Kamis, 12 November 2015

TAK SANGGUP SENDIRI


            Apa itu rindu? Bagaimana sebenarnya cara hati merasakan? Apakah semua yang dilakukan atas keyakinan akan menjadi jalan yang mulus tak berintang? Atau adakah rumus untuk menjadi sebuah pembeda keyakinan nurani dan nafsu birahi? Sedang aku sendiri hanya sekedar sosok manusia yang rentan. Tidak jauh berbeda seperti manusia kebanyakan, yang bisa merasa jatuh cinta kapan saja. Dan bahkan rasa sakit dapat saja aku lalui tanpa jadwal dan waktu tibanya. Semua instrumen-instrumen kehidupan memaksaku untuk melaluinya. Ia seakan tidak pernah tahu bagaimana jika luka terlalu pedih untuk seorang aku. Seorang wanita yang hanya bisa pasrah ketika semua yang terjadi bagai diluar prediksi hati. Bahkan kompas kehidupan ikut bingung menentukan arah sekeliling.
            Dalam ruang ini aku mematuhi segala gelisah yang serupa hantu. Bertahun-tahun aku menikmati bukan semakin membuatku berani. Melainkan, semakin menikam ketegaran yang sekuat tenaga terbangun, hingga sebelum menjulang telah runtuh berkeping-keping.
            Sejak pertama aku merelakan waktu untuk membentang jarak bagi hubunganku dengan Liela−kekasih yang mencuri keyakinan hati sejak di bangku SMA dulu. Aku dan Liela sudah dua tahun lamanya memupuk rindu yang tersemai sejak kepergiannya. Ia mengejar pendidikan S1-nya ke luar negeri. Malaysia. Sejauh ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Kita hanya mengobati rindu dengan percakapan-percakapan yang sederhana lewat gagang telefon. Media sosial adalah jembatan lain yang menghubungkan serombongan gelisah ketika gejolaknya merajai hati. Kita selalu yakin terhadap apa yang akan terjadi, bahwa akan menjadi sebuah keindahan yang tertunda. Sebagaimana kata-kata yang Liela ucapkan dengan tulus pada saat terakhir kebersamaan di pantai Lombang. “Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok. Kita tidak bisa menduga jawaban apa yang akan menjelaskan gelisah pada hari ini. Keindahan dan kesedihan hanya berada pada sejauh mana perasaan mampu membungkusnya. Ketika ia tidak mampu, maka kesedihanlah yang akan hadir sebagai jawaban apa yang kita usahakan. Namun sebaliknya, jika perasaan kita kuat, apapun yang akan kita rasakan akan menjadi sebuah hikmah kebahagiaan” ucapnya sembari memegang jemari tanganku.
            Sejak saat itu air mata menjadi saksi tulus merelakan kekasih pergi untuk mengejar pendidikannya. Liela mengambil jurusan psikologi umum di salah satu universitas ternama di Malaysia. Universitas Putera Malaysia. Liela mendapat program beasiswa di sana. Sedangkan aku hanya kuliah di Kabupaten Sumenep, sang tanah kelahiran. Aku di Universitas Wiraraja mengambil jurusan hukum. Jarak sejauh itu adalah sebuah jarak yang cukup menyulitkan untuk membuang kecemburuan-kecemburuan yang menyerang serupa serangan anak panah yang runcing. Sejauh kekuatan menepis perasaan-perasaan buruk, aku selalu berusaha memalingkan semuanya. Namun belum dapat kita pungkiri dengan banyaknya kesibukan kuliah, kadang juga menuai kecurigaan yang berlebihan. Curiga ditambah curiga selalu melahirkan konflik yang selesai dengan peretengkaran. Hanya saja diujung penyadaran dari salah satu, menjadikan kita saling memaklumi. Maaf menjadi jalan lain demi keabadian sebuah hubungan.
            Pernah pada suatu waktu Liela tidak menghubungiku selama tiga hari. Spontan aku curiga terhadap apa saja yang telah dia lakukan di sana. Dia tidak pernah mengangkat telefon dariku selama itu. Kemarahanku pun tiba di batas sabar. Aku memarahi Liela. Mengabaikan semua penjelasan yang dia berikan kepadaku. Meski Liela bilang kalau dia tengah mendapat banyak tugas dari para dosen yang dari Indonesia. Dia dikejar waktu secepatnya untuk mengerjakan tugas itu. Aku dengan mudah tidak percaya. Fikiranku berkata lain. Aku terus menuntut dia sedang dengan wanita lain, sengaja menghindar dari aku, sudah bosan dengan diriku. Sembarangan saja kalimat yang terlepas tanpa kontrol. Hingga aku berniat menjauhinya. Tangis dan tangis selalu menjadi isi kesunyian kamar. Namun pada kesempatan lain, saat Liela meminta maaf mengakui kesalahannya yang tidak salah. Kita kembali berdamai. Aku menerima maafnya. Hingga hubungan kembali harmonis seperti dahulu.
            Bulan mengambang di antara bintang-bintang. Suaara burung hantu bersahutan di antara janur kelapa.  Aku meratapi dinding kamar yang terasa kosong. Entah apa yang akan terjadi setelah aku kembali bersama dengan Liela. Menjadi sepasang suami isteri. Aku yakin kelak kamar ini akan menjadi kamar sejarah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan pada kamar ini aku juga yakin akan ramai dengan manja anak-anak kami. Duh, sudah terlalu jauh aku menghayal kehidupan. Semenjak aku mencintai Liela, aku memang suka menghayal. Membayangkan tentang kehidupan masa depan. Yang sebenarnya masih tidak jelas akan berbentuk seperti apa terjadinya.
            Sajadah terhampar menjadi alas doa-doa. Rinai air mata berdansa di atasnya. Sejarak ini aku merasa rindu membaur dengan cemburu. Aku ingin merasakan dekapan peluk seorang kekasih. Yang kehangatan-kehangatannya mengantarkan aku pada sebuah arti makna ketenangan. Bukan dengan salam-salam yang sama sekali tanpa tatapan wajah. Dan aku juga tidak prnah merasa bahwa aku akan menjadi seorang yang sungguh-sungguh dibahagiakan oleh Liela. Bahagia yang sungguh dicita-citakan oleh Liela.
            Seperti ada yang aneh memang dengan perasaanku sekarang. Aku terlalu gampang marah sama Liela. Semenjak aku bergabung dengan salah satu organisasi eksternal kampus. Aku memiliki banyak teman. Relasi dengan mereka semakin hari semakin kental. Sedangkan waktuku yang luang untuk Liela hanya sebentar. Malam hari kadang sering aku ketiduran. Meninggalkannya dalam ombrolan. Ditambah banyak kemarahan-kemarahan yang tidak jelas kepadanya. Namun kadang aku memang sering merasa bersalah menghadapi semua kenyataan ini.
***
Waktu berjalan dengan lambannya. Sungguh sangat lama dua tahun ini bagi jiwa yang menunggu. Aku semakin dibuat pusing dengan jelmaan rindu yang manakutkan sekali. Kadang ia berupa binantang buas. Juga tak jarang ketika di dalam mimpi, ia serupa pria tampan yang memaksaku mencintainya. Beberapa kali aku dilamar oleh pemuda desa sini. Para tokoh-tokoh masyarakat yang hadir ke rumah untuk meminangku, tidak satu pun di antara mereka yang aku terima. Hati ini masih terlalu kaku. Sudah teguh untuk mencintai kekasih hati yang sudah lebih dulu meyakini jiwa. Bahwa tidak akan ada bahagia lain sehebat bahagia bersamanya. Bahkan insya Allah, hanya hati Liela yang suci mencintaiku.
Maka atas dasar kerinduan. Ketulusan cinta. Kesucian hati, aku berani menuaikannya lewat tulisan untuk selalu memberi kehidupan seabadinya atas rasa yang sedang aku miliki saat ini. Sering aku bertukar pesan sebagai bentuk pengungkapan hati yang tengah dirundung asmara. Namun demikian tidak berlangsung lama. Perasaan perlahan mulai memudar kepada kekasih yang tak tersekat waktu walau sebenarnya terkotak oleh jarak. Sejak aku aktif di organisasi eksternal kampus. Betapa tidak terpungkiri adanya bahagia-bahagia yang merangsang nadi penghidupan. Perkenlanku dengan kakak senior bernama Junaidi, sedikit banyak telah merubah bentuk hati yang mulai tidak utuh lagi. Utamanya pada keutuhan hati yang coba aku teguhkan dengan cinta kepada Liela.
Pada saat ini aku menemukan dunia baru. Dunia yang membentuk bahagia tersendiri dalam kalbu. Tidak ada kesibukan yang membuat renggang berkomunikaasi dengan kekasih menjadi hal mengecewakan dan menyakitkan. Melainkan telah menjadi sebuah keinginan yang semakin ingin aku kecap akhir-ahir ini. Tiada aku duga aku akan dilema hal mengindahkan itu. Pada sisi lain aku ingin mempertahankan perasaanku dengan Liela. Namun pada sisi yang lain juga aku seakan tidak percaya dengan kehidupan yang membelenggu serupa hantu-hantu menakutkan itu. Itulah kerinduan yang selalu membuat hati ini resah.
“Sudah lah Rof. Sebaiknya kau ikuti saranku. Kau lupakan saja Liela. Bukankah kamu sering tidak diperhatikan olehnya dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal seperti itu. Kau harus membuka hati yang baru selama dia jauh. Kamu wanita yang cantik. Aku yakin akan banyak laki-laki yang mau menjadi pacarmu. Itu si kak Junaidi.” Ucap Husna kepadaku saat aku mencoba mencurahkan kekalutan jiwa.
Aku belum begitu yakin dengan saran yang ditawarkan sahabatku Husna. Itu semua karena hati ini memang benar masih memiliki rasa dengan Liela. “Kesibukanya kan kerena dia banyak tugas. Bukan kesibukan yang tidak penting kan Na? Gimana ya? Aku bingung, dilema. Apalagi saat kak Junaidi kemarin bilang kalau dia suka sama aku.” Jawabku sembari meneteskan air mata. Aku sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini. Dua laki-laki yang sama menawarkan bahagia kepada diriku. Aku menyandarkan kepala di pundak Husna. Malam dengan langit berkabut menutupi sejajaran bintang-bintang. Bulan tidak terlihat menggantung lagi di atas sana. Kilat membentuk cahaya dengan cepatnya, seperti cahaya lampu kamera wartawan yang sedang mewawancarai seseorang terkena kasus. Mungkin aku diantaranya yang tengah bersidang dengan perasaan. Gemuruh guntur mengeleggar dari balik awan. Sebentar lagi hujan akan turun. Mungkin setelah gerimis ini bosan dengan rintiknya yang tidak membahagiakan bumi.
Sesuai dengan saran sahabatku, Husna. Aku menerima kak Junaidi sebagai pengganti kekosongan hati saat ditingal Liela. Aku mulai menghindar dari Liela. Namun aku tidak berani memutuskan dia. Aku ingin dia yang mengucapkan kalimat sedih itu duluan. Bukan aku. Aku merasa sedikit resah dengan gelutan perasaan ini. Ada rasa yang tidak tega kepada Liela yang telah aku tinggalkan tanpa sebab musabab pasti. Beberapa kali Liela menghubungiku. Maka aku juga tidak pernah menanggapinya. Hingga pada suatu malam. Seminggu setelah aku menghindar dari Liela. Seminggu pula usia jadianku dengan kak Junaidi, tiba-tiba ada sms dari Liela yang tidak terbaca. Ku buka pelan-pelan pesan singkat itu dengan gundahan hati yang sungguh gulana ketakutan dengan keramaian sedih yang akan mengisi.
Rovit kekasihku. Bergetar tangan ini tatkala hendak menuliskan suara hati yang tengah bersedih ini. Lantaran aku sudah mendengar, sudah pula mengetahuinya. Engkau yang sudah tidak akan pantas lagi dengan segenap pengharapan ini. Aku yang sudah haram atas deretan doa-doa sucimu. Sungguh itu adalah maut yang tidak bersayap. Maut yang merangkak menghampiriku dalam negeri kosong ini. Aku di sini sudah tidak memiliki siapa-siapa. Dan kepunyaan yang akan memberiku ruang di negeri sendiri, kini pintunya sudah tertutup untuk laki-laki sepertiku. Aku tidak tahu kepada siapa lagi rangkaian bait puisi akan mengadu, mencari orang untuk menjadi tempat terindahnya bercurah. Dosa apakah yang aku lakukan terhadapmu? Sehingga engkau menjadi sekejam ini. Membunuh segenap harapan yang aku yakini adalah nafas lain kehidupanku sekarang hingga kelak kematian tiba. Apa kau dijodohkan oleh sahabatmu? Jika benar, aku yakin cintamu sungguh tidak suci kepada kekasih barumu. Kamu hanya menjadikannya sebagai sandaran belaka dalam rindu jarak kita. Maka akan sungguh kejam hatimu sebagai wanita Vit. Kamu menganiaya banyak hati, lalu memutilasinya hingga menjadi berkeping-keping. Aku harap Tuhan memaafkan segala dosamu. Aku akan mendoakanmu dari jauh, mantan hati.”
Air mata menetes tak terasa. Hingga basah seluruh pipi yang bergurat duka. Lengang seketika kamarku. Bahagia yang sedari tadi aku tenun dengan berjalan-jalan dengan kak Junaidi, hilang menjadi serpihan kalimat sesal yang menyelubungi seluruh ruangan. Husna yang berdiri diambang pintu, rupanya melihatku dari tadi. Ia mendekat menghampiriku. Berbicara banyak sekali, tapi fikiranku belum menangkap apa yang dia katakan. Sepertinya dia menjadi sosok motivator yang memberiku semangat. Husna menyarankan untuk aku lebih tegar menghadapi keadaan ini. Sebuah keyakinan yang tidak kuduga akan lebih membuat hati terhujam.
“Na, kamu jangan bilang-bilang pada siapapun kejadian ini. Termsuk kepada kak Junaidi. Aku tidak mau semuanya semakin berantakan.” Aku menyampaikan sesuatu kepada Husna yang sudah banyak sekali bicara dari tadi di sampingku.
“Ok. Sebagai sahabat kamu, aku tidak akan bilang pada siapaun kejadian ini. Kamu tenang saja. Sebaiknya kau jelaskan yang sebenarnya kepada Liela sekarang. Balas saja itu sms-nya.” Saran Husna sembari menepuk bahuku memberi semangat dan beranjak pergi dari kamarku, meninggalkan aku sendirian dengan tanda tanya hidup. Betapa aku memang ingin mengatakan yang sesungguhnya kepada Liela. Akan sirna semua ketulusan yang pernah terbangun dalam hidup sedari dahulu. Jemari mulai menari-nari di atas tombol HP. Merangkai beberapa kata sehingga menjadi sebuah bungkusan kalimat indah. Aku tidak ingin ada yang lebih tersinggung dari kalimatku nanti. Walau sebenarnya singgungan sudah menikam keras hati Liela. Ia sudah benar-benar merasa kecewa kepada diriku yang mengabaikannya.
Aku tidak disatukan oleh siapapun. Tidak ada peran orang ketiga dalam kejadian ini. Sahabatku tidak terlibat. Aku menentang hati sendiri, menantang janji-janjiku padamu. Maafkan aku. Namun ini adaah murni pilihan hati untuk menjadikan rindu tidak lagi sesakit yang kerap aku rasa sepanjang waktu. Aku melakukan tindakan seperti ini, karena aku butuh bahu untuk bersandar kala bersedih. Ada jemari yang akan menyeka air mata. Ada pelukan hangat yang akan menjadi selimut dalam dinginku sepanjang malam. Maafkan aku, aku memang telah  mengecewakanmu. Sekali lagi itu semua karena aku tidak bisa tenang dalam jarak ini. Dalam kerinduan yang sering menghujam ganas ulu hati dengan kebingungan-kebingungannya. Aku tidak mau menjadi gila. Maafkan aku...”
Itulah pesan singkat yang aku kirim sebagai balasan pesan sedih kepada Liela. Kekejaman hanya akan menjadi sangat terasa jika seseorang benar-benar mendapat ketulusan dalam hatinya. Jiwanya tersemai dengan bebijian suci. Hanya sayang, demikian yang ingin sekali aku dapati atas hati sendiri, tidak bisa seindah mimpi. Perpisahan akan menjadi sebuah pelajaran. Kesedihan akan menjadi obat penguat agar hati sebisanya tegar dalam segala kondisi. Langkah yang baik atas keyakinan dan doa-doa, sejatinya tetaplah berbuah hikmah. Tidak jauh berbeda dengan kejadian musim. Orang yang mengeluh karena kemarau panjang. Sebagian orang lagi mengeluh karena banjir atas musim hujan yang berhari-hari tanpa redah. Untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia hanya cukup menyediakan rasa syukur. Syukurilah, karena setiap yang telah dikerjakan dengan kesadaran akan menjadi jawaban yang memusakan, walau itu tidak sesuai pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.