Rabu, 25 November 2015

TERORISME ISIS DAN JIHAD SESUNGGUHNYA MUSLIM PANCASILAIS



Perbedaan adalah indah jika kita memandangnya dengan cinta.”

            Siapa sebenarnya Islamic State of Iraq and Al-Syam (ISIS) itu ? ISIS adalah kelanjutan dari kelompok-kelompok garis keras dan ekstrim. Lebih tepatnya adalah organisasi produk politik, dan bukan agama. Namun yang dikenal oleh sebagian pemikir dangkal, ISIS adalah pergerakan garis keras, radikal, yang berkedok agama Islam. ISIS adalah pergerakan ajaran Islam, terlepas dari salah dan benarnya. ISIS sebenarnya lahir dari carut-marut politik di Timur Tengah, khususnya daerah Iraq dan Suriah. ISIS didirikan oleh Abu Musab Al-Zarqawi. Ia pernah ikut bergabung dengan mujahidin Afganistan, berperang melawan Uni Sovyet. Di Afganistan ini, Zarqawi bertemu dengan pimpinan Al-Qaeda Osama pada tahun 2000 untuk membantu kelompoknya bagi jaringan yang bernama Al-Tawhid wal-Jihad dengan tujuan menggulingkan pemerintah Yordania.
            Zarqawi yang kemudian menyatakan Bai’at (janji kesetiaan) dengan Al-Qaeda untuk mendirikan jaringan dengan nama Tanzim Qidat Al-Jihad Fi Bilad Al-Rafidyan atau terkenal dengan sebutan Al-Qaeda in Iraq (AQI). Adapaun sejarah perkembangan ISIS sendiri dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut: Pada tahun 1999-2004 dengan nama gerakan Jamaat Al-tawhid Wa-L-Jihad (JTWJ); Al-Qaedah in the Land of Two Rivers atau Lebih familiar dengan Al-Qaeda in Iraq (AQI) pada tahun 2004-2006; Kemudian, pada tahun 2006 Majlis Shura Al-Mujahidin (MSM); Islamic State of Iraq (ISI) 2006-2013; Islamic State of Iraq and Al-Syam (ISIS) 2013-2014; dan 2014 sampai sekarang Islamic State (IS).
ISIS sangat cerdik mengambil kesempatan disaat terjadi pencemaran kekuasaan, dan terjadi konflik politik di suatu Negara. Biasanya ia akan selalu berusaha mendekat dengan para kritikus atau pemikir kiri kebijakan pemerintah, sehingga dalam cara mereka mengelola kritikan ISIS akan hadir dengan ide-ide manis sebagai bumbu penyedap serupa semangat membara. Maka dari hasutan tersebut tidak jarang seorang warga negara akan menjadi memiliki rasa benci terhadap Negara. Semangat Bela Negara akan memudar sekeatika itu juga.
            Selain mendekati pada saat terjadi suasana keruh seperti disebutkan di atas, biasanya ISIS akan lebih mudah mempengaruhi orang-orang yang hidupnya individual, jarang berinteraksi dengan masyarakat, krisis ekonomi, dan memiliki pemahaman agama yang minim. Maka akan menjadi mudah bagi ISIS untuk membujuk orang-orang yang demikian, untuk masuk bergabung dengan ISIS. Makna Individual itu sebenarnya diperuntukkan kepada orang-orang yang hidupnya sehari-hari hanya bergelut dengan dunia sosial media, seperti dunia internet. Kenapa? Karena ISIS sangat dikenal dengan gerakan teroris yang cukup pandai untuk memanfaatkan media internet, khususnya media sosial sebagai propagandanya. Mereka melakukan penyebaran ideologi melalui pesan online dan propaganda pesan visual untuk menginspirasi individu tersebut. ISIS nampaknya berterima kasih dengan hadirnya media online itu.
Bagaimana Dengan Kondisi Negara Indonesia Saat Ini?
Akhir-akhir ini kasus yang terjadi di Paris tentang tindakan teroris yang memakan korban seperti yang diberitakan banyak media, telah mengundang banyak perhatian negara di seantero dunia. Indonesia yang terkenal dengan mayoritas penduduk muslimnya tentu juga mencurahkan rasa empatinya yang mendalam. Empati yang sebenarnya mengandung banyak tanda-tanda ketakutan, karena bagaimanapun Indonesia juga pernah mengalami kejadian yang hampir serupa. Hingga terjadi ketegangan dari ketahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu, pada kasus bom di bali yang juga menewaskan banyak nyawa atas kelakuan para teroris.
Maka saat ini yang sangat diresahkan adalah pergerakan kelompok ISIS atau IS. Dari kronologis mengenai pergerakan ISIS di awal, maka sangat tidak menutup kemungkinan akan beranak-pinaknya ISIS dalam tubuh Negara Indonesia pada saat sekarang ini. Pertama, dapat dilihat dari melemahnya bangsa tentang pentingnya bela negara. Keadaan aktivitas perpolitikan yang tidak sehat, akan melahirkan beberapa pergerakan yang serba dihalalkan. Tidak adanya dukungan untuk kebijakan pemerintah, mengkritik tanpa menawarkan solusi yang solutif, juga akan cenderung melahirkan pemikiran buruk yang berlebihan kepada Negara. Sebagaimana kita tahu bahwa bangsa Indonesia dengan kekayaan ras, bahasa, dan keyakinan yang berbeda-beda dapat bertahan subur di Zamrud Khatulistiwa ini.
Namun perang politik atas kepentingan kekuasaan sudah mampu mencerai-beraikan sebagian kekayaan negeri. Seperti terjadinya konflik politik pemilihan kepala daerah di Sampang Madura pada tahun 2000, di mana terjadi pembakaran kantor DPRD oleh salah satu pendukung partai politik pada saat itu. Tragedi 1998, saat digulingkannya Presiden Soeharto oleh kalangan mahasiswa yang melakukan aksi turun jalan secara keras-kerasan. Pergerakan-pergerakan diam yang dituangkan langsung oleh para tangan bangsa lewat pemberitaan media yang simpangsiur memberitakan birokrasi kepemerintahan karena dimentori oleh kepentingan politik. Ditambah lagi, yang masih hangat, adalah mengenai amandemen konstitusi negara kita. Di mana pada dahulunya sebelum diamandemen, dianggap perlu diamandemen, namun setelah diamandemen, dianggap salah karena dihapusnya penerjemahan dari keaslian Undang-Undang Dasar 1945, oleh amandemen. Setidaknya kejadian tersebut sudah dapat menggambarkan bagaimana keruhnya air politik yang mengalir di Negeri ini.
Selanjutnya, dilihat dari pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2015, seperti apa yang terpapar sebelumnya, bahwa ISIS sangat berterima kasih dengan hadirnya media online. Dari apa yang telah dikeluarkan oleh We Are Social, sebuah agensi marketing sosial, mengeluarkan sebuah laporan pada bulan Maret 2015 mengenai pengguna website, mobile, dan media sosial, Indonesia memliki 72,7 juta untuk pengguna aktif internet, 74 juta untuk pengguna aktif media sosial. Adalah medan yang cukup potensial bagi ISIS untuk menyemai benih gerakan kerasnya jika bangsa Indonesia tidak terbentengi dalam menghadang doktrinan radikal IS itu.
Kesenjangan sosial yang juga terjadi pada pola kehidupan sosial masyarakat sangat berpegaruh terlahirnya ketidak pedulian terhadap sesama. Rupanya, kesenjangan sosial ini bisa secara mudah kita lihat, baik dampak dan praktek terjadinya dari kesenjangan itu sendiri di lapanga. Hadirnya sosial masyarakat industri menjadi salah satu contoh. Para pemilik modal bekerjasama dengan pemerintah untuk menanam investasinya di arena kegiatan sosial masyarakat, sehingga terjadi pola hidup masyarakat yang cenderung individualistis. Karena penawaran dengan iming-iming cepat, mudah, instan, masyarakat pun terlena akan pentingnya solidaritas terhadap sesama. Dengan adanya pola-pola pemikiran seperti itu, maka tali nasionalisme secara perlahan akan kendor. Dan kemungkinan besar para penyebar terorisme akan mudah merasuk kedalam jalan pemikiran bangsa Indonesia yang seperti itu.
Berjihad Menurut Islam dengan Jiwa Pancasila
Jihad, banyak di antara sebagian muslim beranggapan dangkal kalimat tersebut dengan makna yang salah. Dari pemaknaan salah-kaprah itulah yang pada akhirnya dapat melahirkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan etika agama Islam sesungguhnya, utamanya seperti tindakan saling membunuh dalam keadaan situasi damai. Ada salah satu hadits riwayat Thabrani dijelaskan bahwa Rasulullah S.A.W. perrnah bersabda, “Seseorang tidak akan mendapatkan keutamaan yang melebihi keutamaan ilmu yang dapat memberikan petunjuk kepada pemiliknya atau mengangkatnya dari kehinaan. Dan tidaklah seseorang akan lurus agamanya hingga lurus ilmunya.” Demikian menurut saya bahwa jihad yang sesungguhnya, yang harus benar-benar diutamakan dalam beragama, adalah berjihad dalam mencari ilmu. Sesuai dengan sabda Nabi tersebut, kesempurnaan agama seseorang ditentukan oleh kedalaman pemahaman ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Setidaknya ada tiga anjuran dalam Islam yang benar-benar ditekankan kepada penganutnya dalam kehidupan bersosial yaitu, ilmu, jabatan, dan kekayaan. Di antara ketiga tekanan dalam menjadi muslim yang baik adalah berilmulah yang sungguh-sungguh harus diutamakan, baru selanjutnya jabatan dan kekayaan. Kenapa harus ilmu? Karena seseorang dengan berilmu maka ia akan menjadi bijak ketika memangku jabatan atau berperan sebagai orang penting di dalam tatanan sosial masyarakat. Justeru persoalan finansial menduduki anjuran terakhir bagi seorang muslim untuk megejarnya. Maka dari ilustrasi tersebut dapatlah kita tarik benang pentingnya bahwa ketiganya jelas saling bersangkut satu sama lain. Untuk menjadi seseorang pemimpin (kholifah) ia harus memiliki ilmu pengetahuan yang memadani dulu, dan jangan mengutamakan uang dalam menjalankan roda kepemimpinan. Dari itulah akan menjadi salah jika ada seorang muslim yang hanya karena gara-gara terhimpit persoalan ekonomi, menjadi stres, tidak memiliki pegangan hidup, putus asa hingga menyatakan bergabung dengan kelompok-kelompok keras seperti ISIS yang dalam peraupan anggotanya selalu menawarkan dengan iming-iming uang salah satunya.
Mengutip sedikit dari perkataan salah satu tokoh ulama yang terkenal semangat perjuangannya demi mempertahankan keutuhan NKRI pada jaman dahulu yakni, KH. Hasyim Asy’ari, agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan. Beliau adalah ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki semangat juang gigih dan mendukung penuh terhadap dasar negara Pancasila. Bahkan pesan beliau yang terkenal di dalam kalangan masyarakat NU adalah tentang beban dan tanggung jawab yang disandangkan adalah mengenai jangan sampai ada yang merusak Pancasila, maka jika ada, NU harus bertanggung jawab untuk mencegahnya.
Sesungguhnya berjihad yang sesuai bagi kaum muslim sekaligus sebagai bangsa yang pancasilais adalah mempertahankan, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Melakukan dakwah agama yang sesuai dengan isi Pancasila. Meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anjuran bagi bangsa Indonesia untuk menganut agama. Sebagaimana pesan Gus Dur, mantan Presiden Republik Indonesia mengenai agama yakni, tidak penting apapun agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tahu apa agamau. Maka kalau melihat dari beberapa pesan tokoh ulama Indonesia itu sangat jelas bermaksud bahwa dengan beragama adalah bentuk dari rasa Nasionalisme kita. Sebagaimana juga firman Allah dalam Al-Qur’an ”Lakum diinukum waliyadiin..” [QS. Al-Kafirun: 6].
Mengenai penanggulangan terorisme yang membuat banyak kalangan menjadi resah dan meruntuhkan ajaran damai juga toleran yang telah lama dirawat oleh para pendakwah Islam di tanah nusantara, tentu sangat dibutuhkan peran Negara untuk melindungi seluruh tumpah darah masyarakat. Sesuai dengan kutipan lirik lagu kebangsaan Indonesia raya, “…bangunlah jiwanya bangunlah badannya utuk Indonesia raya..” dari kutipan lagu kebangsaan tersebut dapat dipelajari bagaimana peran Negara (pemerintah) untuk mengutamakan membangun jiwa, baru kemudian badan (fisik). Karena bangsa yang memiliki semangat jiwa yang rendah akan menjadi mudah bagi bangsa terhasut untuk membenci Negaranya sendiri, sehingga kontak kekerasan fisik menjadi jalan pemberontakannya. Dan ISIS sendiri akan sangat diuntungkan jika berhadapan dengan bangsa yang memiliki jiwa lemah. Semoga tulisan ini menjadi manfaat yang bisa menuntun banyak bangsa di dunia agar memperkokoh jiwa nasionalisme, dan menanamkan jiwa toleransi. Karena perbedaan adalah indah jika kita memandangnya dengan cinta. Wallahua’lam.

Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Dan sekarang menjadi mahasiswa aktif Fakultas Hukum Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.