Selasa, 10 November 2015

SATU MALAM UNTUK RINDU



            Tak ada yang terencanakan sebelumnya akan kejadian se rentang ini. Jarak yang memisahkan dua hati bukan soal seberapa tua dia menjadi pecinta. Atau bahkan seberapa kaya harta yang dimiliki. Sehingga jarak dan kerinduan bisa terkalahkan dengan satu perbuatan. Namun yang terjadi bagi Liela, jarak dan kerinduan mampu tertekur pada satu mantra saja. Sebuah mantra yang tak jengah terselip antara getar bibirnya. Maka pada malam itu juga kerinduannya bertumpah ruah, sampai kaki pun enggan untuk melangkah karena terbelit rindu. Sebagai sosok perantauan ia tidak dapat memungkiri tetang hadirnya rindu dalam setiap detak langkah hidupnya. Hanya saja malam itu lebih dari pada rindu yang sebelumnya. Kehadirannya serupa takdir. Kerinduan kepada kekasihnya Rovit, telah menjelma ruang yang tak berpintu. Ia kebingungan ingin keluar. Mendeklarasikan kemerdekaannya dari jajahan rindu. Namun, ia tak kuasa sebagai laki-laki.
###
            Matahari menyiram lembut punggung mobil jalan raya. Gedung menjulang kaku tersapu tuntas ujungnya dengan semburat surya. Pagi cukup pesona sebagai suasana kota. Klakson kereta melenguh indah menyibak suasana pelamun di kota ini. Yogyakarta. Sebagai kota pelajar, tidak terpungkiri Jogja ini menjadi seperti media yang menampung miliaran pasang mata beradu tatap yang berasal dari beberapa sudut wilayah dunia. Keramaian menjadi penghias indah kota Jogja. Liela memang masih setahun lebih beberapa bulan di kota ini. Butuh keinginan yang besar untuk menjadi kerasan beradaptasi dengan masyarakat kota. Semenjak belasan tahun hidup Liela di desa, kini ia tertuntut menjadi salah satu komponen pelengkap masyarakat kota. Adalah keanehan ketika awal-awal Liela tiba. Banyak kebebasan bergaul yang ia tidak pernah ia temui di daerahnya, Madura. Bukan soal relegius, bukan soal kultur, bukan juga soal sosial, bahkan bukan soal megah pembangunan daerah. Namun ada hal lain yang membuat hatinya terasa ganjil berada di kota yang menjauhkan dirinya dari tempat kelahiran. Demikian adalah berjaraknya dengan sang kekasih hatinya, Rovit.
            Begitulah awal kerinduan yang menggerogot jiwanya tidak sopan. Sebelum ia berangkat mengejar pendidikan ke kota Yogjakarta. Kuliah. Sebenarnya sangat berat bagi Liela. Entah apa yang akan terjadi jika benar memang dia terpisah dengan Rovit. Ia tahu bagaimana tradisi masyarakat di daerahnya. Tradisi yang tidak akan menutup kemungkinan akan menjadikan Liela gila. Menghapus seluruh nafsu makannya. Ya, orang bilang salah satu penghambat orang lupa makan dalam keadaan sehat jasmani ada dua. Yang pertama karena rasa cinta yang mendalam. Selanjutnya karena merasakan sakit yang mendalam. Bagi masyarakat Madura nikah di usia dini bukan persoalan. Juga sama sekali tidak menyangkut soal masa depan. Apa lagi mereka memegang teguh “Orang yang menikah akan dimudahkan rezekinya.” Jika tidak dinikahkan, ditunangkan. Dua hal itu yang menjadi hantu bagi kerinduan Liela pada Rovit. Hantu yang menjelma dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat.
            Kemarau terhimpit ranting kelor. Siwalan daunnya saling melambai dengan janur-janur menyambut desau angin barat. Dalam riak air laut nun jauh di sana ikan menari-nari di kedalamannya. Menetas keirian di kaki pegunungan dada Liela. Luas hutan masih enggan hijau, menunggu kapan hujan menyapa kembali bumi. Yang tetesnya akan abadi dalam dingin pelukan halal seorang kekasih. Liela teringat bagaimana senja memungkas kejam percakapannya dengan Rovit. Alam sore merinai sumbang. Elegi meratu pada hatinya yang kelabu.
            Rovit di ujung telepon mengawali gurat duka berbimbang, “Lie, tidak jarang geresak daun jati kering akan berbunyi bila kaki-kaki menginjaknya sekemarau ini. Bahkan hujan yang belum turun akan menjadikan penghuni bumi mencari air ke sumur-sumur. Dan tumbuhan yang butuh bertahan hidup sekalipun, akan menjalarkan akarnya di bawah tanah mencari sisa-sisa lembab air, Lie. Tapi aku tidak menjajikan seperti mereka hanya karena persoalan jarak. Cukup kamu meyakini hatimu, bahwa tidak ada musim yang tidak berganti. Jika kau mengenal malam, jangan takut, siang akan menyelesaikan takutmu untuk kembali menanam bebijian cinta di sawah-sawahku. Juga dengan senja ini, kita tidak perlu menakutinya. Resapi semua proses menyambut paginya. Kita akan sementara bermimpi seindah mungkin kala malam menjelmakan gelap pada jarak kita. Percayalah.” 
            “Aku paham mengenai hatimu Vit. Tapi akankah ada yang mengerti selain kita berdua, bagaimana jika nanti rindu menggerogoti seluruh syaraf penghidupanku. Tentu akan kejam kemarau bagiku yang membuat pohon, sumur mengering sampai kehausan. Dan malam akan menjadikan tempat bersimbah darah bagi kita. Karena tidak satu malaikat Tuhan berani melerai mimpi kita yang saling membunuh, Vit.” Timpal Liela dengan tergurat sendu pada kalimatnya. Suasana alam sore semakin perak memisah siang di kaki langit.
            Percakapan telepon genggam senja itu adalah percakapan terakhirnya di tanah kelahiran. Jam 21.00 nanti Liela akan berangkat jauh memikul kerinduan.
###
            Semua kenangan menguak ke permukaan malam. Menjadi pemersatu ratu rindu di istana khayalan. Malam minggu ditengah keramaian kos dengan sosok wanita yang tertawa geli adalah kecemburuan Liela pada kamar sebelah. Tidak ada aktivitas lebih membosankan selain malam minggu. Ya, baginya adalah malam terjahat. Bagaimana tidak? Akibat kecemburuan Liela yang terlalu kepada Rovit membuat hubungannya terputus sejenak. Mereka tidak saling berhubungan selama satu bulan lebih. Kejadian seperti itu adalah hal biasa yang menimpa sebagai nasib hubungan mereka. Telah menjadi budaya bagi Liela jika sudah terjadi masalah dengan kekasihnya, maka ia memilih tidak berhubungan. Demikian bukan karena ia tidak merasa cinta. Karena setiap waktunya doa tidak pernah malu-malu meronta manja pada Tuhan.
            Remang merkuri jalanan terbungkus kabut langit gelap. Bintang-gemintang bertabur rapi di atas langit. Menambah elok malam yang melanda suasana hati Liela. Sudah lama ia tidak menetas canda bersama Rovit. Betapa ia ingin menghabiskan malam minggunya tanpa bekas dengan keindahan meski dalam jarak yang terbentang kaku. Malam itu rupanya menjadi terobrak-abriknya kerinduan Liela. Derring nada telepon menjelma gema yang seluruh isi kamar menjadi tertunduk. Kemilau cahaya layarnya memperlihatkan nama kerinduannya. Rovit memanggil. Miliaran rasa berhamburan mengelilingi Liela. Entah apa yang harus dia bahasakan untuk mengalahkan maaf kesalahan. Atau dengan kalimat indah bagaimana bahwa dirinya ingin berobat. Lantaran candu rindu sudah membuatnya kedinginan malam-malam.
            Setelah beberapa menit tergilas nostalgia percakapan. Ada yang membuat Liela sedikit mengernyit. Ia tidak paham kenapa ada nuansa berbeda yang dibawa hembus angin malam minggu. Hembusan yang serupa pengabaian. Atau memang adalah sebuah pembalasan. Bahkan sekerbai pembelajaran agar dosa masa lalu ia tebus sebagaimana maaf teruntai dengan pembuktian. Namun hal-hal seperti itu bukan menjadi salah satu cara bagaimana Liela takdzim terhadap perasaan rindu. Ia semakin merasa bahwa rindu bukan untuk sebuah pembicaraan. Bukan untuk sebuah pertemuan. Karena rindu yang dengan kesucian sejatinya adalah mediasi doa-doa suci. Begitulah yang akan Liela pegang sejauh ini. Termasuk kejadian Satu Malam Untuk Rindu. :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.