Puluhan sapi berjajar
siap dilotreng2. Dibawah
kepala matahari dan kerontangnya tanah Madura, Juhari berkumpul dengan banyak orang. Menyaksikan pagelaran lotrengannya sapi. Mata terpana melihat kemolekan
tubuh-tubuh sapi betina. Berkalung kuningan, bunga-bunga, dan pernak-pernik
berpendar menghias cantik sapi lotreng. Lulur
kunyit menambah elok dipandang bulunya yang merah tua. Tubuhnya yang sintal, mengkilap dan
wangi. Sapi lotreng betina sudah melebihi cantiknya wanita Madura.
“Lihat Ju, sapi Gani lebih cantik
dari istriku.” Rahmat membisikkan ditelinga Juhari sambil cengar-cengir lirih
karena takut didengar isterinya yang berada di samping Rahmat.
Penononton tak jenuh walau berjam-jam
mematung di pinggir arena. Alunan saronen3
terus mengaung-ngaung dari corongan4
yang dikat di atas pohon kelapa. Sapi gani diarak. Riuh sorak penonton iringi
gerak penjung5 penandhe’ yang dimainkan sesuai talu gendang saronen.
Juhari menyuntikkan senyum pada gemulai pinggul Susmiati. Susmiati tidak hanya
menjadi penandhe’ pada saat ada acara
kerapan sapi atau lotrengan saja. Dia
juga bergabung dengan salah satu grup najheghe6.
Saronen
terus bertalu. Penonton dibuat terperangah oleh sapi Gani. Kedip matanya
yang indah, jalannya yang gemulai, dan manik-maniknya berkilauan menggoda hati.
Penggiring dan pemilik sapi
bergoyang-goyang sambil menyelipkan uang di lekukan payudara Susmiati. Ada pula
yang mengalungkan uangnya di leher penandhe’
cantik itu. Sudah menjadi
pemandangan yang tidak enak dipandang bagi Juhari. Runcing mata Juhari menatap nancap di wajah
Susmiati yang sibuk menyingkirkan laki-laki di hadapannya. Senja memungkas siang, tapi petunjukan belum
juga selesai. Tinggal sebentar lagi.
Penontong berhamburan menjuju jalan
pulang ke arah rumah masing-masing. Juhari berusaha mencari Susmiati yang
hilang ditelan ribuan tubuh penonton. Ia yakin kekasihnya tidak akan
meninggalkan dia seorang diri dengan kerinduan, di tengah lapangan. Keyakinan
itu selalu berbisik, bahwa Susmiati pun ingin bersua dengannya. Walau sekedar saling bertukar
pandang. Akhirnya mata Juhari tertuju pada satu sosok perempuan di bawah pohon
siwalan dengan rambut disanggul, layaknya para penandhe’. Perlahan ia mengangkat jemarinya dan mulai bergerak pelan-pelan. Rindu Juhari meleleh setelah
menyaksikan senyum yang ikhlas dari Susmiati.
***
“Benarkah??” Suli terkejut.
“Aku serius. Katanya mau
dinikahkan.” Juhari mempertegas sembari menampakkan wajah yang layu kepada Suli.
“Perjuangkan Ju. Aku dukung kamu.”
Ditepuk bahu Juhari oleh Suli, untuk
memberi semangat buat
sahabatnya itu. Keduanya terus berdialektika menukar pendapat antara yang satu dengan
yang lainnya. Kopi dan rokok menjadi
teman setia bagi Juhari dan Suli malam itu.
Kembalinya kecewa ke dalam kehidupan
Juhari, menyiratkan luka mendalam yang dulu juga pernah ia rasakan. Kisah cinta
dengan Rahmah terpenggal di ujung luka. Rahmah menikah dengan laki-laki pilihan
orang tuanya. Saat ini Juhari kembali akancmenelan
luka dengan sakit yang sama. Namun dia tidak ingin menumpas hikayat cintanya di senja penghujung lotrengan.
Hening malam menyumpahi tekat yang
bulat. Rembulan berpadu pandang dengan bintang. Mereka sesekali melirik pada
sosok lelaki yang menikmati sunyi yang sepi. Hatinya kesengsem pada wanita
berbibir jeruk saloni7.
Juhari tidak sanggup bila harus menelan pil malu lagi dari buah bibir
masyarakat yang kompak menggunjing kesendiriannya. Ia akan memenggal leher Gani
bila perlu. Baginya cinta tidak harus mengenal anyir darah. Terciut fikiran Juhari mengingat kejadian di
pertunjukan lotrengan beberapa minggu
lalu. Saat itu Gani berani menyelipkan
uang ke lekuk payudara Susmiati. Darah Juhari langsung mendidih pada saat itu. Ditambah sorak penonton yang
seakan tertuju pada dirinya. Saronen pun tidak segan-segan
mengaung seperti tawon yang terperangkap di gendang telinga Juhari. Hatinya terus
bertasbih untuk bisa berbicara dengan Gani. Meneriakkan di telinganya, bahwa dialah yang
pantas mendapatkan Susmiati.
Besok ada pesta pernikahan di desa
Juhari. Hiburannya diisi dengan pertunjukan tandhe’
yang ada di bawah naungan najheghe Puteri
Kerawitan. Sebuah kelompok musik gendingan yang cukup terkenal di Madura.
Susmiati ikut bergabung dengan Puteri Kerawitan. Bercak luka perlu dihapus,
setidaknya wajah seorang kekasih yang gemintang mampu menghapusnya. Walau hanya sebagian, pastilah ada redah.
Hati Juhari berdengung untuk bisa menemui Susmiati di acara itu.
***
Kaca di depan matanya menggambarkan
sosok Susmiati yang merona sebagai penandhe’.
Sejumlah alat solek tertata rapi di meja wanita mungil itu. Semerbak melati di
sela-sela rambutnya yang disanggul menguasai ruang hiasnya. Bedak menyulap
wajahnya menjadi lebih merona seperti telaga susu. Siapa yang tidak akan tertarik dengan seorang Susmiati sang penandhe’
bila sudah berdandan matang? Rona wajah penandhe’
itu sudah ranum, dan siap untuk dipandang.
Seorang penandhe’ seperti
Susmiati wajib berdandan secantik mungkin. Karena penandhe’ dalam acara pernikahan akan disuruh menyambut tamu-tamu
undangan dengan tarian dan ngijung8.
Biasanya kalau tokoh-tokoh besar,
seperti Kepala Desa akan mendapat kesempatan untuk ngijhung. Dia akan dibawakan selendang yang dibawa oleh seorang gelandang9 sembari diiringi talu musik gendigan Madura. Karena setiap orang
yang mendapatkan kalungan selendang di lehernya, maka dia wajib menemani penandhe’ di atas panggung. Atau kalau tidak bisa ngijung, ia bisa mewakilkan pada orang
lain. Namun biasanya harus dibayar. Susmiati juga kadang mewakili seorang gelandang untuk mengalungkan selendang.
Riuh corongan dengan senandung
gending-gending Madura begitu gema. Suasana pagi yang masih suci. Bunga-bunga
masih segar memekar. Mentari hangat menyelimuti bumi yang dingin. Juhari
menyelipkan harap dalam sahajanya. Lantaran dia ingin mengucapkan kata kepada
Susmiati. Kata yang mewakili segala kabar dukanya. Akan dia katakan semua
tentang kecemburuan pada pagi yang indah. Akan dia sampaikan keirian hatinya
melihat manik-manik di baju Susmiati yang menyungging meleceh. Atau dirinya yang terpasung
dengan cinta kepada wanita tandhe’.
Ia menemui kekasihnya di balik
panggung.
“Aku
mencintaimu Susmiati.” Kecipak laut tibak-tiba sunyi ketika Juhari mengutarakan
perasaannya denga nada yang melas berlinang air mata.
“Aku juga. Namun akun tidak mau jika
celurit memutus urat lehermu.” Derai air mata pun mengalir dari mata Susmiati.
Menghanyutkan bedak diwajahnya. Menghapus telaga susu, raut mukanya tampak
menjadi layu.
“Jika Hanya dengan ujung celurit aku
bisa mendapatkanmu, akan aku lakukan.” Sembari menyeka rasa takut di wajah Susmiati yang
mengalir.
Ucapan juhari menjadi oksigen yang
dihirup dan dikeluarkan sejak saat itu. Dadanya kembang kempis menerka sulit
mencari keindahan. Lantaran jantungya,
hanya siap berdetak bila ia merenda kasih dengan Susmiati.
Gemerincing gelang kaki dan irama
gendingan menggiring ritme jalan Susmiati. Perlahan dia hilang dari
hadapannya. Juhari merapikan janji dan
harus kembali menyemai luka. Dia belajar mengalirkan darah, hanya karena
gara-gara wanita. Kesedihan dari citanya telah melahirkan carok sebagai bukti
kelakian-lakian dari buah bibir masyarakat. Dagingya yang terbuat dari garam
sudah terlalu asin. Pulau yang menyusuinya dengan air laut sudah tidak dapat
dinikmati. Kini
ia sudah hidup dengan nafas yang berbeda. Sekian !
Catatan:
1. penandhe’:
Berasal dari bahasa Madura. Asal katanya tandhe’,
sedang tandhe’ adalah wanita yang
bisa menari dan bisa menembang. Penandhe’
adalah seorang yang menjadi tandhe’.
2. Lotrengan:
adalah kebudayaan masyarakat Madura. Atau sering dikenal dengan sebutan sapi
sonok, dimana dua ekor sapi dihias secantik ungkin. Biasanya acara lotrengan
dilakukan setelah selesai panen tembakau, sebelum menanam padi.
3. Saronen:
Adalah alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi acara kerapan sapi
ataupun sapi sonok.
4. Corongan:
Bahasa Madura untuk alat pengeras suara.
5. Penjhung:
Bahasa Madura dari Selendang
6. Najeghe:
Grup musik gendingan yang didalamnya di isi oleh para tandhe’.
7. jeruk saloni:
Ungkapan kecantikan terhadap seorang wanita ketika hanya melihat bibirnya. Bibir jeruk Saloni arti bahasa
Indonesianya adalah “Bibirnya seperti irisan jeruk”.
8. Ngijung:
Artinya sama dengan nembang atau bernyani. Namun menggunakan bahasa Madura
sya’irnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.