Senin, 01 Juni 2015

PENANDHE’1


            Puluhan sapi berjajar siap dilotreng2. Dibawah kepala matahari dan kerontangnya tanah Madura, Juhari berkumpul dengan banyak orang. Menyaksikan pagelaran lotrengannya sapi. Mata terpana melihat kemolekan tubuh-tubuh sapi betina. Berkalung kuningan, bunga-bunga, dan pernak-pernik berpendar menghias cantik sapi lotreng. Lulur kunyit menambah elok dipandang bulunya yang merah tua. Tubuhnya yang sintal, mengkilap dan wangi. Sapi lotreng  betina sudah melebihi cantiknya wanita Madura.
            “Lihat Ju, sapi Gani lebih cantik dari istriku.” Rahmat membisikkan ditelinga Juhari sambil cengar-cengir lirih karena takut didengar isterinya yang berada di samping Rahmat.
            Penononton tak jenuh walau berjam-jam mematung di pinggir arena. Alunan saronen3 terus mengaung-ngaung dari corongan4 yang dikat di atas pohon kelapa. Sapi gani diarak. Riuh sorak penonton iringi gerak penjung5 penandhe’ yang dimainkan sesuai talu gendang saronen. Juhari menyuntikkan senyum pada gemulai pinggul Susmiati. Susmiati tidak hanya menjadi penandhe’ pada saat ada acara kerapan sapi atau lotrengan saja. Dia juga bergabung dengan salah satu grup najheghe6.
            Saronen terus bertalu. Penonton dibuat terperangah oleh sapi Gani. Kedip matanya yang indah, jalannya yang gemulai, dan manik-maniknya berkilauan menggoda hati. Penggiring dan pemilik sapi bergoyang-goyang sambil menyelipkan uang di lekukan payudara Susmiati. Ada pula yang mengalungkan uangnya di leher penandhe’ cantik itu. Sudah menjadi pemandangan yang tidak enak dipandang bagi Juhari. Runcing mata Juhari menatap nancap di wajah Susmiati yang sibuk menyingkirkan laki-laki di hadapannya.  Senja memungkas siang, tapi petunjukan belum juga selesai. Tinggal sebentar lagi.
            Penontong berhamburan menjuju jalan pulang ke arah rumah masing-masing. Juhari berusaha mencari Susmiati yang hilang ditelan ribuan tubuh penonton. Ia yakin kekasihnya tidak akan meninggalkan dia seorang diri dengan kerinduan, di tengah lapangan. Keyakinan itu selalu berbisik, bahwa Susmiati pun ingin bersua dengannya. Walau sekedar saling bertukar pandang. Akhirnya mata Juhari tertuju pada satu sosok perempuan di bawah pohon siwalan dengan rambut disanggul, layaknya para penandhe’. Perlahan ia mengangkat jemarinya dan mulai bergerak pelan-pelan. Rindu Juhari meleleh setelah menyaksikan senyum yang ikhlas dari Susmiati.
***
            “Benarkah??” Suli terkejut.
            “Aku serius. Katanya mau dinikahkan.” Juhari mempertegas sembari menampakkan wajah yang layu kepada Suli.
            “Perjuangkan Ju. Aku dukung kamu.” Ditepuk bahu Juhari oleh Suli, untuk memberi semangat buat sahabatnya itu. Keduanya terus berdialektika menukar pendapat antara yang satu dengan yang lainnya. Kopi dan rokok menjadi teman setia bagi Juhari dan Suli malam itu.
            Kembalinya kecewa ke dalam kehidupan Juhari, menyiratkan luka mendalam yang dulu juga pernah ia rasakan. Kisah cinta dengan Rahmah terpenggal di ujung luka. Rahmah menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Saat ini Juhari kembali akancmenelan luka dengan sakit yang sama. Namun dia tidak ingin menumpas hikayat cintanya di senja penghujung lotrengan.
            Hening malam menyumpahi tekat yang bulat. Rembulan berpadu pandang dengan bintang. Mereka sesekali melirik pada sosok lelaki yang menikmati sunyi yang sepi. Hatinya kesengsem pada wanita berbibir jeruk saloni7. Juhari tidak sanggup bila harus menelan pil malu lagi dari buah bibir masyarakat yang kompak menggunjing kesendiriannya. Ia akan memenggal leher Gani bila perlu. Baginya cinta tidak harus mengenal anyir darah. Terciut fikiran Juhari mengingat kejadian di pertunjukan lotrengan beberapa minggu lalu. Saat itu Gani berani menyelipkan uang ke lekuk payudara Susmiati. Darah Juhari langsung mendidih pada saat itu. Ditambah sorak penonton yang seakan tertuju pada dirinya. Saronen pun tidak segan-segan mengaung seperti tawon yang terperangkap di gendang telinga Juhari. Hatinya terus bertasbih untuk bisa berbicara dengan Gani. Meneriakkan di telinganya, bahwa dialah yang pantas mendapatkan Susmiati.
            Besok ada pesta pernikahan di desa Juhari. Hiburannya diisi dengan pertunjukan tandhe’ yang ada di bawah naungan najheghe Puteri Kerawitan. Sebuah kelompok musik gendingan yang cukup terkenal di Madura. Susmiati ikut bergabung dengan Puteri Kerawitan. Bercak luka perlu dihapus, setidaknya wajah seorang kekasih yang gemintang mampu menghapusnya. Walau hanya sebagian, pastilah ada redah. Hati Juhari berdengung untuk bisa menemui Susmiati di acara itu.
***
            Kaca di depan matanya menggambarkan sosok Susmiati yang merona sebagai penandhe’. Sejumlah alat solek tertata rapi di meja wanita mungil itu. Semerbak melati di sela-sela rambutnya yang disanggul menguasai ruang hiasnya. Bedak menyulap wajahnya menjadi lebih merona seperti telaga susu. Siapa yang tidak akan  tertarik dengan seorang Susmiati sang penandhe’ bila sudah berdandan matang? Rona wajah penandhe’ itu sudah ranum, dan siap untuk dipandang.
            Seorang penandhe’ seperti Susmiati wajib berdandan secantik mungkin. Karena penandhe’ dalam acara pernikahan akan disuruh menyambut tamu-tamu undangan dengan tarian dan ngijung8. Biasanya kalau tokoh-tokoh besar, seperti Kepala Desa akan mendapat kesempatan untuk ngijhung. Dia akan dibawakan selendang yang dibawa oleh seorang gelandang9 sembari diiringi talu musik gendigan Madura. Karena setiap orang yang mendapatkan kalungan selendang di lehernya, maka dia wajib menemani penandhe’ di atas panggung. Atau kalau tidak bisa ngijung, ia bisa mewakilkan pada orang lain. Namun biasanya harus dibayar. Susmiati juga kadang mewakili seorang gelandang untuk mengalungkan selendang.
            Riuh corongan dengan senandung gending-gending Madura begitu gema. Suasana pagi yang masih suci. Bunga-bunga masih segar memekar. Mentari hangat menyelimuti bumi yang dingin. Juhari menyelipkan harap dalam sahajanya. Lantaran dia ingin mengucapkan kata kepada Susmiati. Kata yang mewakili segala kabar dukanya. Akan dia katakan semua tentang kecemburuan pada pagi yang indah. Akan dia sampaikan keirian hatinya melihat manik-manik di baju Susmiati yang menyungging meleceh. Atau dirinya yang terpasung dengan cinta kepada wanita tandhe’.
            Ia menemui kekasihnya di balik panggung.
“Aku mencintaimu Susmiati.” Kecipak laut tibak-tiba sunyi ketika Juhari mengutarakan perasaannya denga nada yang melas berlinang air mata.
            “Aku juga. Namun akun tidak mau jika celurit memutus urat lehermu.” Derai air mata pun mengalir dari mata Susmiati. Menghanyutkan bedak diwajahnya. Menghapus telaga susu, raut mukanya tampak menjadi layu.
            “Jika Hanya dengan ujung celurit aku bisa mendapatkanmu, akan aku lakukan.” Sembari menyeka rasa takut di wajah Susmiati yang mengalir.
            Ucapan juhari menjadi oksigen yang dihirup dan dikeluarkan sejak saat itu. Dadanya kembang kempis menerka sulit mencari keindahan. Lantaran jantungya, hanya siap berdetak bila ia merenda kasih dengan Susmiati.
            Gemerincing gelang kaki dan irama gendingan menggiring ritme jalan Susmiati. Perlahan dia hilang dari hadapannya.  Juhari merapikan janji dan harus kembali menyemai luka. Dia belajar mengalirkan darah, hanya karena gara-gara wanita. Kesedihan dari citanya telah melahirkan carok sebagai bukti kelakian-lakian dari buah bibir masyarakat. Dagingya yang terbuat dari garam sudah terlalu asin. Pulau yang menyusuinya dengan air laut sudah tidak dapat dinikmati. Kini ia sudah hidup dengan nafas yang berbeda. Sekian !



Catatan:
1.      penandhe’: Berasal dari bahasa Madura. Asal katanya tandhe’, sedang tandhe’ adalah wanita yang bisa menari dan bisa menembang. Penandhe’ adalah seorang yang menjadi tandhe’.
2.      Lotrengan: adalah kebudayaan masyarakat Madura. Atau sering dikenal dengan sebutan sapi sonok, dimana dua ekor sapi dihias secantik ungkin. Biasanya acara lotrengan dilakukan setelah selesai panen tembakau, sebelum menanam padi.
3.      Saronen: Adalah alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi acara kerapan sapi ataupun sapi sonok.
4.      Corongan: Bahasa Madura untuk alat pengeras suara.
5.      Penjhung: Bahasa Madura dari Selendang
6.      Najeghe: Grup musik gendingan yang didalamnya di isi oleh para tandhe’.
7.      jeruk saloni: Ungkapan kecantikan terhadap seorang wanita ketika hanya melihat bibirnya. Bibir jeruk Saloni arti bahasa Indonesianya adalah “Bibirnya seperti irisan jeruk”.
8.      Ngijung: Artinya sama dengan nembang atau bernyani. Namun menggunakan bahasa Madura sya’irnya.

9.      Gelandang: Seorang yang ditugas oleh tuan rumah ketika mengundang najeghe untuk mencari tamu-tamu undangan yang hadir yang bisa nembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.