia dengan
alam. Tiga poin tersebut sarat maknanya, yang dimiliki oleh seorang guru.
Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan orang yang melahirkan kita—kedua orangtua. Karena orangtua adalah guru pertama dan guru adalah orangtua pertama. Berangkat dari itulah, antara orang yang melahirkan kita dan yang mendidik kita selama mengenyam pendidikan di bawah naungan instansi pendidikan tidak dapat terpisahkan. Dalam persoalan tersebut, maka harus bagi kalangan terpelajar untuk memposisikan guru tidak saja ketika dalam proses belajar—kelas, tapi sepanjang hayatnya.
Kunci
Membangun Generasi Bangsa
Membangun manusia seharusnya
dilakukan sebelum membangun apa pun. Manusia yang posisinya sebagai makhluk
paling sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan yang lain, maka tidak bisa
diganjal lagi bahwa membangun manusia harus menjadi yang paling prioritas guna
melahirkan sebuah bangsa yang memiliki kemampuan untuk menyempurnakan tatanan
dunia—bukan merusak alam.
Seperti yang diulas di awal, bahwa
antara guru dan orangtua, dalam hal ini keluarga, adalah dua hal yang tidak
bisa terpisahkan. Salah satu dasar yang menjadi awal dari kehancuran peradaban
umat, adalah dengan hancurnya sebuah tatanan keluarga. Kehancuran sebuah
keluarga dalam mendidik generasi-generasi yang bermoral dan berintlektual
adalah sesuatu yang jangan sampai terjadi. Karena dengan mengikis peran
orangtua dalam keluarga akan menjadi titik penting berhentinya aliran
nilai-nilai luhur bagi para generasi.
Selanjutnya adalah hancurnya
pendidikan. Dengan cara menghancurkan pendidikan, maka juga akan menghancurkan
generasi bangsa. Tidak perlu kita membayangkan bagaimana jika sebuah bangsa
tanpa generasi yang bermoral dan berintlektual (baca: intlektual), pastilah
hanya tinggal menunggu detik-detik hancuran dari bangsa tersebut. Dari
pendidikan inilah peran seorang guru harus benar-benar dioptimalkan. Guru tidak
boleh hanya menjadi sosok pesuruh (baca: pekerja) yang jika diberi gaji baru
semangat ngajarnya. Guru harus menjadi sosok pengabdi, yang mengesampingkan
soal nominal, mengedepankan kecerdesan bangsa. Dengan cara seperti itu akan
lebih tegak sebuah kata-kata yang sudah cukup terkenal dari Bapak Pendidikan
Nasional—Ki Hajar Dewantara, “Guru adalah seorang pejuang, tulus tanpa tanda
jasa mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Hanya saja sangat disayangkan ketika
melihat banyak para guru yang justru menyimpang dari gelar pahlawannya sebagai pahlawan tanpa tanda
jasa. Karena guru merupakan sebuah kunci berkembang tidaknya sebuah bangsa,
maka perlu ditegaskan lagi bahwa guru saat ini jangan sampai menjadi penyimak
dari tangis-tangis bangsa akibat dijewer sebuah fakta stagnasi. Bangsa kita
tidak boleh tertinggal satu langkah saja dari bangsa lain dalam soal
pendidikan, karena mengejarnya butuh jutaan generasi yang harus menjadi tua
dulu.
Patutnya
Guru dan Murid
Pandangan antara guru dan murid yang
erat kaitannya dengan persoalan ilmu ini, kita tidak boleh memandang sebelah
mata. Keduanya adalah kopi yang memiliki rasa pahit dan manis. Sepandai apa pun
membuat rasa manis, kopi tetaplah kopi, ia tidak bisa disamakan dengan air
tebu. Begitu pula dengan seorang murid, meski seorang murid telah memiliki
keluasan ilmu, ia tetap harus menjaga sikap tawadhu’ (rendah hati) dan
menjauhi sikap sombong terhadap gurunya. Mengingat keluasan ilmu seorang murid
tidak akan diperoleh, jika para guru dari waktu kecil hingga waktu besar (baca:
dewasa) tidak meletakkan dasar pengetahuan—para gurulah yang meletakkannya.
Dari setumpuk nilai mulia yang
disandangkan pada seorang guru tersebut, jangan sampai diperkosa dengan hal-hal
yang tidak baik. Guru harus mempunyai dua cermin sebagai pendidik: satu cermin
untuk melihat bagaimana muridnya harus menjadi sukses, dan cermin yang satunya
lagi untuk melihat layak tidaknya moral yang dimilikinya sebagai guru. Artinya,
kemulian itu jangan sampai dijadikan tabir penghalang atau lampu pijar di mata
masyarakat bahwa dirinya adalah seorang guru yang patut menggurui. Guru adalah
murid yang menerima karunia untuk mengamlkan ilmunya. Dari karunia itu akan
menjadi nista jika dalam implementasi keilmuannya sangat jauh dari kata baik
sebagai seorang pendidik.
Maka sebagaimana disebutkan di
awal-awal tulisan ini bahawa guru adalah orangtua pertama dan orangtua adalah
guru pertama; maka orangtua sebagai guru pertama dalam generasi bangsa ini
harus menempatkan dirinya sebagaimana benarnya. Benar jika menghargai para guru
yang sudah mendidik anaknya. Atau benar jika membantu memilihkan guru yang baik
untuk pendidikan anaknya.
Orangtua murid adalah sosok utama
yang secara empiris keilmuannya tidak boleh diragukan. Menjadi orangtua yang kurang
baik, pasti harapannya pada anaknya harus lebih baik darinya. Menjadi orangtua
yang baik, anaknya harus lebih baik lagi darinya. Seperti itulah kata-kata
orangtua saya yang selalu diwanti-wanti kepada saya. Sebagai sosok paling
banyak menelan asam garam kehidupan dalam keluarga, tidak salah jika keharmonisan
antara si anak dan sang guru betul-betul dijaganya. Selain mengingat mereka
adalah manusia yang masih membutuhkan kontrol secara sosial dari orang lain,
pentinglah kiranya kehormanisan tersebut diperkuat secara bathiniah pula.
Terakhir, marilah kita tanamkan
nilai-nilai toleran untuk menjaga keutuhan Bhinneka Tunggal Ika yang menghargai
ragam perbedaan. Orangtua, guru, dan murid adalah manusia yang memiliki
perbedaan dari bermacam pandangan, namun tetap terpadu dalam kesatuan runcing
sebuah tujuan yakni; sebagai pendidik bangsa yang akan membawa negeri ini ke
arah di mana maju berkuntum-kuntum, hingga harum baunya pun dapat kita hirup
bersama-sama tanpa mempersoalkan keyakinan atau suku. Mengingat sejatinya
belajar adalah kewajiban kita semua, tidak ada kata berakhir dalam belajar,
kecuali kematian yang mencarai kita dan ilmu. Wallahua’lam bisshowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.