“Perbedaan adalah
indah jika kita memandangnya dengan cinta.”
Siapa
sebenarnya Islamic State of Iraq and
Al-Syam (ISIS) itu ? ISIS adalah kelanjutan dari kelompok-kelompok garis
keras dan ekstrim.
Lebih tepatnya adalah organisasi produk politik, dan bukan agama. Namun yang
dikenal oleh sebagian pemikir dangkal, ISIS adalah pergerakan garis keras,
radikal, yang berkedok agama Islam. ISIS adalah pergerakan
ajaran Islam, terlepas dari salah dan benarnya. ISIS
sebenarnya lahir dari carut-marut politik di Timur Tengah, khususnya daerah Iraq dan Suriah. ISIS didirikan oleh Abu Musab Al-Zarqawi. Ia pernah ikut bergabung dengan mujahidin
Afganistan, berperang melawan Uni Sovyet. Di Afganistan ini, Zarqawi bertemu dengan pimpinan Al-Qaeda Osama pada tahun 2000 untuk membantu kelompoknya
bagi jaringan yang bernama Al-Tawhid
wal-Jihad dengan tujuan
menggulingkan pemerintah Yordania.
Zarqawi
yang kemudian menyatakan Bai’at (janji
kesetiaan) dengan Al-Qaeda untuk mendirikan jaringan dengan nama Tanzim Qidat Al-Jihad
Fi Bilad Al-Rafidyan
atau terkenal dengan sebutan Al-Qaeda in Iraq (AQI). Adapaun sejarah perkembangan ISIS
sendiri dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut: Pada tahun 1999-2004 dengan
nama gerakan Jamaat Al-tawhid Wa-L-Jihad (JTWJ); Al-Qaedah in the Land of Two Rivers atau Lebih familiar
dengan Al-Qaeda in Iraq (AQI) pada tahun 2004-2006; Kemudian, pada tahun 2006
Majlis Shura Al-Mujahidin (MSM); Islamic State of Iraq (ISI) 2006-2013; Islamic
State of Iraq and Al-Syam (ISIS) 2013-2014; dan 2014 sampai sekarang Islamic
State (IS).
ISIS sangat cerdik mengambil kesempatan disaat terjadi
pencemaran kekuasaan, dan terjadi konflik politik di suatu Negara. Biasanya ia
akan selalu berusaha mendekat dengan para kritikus atau pemikir kiri kebijakan pemerintah, sehingga dalam cara mereka
mengelola kritikan ISIS akan hadir dengan ide-ide manis sebagai bumbu penyedap
serupa semangat membara. Maka dari hasutan tersebut tidak jarang seorang warga
negara akan menjadi memiliki rasa benci terhadap Negara. Semangat Bela Negara
akan memudar sekeatika itu juga.
Selain
mendekati pada saat terjadi suasana keruh seperti disebutkan di atas, biasanya
ISIS akan lebih mudah mempengaruhi orang-orang yang hidupnya individual, jarang
berinteraksi dengan masyarakat, krisis ekonomi, dan memiliki pemahaman agama yang minim. Maka akan
menjadi mudah bagi ISIS untuk membujuk orang-orang yang demikian, untuk masuk bergabung dengan ISIS. Makna Individual itu
sebenarnya diperuntukkan kepada orang-orang yang hidupnya sehari-hari hanya
bergelut dengan dunia sosial media, seperti dunia internet. Kenapa? Karena ISIS
sangat dikenal dengan gerakan teroris yang cukup pandai untuk
memanfaatkan media internet, khususnya media sosial sebagai propagandanya. Mereka melakukan penyebaran ideologi melalui pesan online dan propaganda
pesan visual untuk menginspirasi
individu
tersebut. ISIS nampaknya
berterima kasih dengan hadirnya media online itu.
Bagaimana Dengan Kondisi Negara Indonesia Saat Ini?
Akhir-akhir ini kasus yang terjadi di Paris tentang
tindakan teroris yang memakan korban seperti yang diberitakan banyak media,
telah mengundang banyak perhatian negara di seantero dunia. Indonesia yang
terkenal dengan mayoritas penduduk muslimnya tentu juga mencurahkan rasa
empatinya yang mendalam. Empati yang sebenarnya mengandung banyak tanda-tanda
ketakutan, karena bagaimanapun Indonesia juga pernah mengalami kejadian yang
hampir serupa. Hingga terjadi ketegangan dari ketahanan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) yaitu, pada kasus bom di bali yang juga menewaskan
banyak nyawa atas kelakuan para teroris.
Maka saat ini yang sangat diresahkan adalah pergerakan
kelompok ISIS atau IS. Dari
kronologis mengenai pergerakan ISIS di awal, maka sangat tidak menutup
kemungkinan akan beranak-pinaknya ISIS dalam tubuh Negara Indonesia pada saat
sekarang ini. Pertama, dapat dilihat dari melemahnya bangsa tentang pentingnya
bela negara. Keadaan aktivitas perpolitikan yang tidak sehat, akan melahirkan
beberapa pergerakan yang serba dihalalkan. Tidak adanya dukungan untuk
kebijakan pemerintah, mengkritik tanpa menawarkan solusi yang solutif, juga
akan cenderung melahirkan pemikiran buruk yang berlebihan kepada Negara.
Sebagaimana kita tahu bahwa bangsa Indonesia dengan kekayaan ras, bahasa, dan
keyakinan yang berbeda-beda dapat bertahan subur di Zamrud Khatulistiwa ini.
Namun perang politik atas kepentingan kekuasaan sudah
mampu mencerai-beraikan sebagian kekayaan negeri. Seperti terjadinya konflik
politik pemilihan kepala daerah di Sampang Madura pada tahun 2000, di mana
terjadi pembakaran kantor DPRD oleh salah satu pendukung partai politik pada
saat itu. Tragedi 1998, saat digulingkannya Presiden Soeharto oleh kalangan
mahasiswa yang melakukan aksi turun jalan secara keras-kerasan. Pergerakan-pergerakan
diam yang dituangkan langsung oleh para tangan bangsa lewat pemberitaan media
yang simpangsiur memberitakan birokrasi kepemerintahan karena dimentori oleh
kepentingan politik. Ditambah lagi, yang masih hangat, adalah mengenai
amandemen konstitusi negara kita. Di mana pada dahulunya sebelum diamandemen,
dianggap perlu diamandemen, namun setelah diamandemen, dianggap salah karena
dihapusnya penerjemahan dari keaslian Undang-Undang Dasar 1945, oleh amandemen.
Setidaknya kejadian tersebut sudah dapat menggambarkan bagaimana keruhnya air
politik yang mengalir di Negeri ini.
Selanjutnya, dilihat dari pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2015, seperti apa yang terpapar
sebelumnya, bahwa ISIS sangat berterima kasih dengan hadirnya media online. Dari apa yang telah dikeluarkan oleh We Are Social, sebuah agensi marketing
sosial, mengeluarkan sebuah laporan pada bulan Maret 2015 mengenai pengguna website,
mobile, dan media sosial, Indonesia memliki 72,7 juta untuk pengguna aktif internet, 74 juta untuk
pengguna aktif media sosial. Adalah medan yang cukup potensial bagi ISIS
untuk menyemai benih gerakan kerasnya
jika bangsa Indonesia tidak terbentengi dalam menghadang doktrinan radikal
IS itu.
Kesenjangan sosial yang juga terjadi pada pola kehidupan
sosial masyarakat sangat berpegaruh terlahirnya ketidak pedulian terhadap
sesama. Rupanya, kesenjangan sosial ini bisa secara mudah kita lihat, baik
dampak dan praktek terjadinya dari kesenjangan itu sendiri
di lapanga. Hadirnya sosial
masyarakat industri menjadi salah satu contoh. Para pemilik modal bekerjasama dengan
pemerintah untuk menanam investasinya di arena kegiatan sosial masyarakat,
sehingga terjadi
pola hidup masyarakat yang cenderung
individualistis. Karena penawaran dengan iming-iming cepat, mudah, instan,
masyarakat pun terlena akan pentingnya solidaritas terhadap sesama. Dengan
adanya pola-pola pemikiran seperti itu, maka tali nasionalisme secara perlahan
akan kendor. Dan kemungkinan besar para penyebar terorisme akan mudah merasuk
kedalam jalan pemikiran bangsa Indonesia yang seperti itu.
Berjihad Menurut Islam dengan Jiwa Pancasila
Jihad, banyak di antara sebagian muslim beranggapan
dangkal kalimat tersebut dengan makna yang salah. Dari pemaknaan salah-kaprah
itulah yang pada akhirnya dapat melahirkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai
dengan etika agama Islam sesungguhnya, utamanya seperti tindakan saling
membunuh dalam keadaan situasi damai. Ada salah satu hadits riwayat Thabrani
dijelaskan bahwa Rasulullah S.A.W. perrnah bersabda, “Seseorang tidak akan mendapatkan keutamaan yang melebihi keutamaan ilmu
yang dapat memberikan petunjuk kepada pemiliknya atau mengangkatnya dari
kehinaan. Dan tidaklah seseorang akan lurus agamanya hingga lurus ilmunya.”
Demikian menurut saya bahwa jihad yang sesungguhnya,
yang harus benar-benar diutamakan
dalam beragama, adalah berjihad dalam mencari ilmu. Sesuai dengan sabda Nabi
tersebut, kesempurnaan agama seseorang ditentukan oleh kedalaman pemahaman ilmu
pengetahuan yang dimilikinya.
Setidaknya ada tiga anjuran dalam Islam yang benar-benar ditekankan kepada
penganutnya dalam kehidupan bersosial yaitu, ilmu, jabatan, dan kekayaan. Di antara ketiga tekanan dalam menjadi muslim
yang baik adalah “berilmulah”
yang sungguh-sungguh harus diutamakan, baru selanjutnya jabatan dan kekayaan.
Kenapa harus ilmu? Karena seseorang dengan berilmu maka ia akan menjadi bijak
ketika memangku jabatan atau berperan sebagai orang penting di dalam tatanan
sosial masyarakat. Justeru persoalan finansial menduduki anjuran terakhir bagi
seorang muslim untuk megejarnya. Maka dari ilustrasi tersebut dapatlah kita
tarik benang pentingnya bahwa ketiganya jelas saling bersangkut satu sama lain. Untuk menjadi
seseorang pemimpin (kholifah) ia harus memiliki ilmu pengetahuan yang memadani dulu, dan jangan mengutamakan uang dalam menjalankan
roda kepemimpinan. Dari itulah akan
menjadi salah jika ada seorang muslim yang hanya karena gara-gara terhimpit
persoalan ekonomi, menjadi stres, tidak memiliki pegangan hidup, putus asa
hingga menyatakan bergabung dengan kelompok-kelompok keras seperti ISIS yang
dalam peraupan anggotanya selalu menawarkan dengan iming-iming uang salah
satunya.
Mengutip sedikit dari perkataan salah satu tokoh ulama
yang terkenal semangat perjuangannya demi mempertahankan keutuhan NKRI pada jaman dahulu yakni, KH.
Hasyim Asy’ari, agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak
bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.
Beliau adalah ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki semangat juang gigih
dan mendukung penuh terhadap dasar negara Pancasila. Bahkan pesan beliau yang
terkenal di dalam kalangan masyarakat NU adalah tentang beban dan tanggung
jawab yang disandangkan adalah mengenai jangan sampai ada
yang merusak Pancasila, maka
jika ada, NU harus
bertanggung jawab untuk mencegahnya.
Sesungguhnya berjihad yang sesuai bagi kaum muslim
sekaligus sebagai bangsa yang pancasilais adalah mempertahankan,
serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Melakukan dakwah agama yang sesuai dengan isi Pancasila.
Meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anjuran bagi bangsa Indonesia untuk menganut agama. Sebagaimana
pesan Gus Dur, mantan Presiden Republik Indonesia mengenai agama yakni, tidak penting apapun agamamu atau sukumu. Kalau kamu
bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tahu apa
agamau. Maka kalau melihat dari beberapa pesan tokoh ulama Indonesia itu sangat jelas bermaksud bahwa dengan beragama adalah bentuk dari rasa
Nasionalisme kita. Sebagaimana juga firman Allah dalam Al-Qur’an ”Lakum diinukum waliyadiin..” [QS. Al-Kafirun: 6].
Mengenai penanggulangan terorisme yang membuat banyak
kalangan menjadi resah dan meruntuhkan ajaran damai juga toleran yang telah
lama dirawat oleh para pendakwah Islam di tanah nusantara, tentu sangat
dibutuhkan peran Negara untuk melindungi seluruh tumpah darah masyarakat.
Sesuai dengan kutipan lirik lagu kebangsaan Indonesia raya, “…bangunlah jiwanya
bangunlah badannya utuk Indonesia raya..” dari kutipan lagu kebangsaan tersebut
dapat dipelajari bagaimana peran Negara (pemerintah) untuk mengutamakan
membangun jiwa, baru kemudian badan (fisik). Karena bangsa yang memiliki semangat
jiwa yang rendah akan menjadi mudah bagi bangsa terhasut untuk membenci
Negaranya sendiri, sehingga kontak kekerasan fisik menjadi jalan pemberontakannya.
Dan ISIS sendiri akan sangat diuntungkan jika berhadapan dengan bangsa yang
memiliki jiwa lemah. Semoga tulisan ini menjadi manfaat yang bisa menuntun
banyak bangsa di dunia agar memperkokoh jiwa nasionalisme, dan menanamkan jiwa
toleransi. Karena perbedaan adalah indah jika kita memandangnya dengan cinta. Wallahua’lam.
Wardi,
lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Dan sekarang menjadi mahasiswa aktif
Fakultas Hukum Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.