Tak
ada yang terencanakan sebelumnya akan kejadian se rentang ini. Jarak yang
memisahkan dua hati bukan soal seberapa tua dia menjadi pecinta. Atau bahkan
seberapa kaya harta yang dimiliki. Sehingga jarak dan kerinduan bisa
terkalahkan dengan satu perbuatan. Namun yang terjadi bagi Liela, jarak dan
kerinduan mampu tertekur pada satu mantra saja. Sebuah mantra yang tak jengah
terselip antara getar bibirnya. Maka pada malam itu juga kerinduannya bertumpah
ruah, sampai kaki pun enggan untuk melangkah karena terbelit rindu. Sebagai
sosok perantauan ia tidak dapat memungkiri tetang hadirnya rindu dalam setiap
detak langkah hidupnya. Hanya saja malam itu lebih dari pada rindu yang
sebelumnya. Kehadirannya serupa takdir. Kerinduan kepada kekasihnya Rovit,
telah menjelma ruang yang tak berpintu. Ia kebingungan ingin keluar.
Mendeklarasikan kemerdekaannya dari jajahan rindu. Namun, ia tak kuasa sebagai
laki-laki.
###
Matahari menyiram lembut
punggung mobil jalan raya. Gedung menjulang kaku tersapu tuntas ujungnya dengan
semburat surya. Pagi cukup pesona sebagai suasana kota. Klakson kereta melenguh
indah menyibak suasana pelamun di kota ini. Yogyakarta. Sebagai kota pelajar,
tidak terpungkiri Jogja ini menjadi seperti media yang menampung miliaran
pasang mata beradu tatap yang berasal dari beberapa sudut wilayah dunia.
Keramaian menjadi penghias indah kota Jogja. Liela memang masih setahun lebih
beberapa bulan di kota ini. Butuh keinginan yang besar untuk menjadi kerasan
beradaptasi dengan masyarakat kota. Semenjak belasan tahun hidup Liela di desa,
kini ia tertuntut menjadi salah satu komponen pelengkap masyarakat kota. Adalah
keanehan ketika awal-awal Liela tiba. Banyak kebebasan bergaul yang ia tidak
pernah ia temui di daerahnya, Madura. Bukan soal relegius, bukan soal kultur,
bukan juga soal sosial, bahkan bukan soal megah pembangunan daerah. Namun ada
hal lain yang membuat hatinya terasa ganjil berada di kota yang menjauhkan
dirinya dari tempat kelahiran. Demikian adalah berjaraknya dengan sang kekasih
hatinya, Rovit.
Begitulah awal kerinduan
yang menggerogot jiwanya tidak sopan. Sebelum ia berangkat mengejar pendidikan
ke kota Yogjakarta. Kuliah. Sebenarnya sangat berat bagi Liela. Entah apa yang
akan terjadi jika benar memang dia terpisah dengan Rovit. Ia tahu bagaimana
tradisi masyarakat di daerahnya. Tradisi yang tidak akan menutup kemungkinan
akan menjadikan Liela gila. Menghapus seluruh nafsu makannya. Ya, orang bilang
salah satu penghambat orang lupa makan dalam keadaan sehat jasmani ada dua.
Yang pertama karena rasa cinta yang mendalam. Selanjutnya karena merasakan
sakit yang mendalam. Bagi masyarakat Madura nikah di usia dini bukan persoalan.
Juga sama sekali tidak menyangkut soal masa depan. Apa lagi mereka memegang
teguh “Orang yang menikah akan dimudahkan rezekinya.” Jika tidak dinikahkan,
ditunangkan. Dua hal itu yang menjadi hantu bagi kerinduan Liela pada Rovit.
Hantu yang menjelma dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat.
Kemarau terhimpit ranting
kelor. Siwalan daunnya saling melambai dengan janur-janur menyambut desau angin
barat. Dalam riak air laut nun jauh di sana ikan menari-nari di kedalamannya.
Menetas keirian di kaki pegunungan dada Liela. Luas hutan masih enggan hijau,
menunggu kapan hujan menyapa kembali bumi. Yang tetesnya akan abadi dalam
dingin pelukan halal seorang kekasih. Liela teringat bagaimana senja memungkas
kejam percakapannya dengan Rovit. Alam sore merinai sumbang. Elegi meratu pada
hatinya yang kelabu.
Rovit di ujung telepon
mengawali gurat duka berbimbang, “Lie, tidak jarang geresak daun jati kering
akan berbunyi bila kaki-kaki menginjaknya sekemarau ini. Bahkan hujan yang
belum turun akan menjadikan penghuni bumi mencari air ke sumur-sumur. Dan
tumbuhan yang butuh bertahan hidup sekalipun, akan menjalarkan akarnya di bawah
tanah mencari sisa-sisa lembab air, Lie. Tapi aku tidak menjajikan seperti
mereka hanya karena persoalan jarak. Cukup kamu meyakini hatimu, bahwa tidak
ada musim yang tidak berganti. Jika kau mengenal malam, jangan takut, siang
akan menyelesaikan takutmu untuk kembali menanam bebijian cinta di sawah-sawahku.
Juga dengan senja ini, kita tidak perlu menakutinya. Resapi semua proses menyambut
paginya. Kita akan sementara bermimpi seindah mungkin kala malam menjelmakan
gelap pada jarak kita. Percayalah.”
“Aku paham mengenai hatimu
Vit. Tapi akankah ada yang mengerti selain kita berdua, bagaimana jika nanti
rindu menggerogoti seluruh syaraf penghidupanku. Tentu akan kejam kemarau
bagiku yang membuat pohon, sumur mengering sampai kehausan. Dan malam akan
menjadikan tempat bersimbah darah bagi kita. Karena tidak satu malaikat Tuhan
berani melerai mimpi kita yang saling membunuh, Vit.” Timpal Liela dengan
tergurat sendu pada kalimatnya. Suasana alam sore semakin perak memisah siang
di kaki langit.
Percakapan telepon genggam
senja itu adalah percakapan terakhirnya di tanah kelahiran. Jam 21.00 nanti
Liela akan berangkat jauh memikul kerinduan.
###
Semua kenangan menguak ke
permukaan malam. Menjadi pemersatu ratu rindu di istana khayalan. Malam minggu
ditengah keramaian kos dengan sosok wanita yang tertawa geli adalah kecemburuan
Liela pada kamar sebelah. Tidak ada aktivitas lebih membosankan selain malam
minggu. Ya, baginya adalah malam terjahat. Bagaimana tidak? Akibat kecemburuan
Liela yang terlalu kepada Rovit membuat hubungannya terputus sejenak. Mereka
tidak saling berhubungan selama satu bulan lebih. Kejadian seperti itu adalah
hal biasa yang menimpa sebagai nasib hubungan mereka. Telah menjadi budaya bagi
Liela jika sudah terjadi masalah dengan kekasihnya, maka ia memilih tidak
berhubungan. Demikian bukan karena ia tidak merasa cinta. Karena setiap
waktunya doa tidak pernah malu-malu meronta manja pada Tuhan.
Remang merkuri jalanan
terbungkus kabut langit gelap. Bintang-gemintang bertabur rapi di atas langit.
Menambah elok malam yang melanda suasana hati Liela. Sudah lama ia tidak
menetas canda bersama Rovit. Betapa ia ingin menghabiskan malam minggunya tanpa
bekas dengan keindahan meski dalam jarak yang terbentang kaku. Malam itu
rupanya menjadi terobrak-abriknya kerinduan Liela. Derring nada telepon
menjelma gema yang seluruh isi kamar menjadi tertunduk. Kemilau cahaya layarnya
memperlihatkan nama kerinduannya. Rovit memanggil. Miliaran rasa berhamburan
mengelilingi Liela. Entah apa yang harus dia bahasakan untuk mengalahkan maaf
kesalahan. Atau dengan kalimat indah bagaimana bahwa dirinya ingin berobat.
Lantaran candu rindu sudah membuatnya kedinginan malam-malam.
Setelah beberapa menit
tergilas nostalgia percakapan. Ada yang membuat Liela sedikit mengernyit. Ia
tidak paham kenapa ada nuansa berbeda yang dibawa hembus angin malam minggu.
Hembusan yang serupa pengabaian. Atau memang adalah sebuah pembalasan. Bahkan
sekerbai pembelajaran agar dosa masa lalu ia tebus sebagaimana maaf teruntai
dengan pembuktian. Namun hal-hal seperti itu bukan menjadi salah satu cara
bagaimana Liela takdzim terhadap perasaan rindu. Ia semakin merasa bahwa rindu
bukan untuk sebuah pembicaraan. Bukan untuk sebuah pertemuan. Karena rindu yang
dengan kesucian sejatinya adalah mediasi doa-doa suci. Begitulah yang akan
Liela pegang sejauh ini. Termasuk kejadian Satu Malam Untuk Rindu. :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.