Apa itu rindu? Bagaimana sebenarnya cara hati merasakan? Apakah semua yang dilakukan atas keyakinan akan menjadi jalan yang mulus tak berintang? Atau adakah rumus untuk menjadi sebuah pembeda keyakinan nurani dan nafsu birahi? Sedang aku sendiri hanya sekedar sosok manusia yang rentan. Tidak jauh berbeda seperti manusia kebanyakan, yang bisa merasa jatuh cinta kapan saja. Dan bahkan rasa sakit dapat saja aku lalui tanpa jadwal dan waktu tibanya. Semua instrumen-instrumen kehidupan memaksaku untuk melaluinya. Ia seakan tidak pernah tahu bagaimana jika luka terlalu pedih untuk seorang aku. Seorang wanita yang hanya bisa pasrah ketika semua yang terjadi bagai diluar prediksi hati. Bahkan kompas kehidupan ikut bingung menentukan arah sekeliling.
Dalam ruang ini aku
mematuhi segala gelisah yang serupa hantu. Bertahun-tahun aku menikmati bukan
semakin membuatku berani. Melainkan, semakin menikam ketegaran yang sekuat
tenaga terbangun, hingga sebelum menjulang telah runtuh berkeping-keping.
Sejak pertama aku merelakan
waktu untuk membentang jarak bagi hubunganku dengan Liela−kekasih yang mencuri
keyakinan hati sejak di bangku SMA dulu. Aku dan Liela sudah dua tahun lamanya
memupuk rindu yang tersemai sejak kepergiannya. Ia mengejar pendidikan S1-nya
ke luar negeri. Malaysia. Sejauh ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Kita
hanya mengobati rindu dengan percakapan-percakapan yang sederhana lewat gagang
telefon. Media sosial adalah jembatan lain yang menghubungkan serombongan
gelisah ketika gejolaknya merajai hati. Kita selalu yakin terhadap apa yang
akan terjadi, bahwa akan menjadi sebuah keindahan yang tertunda. Sebagaimana
kata-kata yang Liela ucapkan dengan tulus pada saat terakhir kebersamaan di
pantai Lombang. “Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada
hari esok. Kita tidak bisa menduga jawaban apa yang akan menjelaskan gelisah
pada hari ini. Keindahan dan kesedihan hanya berada pada sejauh mana perasaan
mampu membungkusnya. Ketika ia tidak mampu, maka kesedihanlah yang akan hadir
sebagai jawaban apa yang kita usahakan. Namun sebaliknya, jika perasaan kita
kuat, apapun yang akan kita rasakan akan menjadi sebuah hikmah kebahagiaan”
ucapnya sembari memegang jemari tanganku.
Sejak saat itu air mata
menjadi saksi tulus merelakan kekasih pergi untuk mengejar pendidikannya. Liela
mengambil jurusan psikologi umum di salah satu universitas ternama di Malaysia.
Universitas Putera Malaysia. Liela mendapat program beasiswa di sana. Sedangkan
aku hanya kuliah di Kabupaten Sumenep, sang tanah kelahiran. Aku di Universitas
Wiraraja mengambil jurusan hukum. Jarak sejauh itu adalah sebuah jarak yang
cukup menyulitkan untuk membuang kecemburuan-kecemburuan yang menyerang serupa
serangan anak panah yang runcing. Sejauh kekuatan menepis perasaan-perasaan
buruk, aku selalu berusaha memalingkan semuanya. Namun belum dapat kita
pungkiri dengan banyaknya kesibukan kuliah, kadang juga menuai kecurigaan yang
berlebihan. Curiga ditambah curiga selalu melahirkan konflik yang selesai
dengan peretengkaran. Hanya saja diujung penyadaran dari salah satu, menjadikan
kita saling memaklumi. Maaf menjadi jalan lain demi keabadian sebuah hubungan.
Pernah pada suatu waktu
Liela tidak menghubungiku selama tiga hari. Spontan aku curiga terhadap apa
saja yang telah dia lakukan di sana. Dia tidak pernah mengangkat telefon dariku
selama itu. Kemarahanku pun tiba di batas sabar. Aku memarahi Liela.
Mengabaikan semua penjelasan yang dia berikan kepadaku. Meski Liela bilang
kalau dia tengah mendapat banyak tugas dari para dosen yang dari Indonesia. Dia
dikejar waktu secepatnya untuk mengerjakan tugas itu. Aku dengan mudah tidak
percaya. Fikiranku berkata lain. Aku terus menuntut dia sedang dengan wanita
lain, sengaja menghindar dari aku, sudah bosan dengan diriku. Sembarangan saja
kalimat yang terlepas tanpa kontrol. Hingga aku berniat menjauhinya. Tangis dan
tangis selalu menjadi isi kesunyian kamar. Namun pada kesempatan lain, saat
Liela meminta maaf mengakui kesalahannya yang tidak salah. Kita kembali berdamai.
Aku menerima maafnya. Hingga hubungan kembali harmonis seperti dahulu.
Bulan mengambang di antara
bintang-bintang. Suaara burung hantu bersahutan di antara janur kelapa. Aku meratapi dinding kamar yang terasa kosong.
Entah apa yang akan terjadi setelah aku kembali bersama dengan Liela. Menjadi
sepasang suami isteri. Aku yakin kelak kamar ini akan menjadi kamar sejarah
kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan pada kamar ini aku juga yakin akan ramai
dengan manja anak-anak kami. Duh, sudah terlalu jauh aku menghayal kehidupan.
Semenjak aku mencintai Liela, aku memang suka menghayal. Membayangkan tentang
kehidupan masa depan. Yang sebenarnya masih tidak jelas akan berbentuk seperti
apa terjadinya.
Sajadah terhampar menjadi
alas doa-doa. Rinai air mata berdansa di atasnya. Sejarak ini aku merasa rindu
membaur dengan cemburu. Aku ingin merasakan dekapan peluk seorang kekasih. Yang
kehangatan-kehangatannya mengantarkan aku pada sebuah arti makna ketenangan.
Bukan dengan salam-salam yang sama sekali tanpa tatapan wajah. Dan aku juga
tidak prnah merasa bahwa aku akan menjadi seorang yang sungguh-sungguh
dibahagiakan oleh Liela. Bahagia yang sungguh dicita-citakan oleh Liela.
Seperti ada yang aneh
memang dengan perasaanku sekarang. Aku terlalu gampang marah sama Liela.
Semenjak aku bergabung dengan salah satu organisasi eksternal kampus. Aku memiliki
banyak teman. Relasi dengan mereka semakin hari semakin kental. Sedangkan waktuku
yang luang untuk Liela hanya sebentar. Malam hari kadang sering aku ketiduran.
Meninggalkannya dalam ombrolan. Ditambah banyak kemarahan-kemarahan yang tidak
jelas kepadanya. Namun kadang aku memang sering merasa bersalah menghadapi
semua kenyataan ini.
***
Waktu berjalan dengan lambannya. Sungguh sangat lama dua
tahun ini bagi jiwa yang menunggu. Aku semakin dibuat pusing dengan jelmaan
rindu yang manakutkan sekali. Kadang ia berupa binantang buas. Juga tak jarang
ketika di dalam mimpi, ia serupa pria tampan yang memaksaku mencintainya.
Beberapa kali aku dilamar oleh pemuda desa sini. Para tokoh-tokoh masyarakat
yang hadir ke rumah untuk meminangku, tidak satu pun di antara mereka yang aku
terima. Hati ini masih terlalu kaku. Sudah teguh untuk mencintai kekasih hati
yang sudah lebih dulu meyakini jiwa. Bahwa tidak akan ada bahagia lain sehebat
bahagia bersamanya. Bahkan insya Allah, hanya hati Liela yang suci mencintaiku.
Maka atas dasar kerinduan. Ketulusan cinta. Kesucian
hati, aku berani menuaikannya lewat tulisan untuk selalu memberi kehidupan
seabadinya atas rasa yang sedang aku miliki saat ini. Sering aku bertukar pesan
sebagai bentuk pengungkapan hati yang tengah dirundung asmara. Namun demikian
tidak berlangsung lama. Perasaan perlahan mulai memudar kepada kekasih yang tak
tersekat waktu walau sebenarnya terkotak oleh jarak. Sejak aku aktif di
organisasi eksternal kampus. Betapa tidak terpungkiri adanya bahagia-bahagia
yang merangsang nadi penghidupan. Perkenlanku dengan kakak senior bernama Junaidi,
sedikit banyak telah merubah bentuk hati yang mulai tidak utuh lagi. Utamanya
pada keutuhan hati yang coba aku teguhkan dengan cinta kepada Liela.
Pada saat ini aku menemukan dunia baru. Dunia yang
membentuk bahagia tersendiri dalam kalbu. Tidak ada kesibukan yang membuat
renggang berkomunikaasi dengan kekasih menjadi hal mengecewakan dan
menyakitkan. Melainkan telah menjadi sebuah keinginan yang semakin ingin aku
kecap akhir-ahir ini. Tiada aku duga aku akan dilema hal mengindahkan itu. Pada
sisi lain aku ingin mempertahankan perasaanku dengan Liela. Namun pada sisi
yang lain juga aku seakan tidak percaya dengan kehidupan yang membelenggu
serupa hantu-hantu menakutkan itu. Itulah kerinduan yang selalu membuat hati
ini resah.
“Sudah lah Rof. Sebaiknya kau ikuti saranku. Kau lupakan
saja Liela. Bukankah kamu sering tidak diperhatikan olehnya dengan
alasan-alasan yang tidak masuk akal seperti itu. Kau harus membuka hati yang
baru selama dia jauh. Kamu wanita yang cantik. Aku yakin akan banyak laki-laki
yang mau menjadi pacarmu. Itu si kak Junaidi.” Ucap Husna kepadaku saat aku
mencoba mencurahkan kekalutan jiwa.
Aku belum begitu yakin dengan saran yang ditawarkan
sahabatku Husna. Itu semua karena hati ini memang benar masih memiliki rasa
dengan Liela. “Kesibukanya kan kerena dia banyak tugas. Bukan kesibukan yang
tidak penting kan Na? Gimana ya? Aku bingung, dilema. Apalagi saat kak Junaidi
kemarin bilang kalau dia suka sama aku.” Jawabku sembari meneteskan air mata.
Aku sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini. Dua laki-laki yang sama
menawarkan bahagia kepada diriku. Aku menyandarkan kepala di pundak Husna.
Malam dengan langit berkabut menutupi sejajaran bintang-bintang. Bulan tidak
terlihat menggantung lagi di atas sana. Kilat membentuk cahaya dengan cepatnya,
seperti cahaya lampu kamera wartawan yang sedang mewawancarai seseorang terkena
kasus. Mungkin aku diantaranya yang tengah bersidang dengan perasaan. Gemuruh
guntur mengeleggar dari balik awan. Sebentar lagi hujan akan turun. Mungkin
setelah gerimis ini bosan dengan rintiknya yang tidak membahagiakan bumi.
Sesuai dengan saran sahabatku, Husna. Aku menerima kak
Junaidi sebagai pengganti kekosongan hati saat ditingal Liela. Aku mulai
menghindar dari Liela. Namun aku tidak berani memutuskan dia. Aku ingin dia
yang mengucapkan kalimat sedih itu duluan. Bukan aku. Aku merasa sedikit resah
dengan gelutan perasaan ini. Ada rasa yang tidak tega kepada Liela yang telah
aku tinggalkan tanpa sebab musabab pasti. Beberapa kali Liela menghubungiku.
Maka aku juga tidak pernah menanggapinya. Hingga pada suatu malam. Seminggu
setelah aku menghindar dari Liela. Seminggu pula usia jadianku dengan kak
Junaidi, tiba-tiba ada sms dari Liela yang tidak terbaca. Ku buka pelan-pelan
pesan singkat itu dengan gundahan hati yang sungguh gulana ketakutan dengan
keramaian sedih yang akan mengisi.
“Rovit kekasihku.
Bergetar tangan ini tatkala hendak menuliskan suara hati yang tengah bersedih
ini. Lantaran aku sudah mendengar, sudah pula mengetahuinya. Engkau yang sudah
tidak akan pantas lagi dengan segenap pengharapan ini. Aku yang sudah haram
atas deretan doa-doa sucimu. Sungguh itu adalah maut yang tidak bersayap. Maut
yang merangkak menghampiriku dalam negeri kosong ini. Aku di sini sudah tidak
memiliki siapa-siapa. Dan kepunyaan yang akan memberiku ruang di negeri
sendiri, kini pintunya sudah tertutup untuk laki-laki sepertiku. Aku tidak tahu
kepada siapa lagi rangkaian bait puisi akan mengadu, mencari orang untuk
menjadi tempat terindahnya bercurah. Dosa apakah yang aku lakukan terhadapmu?
Sehingga engkau menjadi sekejam ini. Membunuh segenap harapan yang aku yakini
adalah nafas lain kehidupanku sekarang hingga kelak kematian tiba. Apa kau
dijodohkan oleh sahabatmu? Jika benar, aku yakin cintamu sungguh tidak suci
kepada kekasih barumu. Kamu hanya menjadikannya sebagai sandaran belaka dalam
rindu jarak kita. Maka akan sungguh kejam hatimu sebagai wanita Vit. Kamu
menganiaya banyak hati, lalu memutilasinya hingga menjadi berkeping-keping. Aku
harap Tuhan memaafkan segala dosamu. Aku akan mendoakanmu dari jauh, mantan
hati.”
Air mata menetes tak terasa. Hingga basah seluruh pipi
yang bergurat duka. Lengang seketika kamarku. Bahagia yang sedari tadi aku
tenun dengan berjalan-jalan dengan kak Junaidi, hilang menjadi serpihan kalimat
sesal yang menyelubungi seluruh ruangan. Husna yang berdiri diambang pintu,
rupanya melihatku dari tadi. Ia mendekat menghampiriku. Berbicara banyak
sekali, tapi fikiranku belum menangkap apa yang dia katakan. Sepertinya dia
menjadi sosok motivator yang memberiku semangat. Husna menyarankan untuk aku
lebih tegar menghadapi keadaan ini. Sebuah keyakinan yang tidak kuduga akan
lebih membuat hati terhujam.
“Na, kamu jangan bilang-bilang pada siapapun kejadian
ini. Termsuk kepada kak Junaidi. Aku tidak mau semuanya semakin berantakan.”
Aku menyampaikan sesuatu kepada Husna yang sudah banyak sekali bicara dari tadi
di sampingku.
“Ok. Sebagai sahabat kamu, aku tidak akan bilang pada
siapaun kejadian ini. Kamu tenang saja. Sebaiknya kau jelaskan yang sebenarnya
kepada Liela sekarang. Balas saja itu sms-nya.” Saran Husna sembari menepuk
bahuku memberi semangat dan beranjak pergi dari kamarku, meninggalkan aku
sendirian dengan tanda tanya hidup. Betapa aku memang ingin mengatakan yang
sesungguhnya kepada Liela. Akan sirna semua ketulusan yang pernah terbangun
dalam hidup sedari dahulu. Jemari mulai menari-nari di atas tombol HP.
Merangkai beberapa kata sehingga menjadi sebuah bungkusan kalimat indah. Aku
tidak ingin ada yang lebih tersinggung dari kalimatku nanti. Walau sebenarnya
singgungan sudah menikam keras hati Liela. Ia sudah benar-benar merasa kecewa
kepada diriku yang mengabaikannya.
“Aku tidak
disatukan oleh siapapun. Tidak ada peran orang ketiga dalam kejadian ini.
Sahabatku tidak terlibat. Aku menentang hati sendiri, menantang janji-janjiku
padamu. Maafkan aku. Namun ini adaah murni pilihan hati untuk menjadikan rindu
tidak lagi sesakit yang kerap aku rasa sepanjang waktu. Aku melakukan tindakan
seperti ini, karena aku butuh bahu untuk bersandar kala bersedih. Ada jemari
yang akan menyeka air mata. Ada pelukan hangat yang akan menjadi selimut dalam
dinginku sepanjang malam. Maafkan aku, aku memang telah mengecewakanmu. Sekali lagi itu semua karena
aku tidak bisa tenang dalam jarak ini. Dalam kerinduan yang sering menghujam
ganas ulu hati dengan kebingungan-kebingungannya. Aku tidak mau menjadi gila.
Maafkan aku...”
Itulah pesan singkat yang aku kirim sebagai balasan pesan
sedih kepada Liela. Kekejaman hanya akan menjadi sangat terasa jika seseorang
benar-benar mendapat ketulusan dalam hatinya. Jiwanya tersemai dengan bebijian
suci. Hanya sayang, demikian yang ingin sekali aku dapati atas hati sendiri,
tidak bisa seindah mimpi. Perpisahan akan menjadi sebuah pelajaran. Kesedihan
akan menjadi obat penguat agar hati sebisanya tegar dalam segala kondisi.
Langkah yang baik atas keyakinan dan doa-doa, sejatinya tetaplah berbuah
hikmah. Tidak jauh berbeda dengan kejadian musim. Orang yang mengeluh karena
kemarau panjang. Sebagian orang lagi mengeluh karena banjir atas musim hujan
yang berhari-hari tanpa redah. Untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup
manusia hanya cukup menyediakan rasa syukur. Syukurilah, karena setiap yang
telah dikerjakan dengan kesadaran akan menjadi jawaban yang memusakan, walau
itu tidak sesuai pilihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.