Jumat, 11 September 2015

NANIN




.....Lalu Ia (Allah) jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia (Allah) kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. [Q.S. An Nisaa (4) : 1].
Pagi membuka tirai kamar dengan semburat mentari yang remang-remang. Sementara suasana dalam rumah tetap rapi seperti pagi-pagi lalu, mungkin juga bagi berikutnya. Bahagia yang mekar mengembang perlahan menguasai taman hati seorang wanita yang tengah dilanda cinta. Berawal dari musim semi yang menghampirinya. Setelah jiwanya sempat kemarau dan kerontang, kini kembali rindang hijau seperti reingkarnasi kematian harapan cinta pertamanya.
            Bukan hanya sekedar kecantikan wajah yang menjadi titik ukur keindahan gadis itu, ilmu agamanya tidak bisa diragukan dari kawan seusia di zaman ini. Mahkota desa itu telah lama dirundung lara karena cinta.
            Tanggal berguguran dari kalender bulan. Sudah satu tahun Nanin menikmati perasaannya yang ia hakimi sendiri sebagai ridho ilahi. Ia begitu menanam ketulusan dari nurani terdalam di hatinya untuk mendoakan semoga ada lelaki yang benar-benar tulus menyayangi.
            Pengharapan jua tak kunjung pupus membentuk serunai doa-doa yang terhias dari getar bibir manisnya. Sajadah adalah saksi kebisuan atas keinginannya untuk berdamping selamanya dengan Hasan. Ya, dialah lelaki yang menyuntikkan sari cinta pada putik hatinya saat ini.
            Sebuah perkenalan sederhana yang berawal dari sosial media online. Facebook. Hasan awalnya tak begitu membuatnya yakin. Seperti tersulap setelah tegur sapa di pesan pribadi facebook dari Hasan kepada Nanin menyeruap seperti aroma bunga melati. Hasan menitip sebuah keinginan serupa keyakinan atas nama cinta.
***
            Angin menyapu Maret dengan belaian-belaian mesrah pepohonan yang rimba di pedesaan pagi itu. Begitulah aktivitas desa Nanin yang selalu terjadi setiap pagi. Namun ada serpihan lain hari itu. Serpihan akan terukirnya sejarah baru. Setelah semalam ia mendapat pesan singkat dari Hasan, bahwa ia akan menemuinya. Oh, betapa pasti akan terbaiat kerinduannya yang telah lama terjajah dari musim ke musim.
            Kisah cintanya dengan lelaki bernama Hasan terjaga oleh bentangan jarak dan kota-kota, bahkan samudera luas berhiu, bergelombang. Hasan adalah putera dari seorang kiai. Ia sekaligus pemilik pesatren salafiah di Madura Sumenep. Sedang Nanin adalah gadis desa yang besar dan terlahir dari rahim petani. di Jember Jawa Timur ia menetap. Begitulah keterasingan rasanya selama itu. Sebentar lagi ia akan bertemu.
            Kutilang berarak ke arah pepohonan yang tampak hitam karena senja hadir dengan sengaja teruntuk sang malam. Demikian dengan aktifitas para remaja santri yang telah rapi dengan sarung dan kopyah nunnya. Tampak terlihat teduh menjadi perindah suasana maghrib.
***
            Aku sudah berangkat Sayang menuju Jember...” Sebuah pesan singkat dari Hasan hinggap di layar HP Nanin.
            Perlahan jemari lentik pun menari-nari diantara tombol Hpnya. Diiriringi orkestra alam serupa siul-siul burung yang terbang lalulalang dan hinggap dari dahan ke dahan. “Aku tunggu Sayang..”. Balas Nanin.
            Sisa pagi tak mau berarak dari kenyataan waktu walau beranda siang sudah terbuka lebar untuk menuntaskan aktifitas sejuk teduhnya pagi. Gelisah karena rindu berkoar-koar dari degub jantung Nanin yang terus memanggil nama lelaki yang akan menemuinya siang itu. Ia terus menikmati sembari melantunkan sholawat. Semoga keselamatan dalam perjalanan, menuntun langkah kekasihnya.
            Pada kemilau langit biru tak terlihat awan hujan yang melintas. Akibatnya adalah terik yang tak teribaratkan terjadi. Tiada satu pohon besar dengan daun berlebat yang menaungi desa Nanin siang itu. Seperti tiada ampun dari siang bagi penguasa sejuk. Tapi tak secuilpun melelehkan gunung es yang telah benar-benar beku menahan rindu. Nanin masih menunggu...
***
            Bibit padi yang bagus karena petanilah yang memupuk. Atau setidaknya ada hujan yang merawatnya. Begitulah dengan jalinan kasih sayang, tidak akan sempurna bila hanya dibiarkan mengambang tanpa suatu kepastian. Bukankah setiap percintaan yang serius terletak pada bagaimana laki-lakinya yakin menjadikannya makmum diantara sholat-sholatnya? Itulah yang abadi terdoakan oleh Nanin. Dan masih tergiang lembut bisikan Hasan ditelinganya, tatkala meng-iya-kan permintaannya dipinang.
            “Setidaknya jika sampean benar-benar serius ke kauleh, tore lamar kauleh. Insya Allah orang tua kauleh siap menerima sampean...” Sebuah bahasa yang keluar dari lisan gadis desa yang polos, dan yang hanya menginkan kepastian itu.
            “Nanti kauleh pulangnya dari sini mau bilang sama Abi dan Umi. Dan kauleh sayang ka sampean. Kauleh akan berusaha untuk mendapatkan sampean. Jangankan hanya melamar...” Kalimat dari Hasan itulah yang mengurung Nanin. Hatinya tak mau berpaling. Telah lama ia mendamba sebuah ikatan untuk memperjelas status hubungannya.
                                                                        ***
            Malam meredup agustus yang kesekian. Berlari dari silau siang menenun malam. Sebelum fajar menjemput dengan jelasnya terang, Hasan ingin menceritakan kepada Abi dan Uminya tentang keinginan meminang Nanin. Dan kabar itu pun menjadi angin yang lari ke seantero pesantren, hingga sampai kepada Nanin sekeluarga.
            Bintang bertaburan di bola mata Nanin. Beling-beling seperti kaca menghiasi morka’ matanya. Doa yang terpanjat dari getar bibirnya semakin melangit tersebab dari kabar yang membahagiakan itu.
***
            “Tetapi saya benar-benar menyayanginya Abi?” Rengekan melas Hasan kepada sang Abi.
            “Kamu masih belum cukup umur nak, kitab alfiah saja kamu belum cukup menguasai sudah mau meminang puteri orang. Abi tidak setuju kamu menikah dengan dia. Abi akan carikan puteri Kiai yang pas dan cocok untuk kamu.” Jelas sang Abi kepada Hasan.
            “Tapi Abi...!!” Dengan nada tidak terima atas penjelasan Abinya.
            “Sudah lah nak, aku punya teman di Bangkalan, asma’nya Nyai Hotijah dia punya puteri dan kamu sama dia aja nanti.” Umi Hasan juga ikut menyambung untuk meyakinkan Hasan dalam kekalutan.
            Malam semakin larut. Membawa Hasan ke dunia lain yang berbeda dari mimpinya. Tak ada pendar gemintang malam itu. Hanya denyar jantung yang bertasbih mengampuni sosok wanita yang sngat ia kagumi. Gelap telah merenggut haknya untuk becinta. Ia tak menemukan pernik cahaya kemilauan lagi diantara malamnya. Hasan tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Nanin. HP miliknya dirampas oleh kedua orang tuanya. Sebuah anggapan konyol, pesantrennya tidak ingin tercemar.
            Hasan memang laki-laki. Sepantasnya dia tanggu. Tapi citra kasta keluarganya yang terpandang, tak tega dia menggoresnya dengan warna yang akan memburamkan lambnag pondok pesantren sekaligus keluarganya. Hidup adalah pertarungan, butuh nyali kuat dan kekar untuk melemahkan kerasnya dunia percintaan.
                                                                        ***                                      
            Menara telah berdiri tegak, megah dan menjulang indah dipandang. Nanin menunggu putaran jarum jam yang akan menusuknya sebagai salah salah satu bukti bahwa kisah cintanya akan terbaiat. Telah lama dia menanti. Rasanya waktu paya untuk melangkah, juga untuk menjawab pertanyaan benak Nanin yang sudah penuh dengan bisikan samar kapan, kapan, dan kapan akan tiba?, yang tak jelas dari mana sumbernya.
            Tubuhnya seperti terpental dari pelanet bumi hingga jauh dari banyak harapan yang bergantung di jiwanya. Bening air dari matanya membentuk sungai-sungai dengan arus besar menghanyutkan semua indah yang beberapa dekade merajai batinnya. Nanin tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa luka yang diderita. Nanin cukup mampu menumpahkan segala deritanya kepada Tuhan Yang Maha Segala Maha atas pertunjukan di panggung kehidupan.
            “...Guleh sayang ka sampean. Cuman Abi dan Umi tidak setujuh guleh menikah dengan sampean...” begitulah puing kalimat surat yang dikirim oleh Hasan kepadanya.
           

Bentangan jarak karena lautan yang berombak telah karamkan segala pengharapan yang hanya ingin dia gantung kepada laki-laki asal Madura itu. Ayat-ayat dari kitab suci Al-qur’an menjadi penyeka air matanya yang tak kuasa terbendung. Hatinya benar-benar telah termutilasi, patahan-patahannya berpuingkan penyesalan dan kasih sayang yang membekas.
            Tiada yang dapat Nanin bahasakan selain duka beserta jiwa kalutnya yang berderai air mata. Sungguh ia telah meyakinkan jiwa dan raganya kepada putera kiai itu. Namun secara dramatis lagi-lagi pengkastaan darah dalam status sosial masyarakat telah menjadi tabir kejam. Dengan ganasnya dunia menghantam tubuh gadis yang lembut putih seperti terbuat dari lilin itu. Perihal haram bila kejadian kasih sayang menggantung jiwa kepada darah biru. Bukankah semua manusia terlahir dan tertakdir sama di hadapan Sang Maha Kuasa? Mereka cukup terbedakan dengan ketakwaan dan keimanan terhadap-Nya, bukan kepada sesama manusia. Wallahua’lam...


Jogjakarta 2015.
             

1 komentar:

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.