.....Lalu Ia (Allah)
jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia (Allah) kembangbiakkan menjadi
laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. [Q.S. An
Nisaa (4) : 1].
Pagi membuka tirai kamar dengan semburat mentari yang remang-remang.
Sementara suasana dalam rumah tetap rapi seperti pagi-pagi lalu, mungkin juga
bagi berikutnya. Bahagia yang mekar mengembang perlahan menguasai taman hati
seorang wanita yang tengah dilanda cinta. Berawal dari musim semi yang
menghampirinya. Setelah jiwanya sempat kemarau dan kerontang, kini kembali
rindang hijau seperti reingkarnasi kematian harapan cinta pertamanya.
Bukan hanya sekedar
kecantikan wajah yang menjadi titik ukur keindahan gadis itu, ilmu agamanya
tidak bisa diragukan dari kawan seusia di zaman ini. Mahkota desa itu telah
lama dirundung lara karena cinta.
Tanggal berguguran
dari kalender bulan. Sudah satu tahun Nanin menikmati perasaannya yang ia hakimi
sendiri sebagai ridho ilahi. Ia begitu menanam ketulusan dari nurani terdalam
di hatinya untuk mendoakan semoga ada lelaki yang benar-benar tulus menyayangi.
Pengharapan jua tak
kunjung pupus membentuk serunai doa-doa yang terhias dari getar bibir
manisnya. Sajadah adalah saksi kebisuan atas keinginannya untuk berdamping
selamanya dengan Hasan. Ya, dialah lelaki yang menyuntikkan sari cinta pada
putik hatinya saat ini.
Sebuah perkenalan
sederhana yang berawal dari sosial media online. Facebook. Hasan awalnya tak
begitu membuatnya yakin. Seperti tersulap setelah tegur sapa di pesan pribadi facebook dari
Hasan kepada Nanin menyeruap seperti aroma bunga melati. Hasan menitip sebuah
keinginan serupa keyakinan atas nama cinta.
***
Angin menyapu Maret
dengan belaian-belaian mesrah pepohonan yang rimba di pedesaan pagi itu.
Begitulah aktivitas desa Nanin yang selalu terjadi setiap pagi. Namun ada
serpihan lain hari itu. Serpihan akan terukirnya sejarah baru. Setelah semalam
ia mendapat pesan singkat dari Hasan, bahwa ia akan menemuinya. Oh, betapa
pasti akan terbaiat kerinduannya yang telah lama terjajah dari musim ke musim.
Kisah cintanya
dengan lelaki bernama Hasan terjaga oleh bentangan jarak dan kota-kota, bahkan
samudera luas berhiu, bergelombang. Hasan adalah putera dari seorang kiai. Ia
sekaligus pemilik pesatren salafiah di Madura Sumenep. Sedang Nanin adalah
gadis desa yang besar dan terlahir dari rahim petani. di Jember Jawa Timur ia menetap.
Begitulah keterasingan rasanya selama itu. Sebentar lagi ia akan bertemu.
Kutilang berarak ke
arah pepohonan yang tampak hitam karena senja hadir dengan sengaja teruntuk sang
malam. Demikian dengan aktifitas para remaja santri yang telah rapi dengan
sarung dan kopyah nunnya. Tampak terlihat teduh menjadi perindah suasana
maghrib.
***
“Aku
sudah berangkat Sayang menuju Jember...” Sebuah pesan singkat dari Hasan
hinggap di layar HP Nanin.
Perlahan jemari lentik pun
menari-nari diantara tombol Hpnya. Diiriringi orkestra alam serupa siul-siul
burung yang terbang lalulalang dan hinggap dari dahan ke dahan. “Aku tunggu Sayang..”. Balas Nanin.
Sisa pagi tak mau
berarak dari kenyataan waktu walau beranda siang sudah terbuka lebar untuk
menuntaskan aktifitas sejuk teduhnya pagi. Gelisah karena rindu berkoar-koar dari
degub jantung Nanin yang terus memanggil nama lelaki yang akan menemuinya siang
itu. Ia terus menikmati sembari melantunkan sholawat. Semoga keselamatan dalam
perjalanan, menuntun langkah kekasihnya.
Pada kemilau langit
biru tak terlihat awan hujan yang melintas. Akibatnya adalah terik yang
tak teribaratkan terjadi. Tiada satu pohon besar dengan daun berlebat yang
menaungi desa Nanin siang itu. Seperti tiada ampun dari siang bagi penguasa
sejuk. Tapi tak secuilpun
melelehkan gunung es yang telah benar-benar beku menahan rindu. Nanin masih
menunggu...
***
Bibit padi yang
bagus karena petanilah yang memupuk. Atau setidaknya ada hujan yang merawatnya.
Begitulah dengan jalinan kasih sayang, tidak akan sempurna bila hanya dibiarkan
mengambang tanpa suatu kepastian. Bukankah setiap percintaan yang serius
terletak pada bagaimana laki-lakinya yakin menjadikannya makmum diantara
sholat-sholatnya? Itulah yang abadi terdoakan oleh Nanin. Dan masih tergiang
lembut bisikan Hasan ditelinganya, tatkala meng-iya-kan permintaannya
dipinang.
“Setidaknya jika sampean benar-benar serius ke kauleh, tore lamar kauleh. Insya
Allah orang tua kauleh siap menerima sampean...” Sebuah bahasa yang keluar
dari lisan gadis desa yang polos, dan yang hanya menginkan kepastian itu.
“Nanti kauleh pulangnya dari sini mau bilang
sama Abi dan Umi. Dan kauleh sayang ka sampean. Kauleh akan berusaha untuk
mendapatkan sampean. Jangankan hanya
melamar...” Kalimat dari Hasan itulah yang mengurung Nanin. Hatinya tak mau
berpaling. Telah lama ia mendamba sebuah ikatan untuk memperjelas status
hubungannya.
***
Malam meredup
agustus yang kesekian. Berlari dari silau siang menenun malam. Sebelum
fajar menjemput dengan jelasnya terang, Hasan ingin menceritakan kepada Abi dan
Uminya tentang keinginan meminang Nanin. Dan kabar itu pun menjadi
angin yang lari ke seantero pesantren, hingga sampai kepada Nanin sekeluarga.
Bintang bertaburan
di bola mata Nanin. Beling-beling seperti kaca menghiasi morka’ matanya. Doa yang terpanjat dari getar bibirnya semakin
melangit tersebab dari kabar yang membahagiakan itu.
***
“Tetapi saya benar-benar
menyayanginya Abi?” Rengekan melas Hasan kepada sang Abi.
“Kamu masih belum
cukup umur nak, kitab alfiah saja kamu belum cukup menguasai sudah mau meminang
puteri orang. Abi tidak setuju kamu menikah dengan dia. Abi akan carikan puteri
Kiai yang pas dan cocok untuk kamu.” Jelas sang Abi kepada Hasan.
“Tapi Abi...!!” Dengan nada tidak
terima atas penjelasan Abinya.
“Sudah lah nak, aku
punya teman di Bangkalan, asma’nya
Nyai Hotijah dia punya puteri dan kamu sama dia aja nanti.” Umi Hasan juga ikut
menyambung untuk meyakinkan Hasan dalam kekalutan.
Malam semakin
larut. Membawa Hasan ke dunia lain yang berbeda dari mimpinya. Tak ada pendar
gemintang malam itu. Hanya denyar jantung yang bertasbih mengampuni sosok
wanita yang sngat ia kagumi. Gelap telah merenggut haknya untuk becinta. Ia tak
menemukan pernik cahaya kemilauan lagi diantara malamnya. Hasan tidak bisa
berkomunikasi lagi dengan Nanin. HP miliknya dirampas oleh kedua orang tuanya.
Sebuah anggapan konyol, pesantrennya tidak ingin tercemar.
Hasan memang
laki-laki. Sepantasnya dia tanggu. Tapi citra kasta keluarganya yang
terpandang, tak tega dia menggoresnya dengan warna yang akan memburamkan
lambnag pondok pesantren sekaligus keluarganya. Hidup adalah pertarungan, butuh
nyali kuat dan kekar untuk melemahkan kerasnya dunia percintaan.
***
Menara telah
berdiri tegak, megah dan menjulang indah dipandang. Nanin menunggu putaran
jarum jam yang akan menusuknya sebagai salah salah satu bukti bahwa kisah
cintanya akan terbaiat. Telah lama dia menanti. Rasanya waktu paya untuk
melangkah, juga untuk menjawab pertanyaan benak Nanin yang sudah penuh dengan bisikan
samar kapan, kapan, dan kapan akan tiba?, yang tak jelas dari mana sumbernya.
Tubuhnya seperti
terpental dari pelanet bumi hingga jauh dari banyak harapan yang bergantung di
jiwanya. Bening air dari matanya membentuk sungai-sungai dengan arus besar
menghanyutkan semua indah yang beberapa dekade merajai batinnya. Nanin tidak
tahu harus menyampaikan kepada siapa luka yang diderita. Nanin cukup mampu
menumpahkan segala deritanya kepada Tuhan Yang Maha Segala Maha atas pertunjukan
di panggung kehidupan.
“...Guleh sayang ka sampean. Cuman Abi dan
Umi tidak setujuh guleh menikah dengan sampean...” begitulah puing kalimat
surat yang dikirim oleh Hasan kepadanya.
Bentangan jarak karena lautan yang berombak telah karamkan
segala pengharapan yang hanya ingin dia gantung kepada laki-laki asal Madura
itu. Ayat-ayat dari kitab suci Al-qur’an menjadi
penyeka air matanya yang tak kuasa terbendung. Hatinya benar-benar telah
termutilasi, patahan-patahannya berpuingkan penyesalan dan kasih sayang yang
membekas.
Tiada yang dapat
Nanin bahasakan selain duka beserta jiwa kalutnya yang berderai air mata.
Sungguh ia telah meyakinkan jiwa dan raganya kepada putera kiai itu. Namun
secara dramatis lagi-lagi pengkastaan darah dalam status sosial masyarakat
telah menjadi tabir kejam. Dengan ganasnya dunia menghantam tubuh gadis yang lembut putih seperti terbuat dari lilin itu.
Perihal haram bila kejadian kasih sayang menggantung jiwa kepada darah biru.
Bukankah semua manusia terlahir dan tertakdir sama di hadapan Sang Maha Kuasa? Mereka cukup
terbedakan dengan ketakwaan dan keimanan terhadap-Nya, bukan kepada sesama
manusia. Wallahua’lam...
Jogjakarta 2015.

oh nanim...
BalasHapus