;Laki-laki
Agustusmu
“Masih banyak yang belum aku lupakan
perjumpaan-perjumpaan denganmu, wahai wanita. Ku awali dari perasaan yang
pertama. Aku mengenalmu bukan secara tiba-tiba. Aku sengaja mengenalkanmu pada
tubuh kerdilku. Dari kamu wanita ku yang pertama yang seumuran denganku, lebih
tua kamu sedikit, sih. Tapi bagiku itu tidak masalah.Keakraban dibangku MTs.,
tanpa terasa membuat aku dan kamu semakin dekat. Kau sering membujukku dengan
pandangan matamu yang indah. Sikapku diusia yang masih polos tidak berwarna,
telah berkata lain tentang keindahan wajahmu. Aku mabuk. Aku lupa segalanya
tentang yang aku punya, dan tentang siapa sebenarnya diriku. Aku telah berani
mencintaimu dengan apa adanya. Ada kecantikanmu. Ada kekayaanmu. Dan ada
segalanya yang aku butuhkan dari dirimu. Wanita itu adalah kamu Hikmah
Tullaili.”
“Ya,
dia adalah wanita pertama yang aku titipi rasa. Sampai adat Madura membawa
hubunganku lebih jauh dan semakin menakutkan. Bibir masyarakat mengatkan bahwa,
aku dan Hikmah katanya berpacaran. Sungguh sebenarnya aku belum begitu paham
dengan tuduhan itu. Kata pacaran masih asing dalam putaran otakku kala itu.
Bayangkan saja, aku masih duduk di bangku sekolah MTs., itu sederajat dengan
SMP. Secara tidak langsung aku tidak akan lama lagi akan dinikahkan. Oh, aku
memang mencintai Hikmah saat itu. Tapi jangan sampai dinikahkan. Tubuhku masih
kerdil. Orang tuaku sudah sepuh. Keadaanku yang miskin. Oh jangan!”
“Setahun lebih aku menjalani ikatan
tunangan dengan Hikmah. Pada saat itu aku sudah kelas satu SMA. Sedang
tunanganku itu tidak melanjutkan sekolahnya, dia mondok di salah satu Pondok
Pesantren di Gapura Sumenep. Entah, cinta yang dahulu memang aku akui tumbuh
kekar menjulang dalam diriku, tapi secara perlahan menipis dan hendak roboh.
Aku tidak kuasa menahannya. Kesenjangan diantara aku dan dia, adalah salah satu
faktor lunturnya rasa yang aku miliki. Ditambah lagi dengan sebuah penjelasan
Hikmah bahwa ia juga sudah tidak menyayangiku pada saat itu. Dia juga mengatakan
bahwa sekarang tengah menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi dengan
Firman, laki-laki yang juga teman sekelasku di SMA. Edan pokoknya. Betapa
rasanya aku ingin membacok habis-habisan tubuh laki-laki itu. Bagaimanapun
tidak, meski aku sudah sedikit tidak menyayangi tunanganku, jika aku menerima
penjelasan seperti itu pasti tetaplah aku merasa apa yang namanya cemburu.”
“Berangkat dari sebuah pernyataan
tulus diantara aku dan Hikmah, maka aku simpulkan saja untuk menyudahi
perikatan pertunangan ini secara baik-baik. Aku kirimi keluarga Hikmah surat
pernyataan pemtusan sebuah hubungan pertunangan yang ku buat sendiri. Itu yang
kebanyakan dilakukan masyarakat Madura jika hendak melakukan pemutusan terhadap
sebuah hubungan pertunangan. Khususnya di wilayah Sumenep bagian timur. Maka,
resmilah aku yang tidak memiliki pasangan hidup. Putus tunangan.”
*Murahannya
kelaki-lakianku.!
“Sebenarnya sebelum pernyataan
Hikmah waktu itu, aku tidak langsung memutuskan ikatan pertunanganku dengannya.
Aku menunggu waktu yang tepat, agar relasi sosial keluargaku dan kelarga Hikmah
nantinya tetap baik-baik saja. Sekitar delapan bulan setelahnya, aku baru
memutuskan Hikmah. Waktu delapan bulan itulah, menjadi waktu dimana aku
memiliki rasa kebencian yang luar biasa terhadap seorang perempuan. Aku sama
sekali tidak percaya kepada para wanita, kecuali Ibu tercinta. Karena bagiku
semua wanita akan sama mempermainkan laki-lakinya. Aku bertemu dengan seorang
wanita yang buat aku lumayan cantik, dan sederajat dengan keluargaku yang miskin.”
“Pertemuanku dengan wanita yang ku
niati untuk ku jadikan pacar, namanya adalah Siska. Dia orang Batang-batang.
Kulitnya yang hitam tidak terlalu putih, hanya lebih hitam kulitku sedikit.
Siska menjadi pacarku tidak begitu lama, sekitar satu bulan setengah aku sudah
putus dengannya. Aku akui, bahwa sifatku waktu masih dalam tahap pendingingan
yang terlalu panas terhadap wanita. Aku putus dan aku kembali berpacaran lagi
dengan Megha. Aku lupa nama panjangnya Megha...siapa begitu. Tapi yang jelas
aku ditembak duluan sama dia. Hehe.. Besar daun telingaku mengenang kejadian
itu. Entah kenapa, dia yang nembak aku duluan dan dia pula yang mutusin aku. Megha
pacaran dengan laki-laki lain. Laki-laki itu orang Pamekasan katanya, dan
wajahnya lebih jelek dia sedikit dari pada aku dan lebih jelek aku banyak.
Betapa hancur hatiku. Jujur aku baru pertama itu mendapat kata putus dari
seorang wanita. Kebencianku pun semakin memasuki stadium akhir kepada para
wanita.”
“Aku merasa tidak terima bila aku
harus dipermainkan begitu saja oleh wanita. Aku mencari berbagai cara untuk
bisa membuat Megha kembali jatuh cinta kepadaku. Aku sering-seringin lewat di
depan sekolahnya. Aku kerap sekali melihat dia. Dan tidak jarang pula memberi
senyuman termanisnya kepada ku, sampai aku pun menelan senyumnya yang mekar
segar dipagi hari itu. Aku pura-pura mencuekinya. Walau tidak bisaaku pungkiri,
secara jujur dalam hatiku meriak bahwa aku merasa ada sebuah keindahan yang
tersublim dari senyum Megha. Akalku terus berputar, aku terus menjadi iblis.
Aku ingin memanas-manasi wanita yang menyakitiku itu. Sebagai seorang
laki-laki, maka siapa yang mau jika harga dirinya diinjak-injak. Bagiku,
dikhianati seorang wanita yang aku sayang adalah pengkhianatan yang harus
diganjar. Ya, itu adalah sifat keiblisanku.”
“Usahaku untuk memanasi Megha
akhirnya berhasil pula. Aku berpacaran dengan saudara sepupu Megha. Hehe.
Maklum Megha masih SMP dan aku SMA. Anak seuisia SMP dan SMA masih rentan untuk
merasakan sakit hati. Katanya guru biologiku dulu, itu karena mereka memasuki
masa-masa puber. Aku sih tidak tahu mengerti apa itu puber. Sebab yang aku tahu
hanya ukuran orang yang dewasa yang menurut agama, yaitu balligh. Nama pacarku waktu itu Ayis. Aku pun lupa nama panjangnya,
dia rumahnya juga di Batang-batang sama kayak si Megha mantanku. Aku pacaran
dengan Ayis hanya sebentar, kira-kira satu bulanan gitu lah.. Ya aku putus
lagi. Tapi, kali ini aku dong yang mutusin. Hehe. Bangga-bangga gimana gitu
sebenarnya aku. So, masih sayang sih. Hmm.”
“Masih dalam keiblisanku. Setelah
satu minggu yang lalu aku putus dengan Ayis. Aku mulai mengobrak-ngabrik lagi
yang ada di hatiku. Aku ingin mencari wanita yang pas dengan cintanya untuk
hatiku. Karena aku yakin, dalam nuraniku yang suci pastilah memiliki pintu. Aku
berpacaran lagi. Kali ini bukan dengan orang batang-batang. Melainkan dengan
orang Kecamatan Gapura. Namanya Laila Turrasidah. Nama-nama mantan pacarku
banyak yang islami kecuali si Megha itu. Nah, dengan dialah aku berpacaran
cukup lama. Sekitar delapan bulanan deh. Hehe. Lama,kalau dibandingdengan
mantan-mantanku yang sebelumnya. Pada saat itu aku sudah tidak memiliki
tunangan. Aku sudah merasa bebas mencari wanita yang akan aku jadikan pacar,
atau isteriku nanti. Terlalu jauh khayalanku. Akan tetapi, niatku yang baik dan
tinggi itu tiba-tiba saja tertumpas oleh kenyataan yang kejam dan membuatku
menangis sepanjang hari. Ya, aku laki-laki yang bisa nangis juga. Meski
nangisnya diam-diam dan mencari tempat yang sepih untuk menangis. Bukan di
dalam kamar. Karena rumahku tidak berkamar. Rumahku yang kecil tidak berkamar.
Eh, malah membahas rumah dan keadanku secara provit.”
“Aku sedih dan mengangis gara-gara
Idah itu. Laila Turrasidah, dipanggilnya Idah. Tersebab, setelah aku merasa
nyaman dengannya aku malah mendengar sebuah berita yang menyedihkan dan miris.
Sebagai laki-laki kecil dan ingin memiliki cinta ini semua terlalu kejam. Idah
ternyata sudah memiliki tunangan. Benarnya, aku dijadikan pelampiasan karena
dia tidak mau sama tunangannya. Oh, betapa aku akan dibacok sama tunangan Idah
kalau sampai ketahuan. Aku pastilah akan dipukuli kalau ketahuan mengganggu
hubungannya. Akal pendekku pun memutuskan untuk meninggalkan Idah. Biar rasa
ini aku pendam jauh di dalam tanah liat hati kelakian-lakianku.”
“Bagaimanapun juga rencana Tuhan memang begitu indah. Gadis
yang kuanggap tidak serius kepadaku dan mempermainkanku, si Idah, ternyata dia
serius. Dia benar-benar tidak sayang kepada tunangannya. Terbukti dia dua kali
menangis ke rumahku di Tamidung. Aku tidak yakin dia menangis karena diputusin
aku. Akal liarku berkata, dia menangisi rumahku yang reot dan kumuh. Dia
menangisi orang tuaku yang sudah sepuh. Dia menangis karena tidak menyangka
orang tuaku yang jelek hitam bagi Idah, akan melahirkan anak setampan diriku
dan bermata sipit bagi Idah pula. Ya, kata terkahir itu pernah diucapkan oleh
Idah padaku. Dan banyak wanita lain sebenarnya yang bilang kalau mataku sipit
kek. Kayak matanya orang Tionghoa kek. Kayak ala-ala korea kek. Tapi sayangnya,
badanku pendek dan hitam. Maka, lebih tepatnya aku mirip biawak yang kecapean,
sampe matanya sulit dibuka.”
“Aku mulai menganalisa,
mengotak-atik otak warasku. Mencari sebuah jawaban dari berserakannya tanada
tanya yang berputar-putar di kepala. Akhirnya aku temukan juga jawabannya untuk
menegaskan kepada Idah bahwa aku tidak bisa melanjutakan hubunganku dengannya.
Ya, itu aku ambil dari sebuah pengalaman pahitku dulu waktu tunangan. Pastilah
Arif, tunangan Idah yang sayang sama Idah akan merasakan sakit hati yang sagat
sakit sekali sebagai seorang laki-laki. Perbandingannya, aku saja yang tidak
begitu besar memiliki cinta kepada tunanganku dulu merasa sakit hati, apa lagi
dia? Makadari itulah aku putuskan untuk menjauhinya. Sangat sulit sih, karena
Idah masih tetap ngejar-ngejar aku.”
*Wanita
terakhir yang legam dikehangatan doa..
“Sebenarnya dulu sekali, waktu aku
mutusin Idah pertama kalinya. Aku pun langsung mendekati Fitri Yani. Dan tanpa
basa-basi pula aku langsung menyatakan cinta kepadanya. Walhasil, aku ditolak.
Ah, baru kali ini rasanya aku ditolak wanita. Wajah biawak koreaku sudah tidak
mampu menyulap wanita macam Fitri untuk mencintaiku.Ternyata kata menyerah
untuk memperjuangkan Fitri,aku tepis jauh sekali dari akal sehatku.”
“Ditolak Fitri, rasanya hatiku sakit
sekali. Hatiku sudah berpuing, berserakan diantara sesal dan ingin menikmati
keindahan cinta. Ternyata aku tidak bisa sendiri, maka aku kembali membangun
cinta dengan Idah secara diam-diam. Tidak lama, aku mendapat nasib malang. Jelasnya,
aku dimarahi oleh bapak tiri Idah. Dan celakanya Idah nekat mutusin
tunangannya. Berarti aku harus cepat-cepat lari dari kehidupan Idah. Ini adalah
petaka bagiku. Aku tinggalkan lagi Idah, dan aku fokus kepada ketertarikanku
kepada Fitri. Dari saking mengharapnya aku kepada Fitri, keiblisan dalam diriku
meningkat dari level lima ke level limaratus. Kerap aku membayangkan bagaimana
bila aku menjadi suami Fitri. Menjadi bapak dari anak-anaknya yang nakal. Aku
menjadi imamnya dikala solat. Aku menjadi laki-laki pertama yang akan
menyingkap rok dan bajunya. Oh, akan tetapi aku tersadar. Mana mungkin bibirku
yang kasar dan hitam karena nikotin rokok, akan bisa melumat bibirnya yang
begitu merah dan indah licin. Pun kulitnya yang putih seperti terbuat dari
lilin, sungguh tidak akan mungkin bersentuhan dengan kulitku yang seperti kulit
biawak. Kasar. Aku membayangkan sejauh itu kala hendak tidur, atau lagi sendiri.”
“Tentang Fitri Yani memang tidak
bisa aku hapus begitu saja. Terlalu sering aku memikirkannya. Dari keseringanku
memikirkan Fitri, aku mendapatkannya juga. Akhirnya peri cantik itu mau menjadi
pacar seekor biawak. Aku sedikit malu. Lah mana mungkin tidak malu, baru kali
ini aku tertarik dan segitu gilanya kepada seorang wanita. Sampai setiap
selesai sembahyang, nama Fitri selalu terselip dalam doaku. Itu mengabadi dalam
aliran darah dan denyut nadi kehidupanku.”
“Aku bahagia sekali bisa mendapatkan
Fitri yang berkulit putih bermata indah dan solehah. Bahasa Arabnya yang bagus,
semakin membuatku tertarik untuk membahagiakannya. Aku berharap wanita seperti
Fitri cocok menjadiisteridan kontrol diri bagiku. Fitri akan menegur bila aku
bertingkah laku yang menyimpang dari agama. Dan tubuhnya yang mungil,
sepertinya pas dengan postur badanku yang kecil pula. Karena pastilah akan malu
bila aku yang kecil, pendek, nantinya akan memiliki pasangan yang tinggi dan
besar. Oh, aku tidak ingin semua itu terjadi. Ya, karena ada Fitri yang sudah
membuatku nyaman.”
“Setelah lama aku menjalin hubungan
dengan Fitri, aku tidak pernah bertemu
dengan Fitri sebagaimana layaknya orang pacaran. Bagiku itu tidak begitu
penting, asal dia beneran tulus merenda hubungan dengan ku ini. Pernah sekali
aku mengajak dia ketemuan. Waktu itu aku cuma ingin pamitan, aku mau berangkat
kuliah ke Jogja. Wuih.. anak orang miskin
bisa kuliah ke Jogja. Ya, aku dapat beasiswa. Tapi ingat, aku bukan orang yang
pintar. Akan tetapi ternyata Fitri tidak mau menemuiku. Ya, aku paham
dengan pernyataannya. Dia adalah gadis muslimah yang fanatik sekali terhadap
agama. Aku bersyukur punya pacar se sholehah dia. Atau dia tidak mau jika nanti
aku menjabati tangannya yang putih dan licin seperti lilin, akan lecet bila
bersentuhan dengan tanganku yang kasar seperti kulit buaya sungai. Ya, itu
hanya perasaanku yang kacau.”
“Aku mengutip sebuah perkataan Agus
Sunyoto, seorang penulis novel best seller, di dalam novelnya yang berjudul
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kira-kira kalimatnya begini, cinta
di dunia ini hanya bersifat nisbi, karena hakikat kesucian dan keabadian cinta
dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu, betapa seringnya cinta yang
menggebu-gebu menjadi luntur bersama merentangnya jarak dan waktu atas
orang-orang yang saling mencintai. Kalimat itu sama sekali sangat benar, karena
aku pun tengah merasakannya.”
“Sejak hubunganku dengan Fitri yang
terpisah ruang dan waktu, ternyata telah hancur berserakan. Tapi bukan berarti
cintaku luntur. Sejak saat aku meninggalkannya, putus hubungan dengannya, aku
sama sekali tidak bisa seganas dulu mencintai wanita lain. Seperti saat-saat
aku memacari Siska, Megha, Ayis, dan Idah. Hal itu karena aku merasa dikhiantai
oleh Hikmah tunanganku. Padahal alasanku kepada Fitri, tentang kenapa aku
meninggalkannya, berangkat dari perasaanku yang merasa dipermainkan jugaoleh
Fitri. Itu kataku. Bagi aku Fitri tidak serius. Dia tidak pernah mau diajak
ketemuan. Seakan dia menjadikan diriku seperti laki-laki kotor yang lebih kotor
dari buaya bila harus ditatapnya langsung. Dia akan merasa sangat ketakukatan.
Takut kalau aku sampai memangsanya bila berani ia menemuiku. Sebagai buaya
jantan yang ganas, pasti akan mencabik-cabik habis tubuh mungilnya, merusak bibirnya,
atau mencakar tangannya.Padahal itu semua terjadi karena rindu. Dan bahkan
keseriusanku aku tunjukkan kalau aku siap untuk menyunting Fitri kepada orang
tuanya langsung. Nasibku, dia menganggap semua yang aku katakan hanyalah kicau
sumbang kutilang kelaparan di pagi hari. Dan kini aku dan Fitri sudah tidak
bersama lagi, tapi tidak dengan cinta dan doaku yang masih mengharapkannya.
Semoga saja Tuhan tidak punya rahasia lain. Yang nantinya bisa jadi aku
berjodoh dengan wanita lain. Aku tidak mungkin menentang Yang Maha Kuasa atas
anugerah indah itu. Wallahua’lam..”
*Tulisan
ini berangkat dari kegelisahan hati yang sejak kemarin merasa resah dengan
sebuah kalimat indah yang dikirim oleh seseorang yang mengatakan aku tidak
menyanginya. Sehingga dari itu semua aku merasa putus asa. Dan aku
meninggalkannya saja, karena merasa usahaku dengan segenap keseriusan sudah aku
lakukan. Itu lebih dari cukup. Tapi dia malah mengirimi pesan singkat yang
membuat hatiku kembali terenyuh, pesan singktnya berbunyi begini: (Ass.. sms yg
tak kau harapkan menghampiri lagi, Km harus mempercayai bahwa “tak ada
perhiantan”, Kita sama” merasakan inii L,
jngan menyiksa dirimu :’( :-*, jaga diri juga selamat malam...). Itu adalah sms
terakhinya yang singgah di HPku, pada tanggal 14/05/2015 Jam 18:05:10.
Dan
tulisan ini pun, saya bermaksud ingin mengucapkan terima kasih kepada semua
wanita yang pernah mengisi hari-hariku. Karena kalianlah aku bisa menjadi lebih
dewasa. Karena kalianlah tulisanku selalu terlahir, imajinasiku menjadi liar.
Dan aku berterima kasih atas semua ragam pengelaman pahit dan indah yang pernah
kalian berikan kepadaku selama itu. Semoga saja Allah SWT mengampuni dosa kita
bersama, termasuk dosaku yang begitu besar kepada kalian. Siapa tahu dihati
kalian masih terbesit dendam kepada diriku.Maka aku siap menerimanya, baik itu
berupa doa dan tindakan kejam lainnya. Hanya yang jelas, bagi aku kalian semua
sudah sangat berarti. Kalianlah yang aku nobatkan menjadi wanita-wanita terbaik
nomor dua setelah Ibu yang melahirkna aku.
Benar
apa kata orang-orang bijak, bahwa kesuksesan seorang laki-laki ada pada doa
wanitanya. Mungkin termasuk Ibu dan pasangan hidup kita. Dan aku yakin,
pastilah diantara kalian pernah mendoakan aku meski hanya sebentar dan sedikit
untuk kesuksesanku. Aku terus berusaha menjadi sukses, biar aku bisa bahagia
berkat doa kalian semua. Siapa akan tahu, kalau doa kalianlah yang dijabah oleh
Tuhan. Terima kasih para wanitaku semua,..
Catatan menuju Mei..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.