Waktu itu tanggal 25 September 2015
tepat pada hari jum’at. Tepatnya adalah malam sabtu. Aktifitas yang tidak jauh
berbeda dari hari-hari sebelumnya ku lalui. Selesai menunaikan jam kuliah sore,
seusai maghrib membimbing putera-puteri tetangga kosan mengaji Al-qur’an. Isya’
lepas dari kumandang adzan yang bertalu dari pengeras suara mushollah dan
masjid-masjid sekitar. Meski sudah satu tahun di kota Jogja, aku belum juga
kerasan di kota ini. Kerap kerinduan kepada tempat kelahiran Madura menjelma
serupa tebing-tebing yang mengurungku.
Malam yang masih belum larut. Aku
mencuilkan sedikit lengang waktu untuk merombak isi buku. Aku membacanya tepat
di depan pintu mushollah. Sesekali ku ratapi anak tingkat yang tertata kaku.
Kamar kosan ku ada di lantai dua. Tapi aku gemar membaca buku di lantai bawah,
di depan pintu. Karena di tempat itu aku dapat menyaksikan banyak hal yang
menarik. Dari gemilap cahaya bintang di langit gelap sampai pada bayangan
perempun dari balik jendela tertutup kain di asrama puteri.
Belum juga sampai pada dimana titik
lelah aku membaca, tiba-tiba sesosok laki-laki tinggi berbaju putih membawa dua
anak wanita. Yang satu mendekap setia di dada laki-laki itu, sementara yang
satunya, tangannya tampak erat menggenggam jemari ayahnya. Laki-laki itu begitu
tinggi. Jika dibanding dengan tubuhku yang kerdil, mungkin butuh dua kali
manusia sepertiku untuk dapat menjangkau kepalanya. Kemudian laki-laki
menyapaku yang mungkin terlihat asing baginya. Percakapan diantara ku dengan
nya pun berlangsung beberapa menit. Lalu, ia menawarkan jabatan tangan dan
pertanyaan kepadaku, “Asal mu dari mana?” “Kuliah atau kerja di sini?”.
Kemudian laki-laki itu hilang ditelan remang lampu kompleks setelah menerima
jawabanku, dan aku kembali menaiki anak tingkat yang kaku.
Di lantai atas beberapa teman asal Madura
tampak kegirangan. Entah apa yang baru saja mereka diskusikan. Aku tidak paham
alurnya. Kebahagiaan mereka telah mengalahkan kaum ibu-ibu yang baru saja
menang arisan. Rasa penasaran perlahan menyelidikinya atas sifat kebiasaanku.
Aku suka penasaran pada hal-hal yang menggantung tanda tanya.
“Eh War, ayo kita mau nyate?” Sapa
salah seorang teman menyentak penasaranku yang termangu di depan pintu.
“Wah.. Asik dong. Ayo Jun..”
Timpalku dengan kegirangan pada Junaidi.
Akhirnya terjawab juga. Mereka
bahagia karena baru saja mendapat bagian daging dari Taqi, teman yang sama
berasal dari Madura, kebetulan dipercaya jadi takmir masjid di sini. Budaya
me-nyate bagi orang Madura memang masih lekat. Itu yang aku tahu sejauh ini.
Malam tidak terasa telah membawa
kita ke arah jarum jam delapan kurang beberapa menit. Kepul asap dari arang
yang terbakar mengiring tawa ku bersama teman-teman. Begitu bahagia. Kipas terus
mengadu api dan arang, yang tampak kekalahan arang semakin legam. Aroma daging terbakar
mulai merobohkan tiang-tiang hidung menghirup.
“Astaughfirullah….Gempaaaaa…!”
Teriak orang-orang di lantai satu, di bawah, bersamaan pula dengan guncangan lantai
dan gedung yang aku terima. Tidak ada yang ku pedulikan. Seperti tak ada
undakan tangga yang sulit karena berkelak-kelok, yang biasa ku turuni. Semua
seperti jalan lurus. Padahal aku biasa kesulitan untuk mendaki atau ketika
hendak turun dari kamar. Di halaman yang dipenuhi gemilap bintang dan asap
langit kemerahan, ternyata sudah penuh dengan orang-orang. Sejumlah anak kos
dari berbagai daerah, pemilik kosan, tetangga, menjadi satu malam itu. Jerit
tangis kaum wanita dan anak kecil menghantam ngeri di gendang telinga.
Gempa memang tidak menggetar lama
bumi, dan bangunan. Kejadian itu hanya berkisar sepuluh detik, kemudian
berlalu. Tapi hati yang bimbang tak bisa berlalu secepat itu. Jalur laju otakku
berputar tak menentu. Menanggapi hal baik, dan hal lain yang membuatku takut
terulang lagi.
Hal pertama, yang ku anggap hikmah
dari gempa adalah kebersamaan yang berlangung beberapa menit itu. Kala bangunan
tergoncang, kita mulai serentak bersatu. Berkumpul tanpa ada pembeda. Padahal
di hari yang biasa, aku tidak pernah bertemu dengan orang-orang tadi yang
mengelilingi tubuhku. Ternyata dia orang yang dekat dengan tempat tinggalku.
Gempa mungkin adalah hal biasa bagi orang Jogja. Tapi bagi diriku yang
pendatang, dari Madura, melihat kejadian bergetar itu seperti mau menghanyut
nyawa di dada. Bagaimana tidak? Sedang kejadian demikian sulit terjadi di
Madura. Bahkan sepanjang umurku 19 tahun, baru pertama ini merasakan getaran
dari bergesekan lempeng bumi itu.
Sedang hal lain yang menakutkan. Kejadian
itu kejam mengutuk kelopak mataku, hingga tak mau terkatup menutupi bolanya
yang sudah terlihat payah. Memang tidak ada korban malam ini. Andai saja
terjadi korban, aku tidak hanya tidak bisa tidur, bahkan mungkin bisa gila.
***
Asap pembakaran daging sate menyengat
hidung dengan aroma berbeda. Itu hangus. Mungkin sama dengan perasaanku,
hangus. Tak terhitung jumlah sholawat mengalir basah di bibir hitamku. Rasa
takut tak mau jua berlalu. Padahal jam
sudah menunjuk ke arah subuh. Pagi buta sukses meninabobokkan teman-temanku.
Tapi gagal memperbudakku mala mini. Selama malam aku hanya meratapi jendela,
gedung, dan bangunan kamar yang tampak sunyi. Aku tidak mau beribcara keras.
Kalau sampai jendela dan gedung berbicara, seperti bahasa gelagatnya yang
meriak-riak menakutkan seperti tadi. Tentu aku tak mau.
Satu-peratu teman terjaga setelah
semalam menenun mimpi diantara ngegok keriangan. Mereka semudah itu melupakan
gempa. Ku ambil sebatang rokok 234 yang tinggal dua batang. Sebelum ritual
menghisap-hisap, bibirku perlu berwudhu’ pada warna gelap kopi hitam. Keduanya
itu yang telah menemaniku sepanjang malam. Mereka begitu setia menghantar aku
pada pagi yang buta. Ingin rasanya cepat-cepat memantau wajah sang surya. Aku
ingin mengabari Madura tentang keluh yang menggeluti hatiku. Aku akan bercerita
tentang guncangan semalam yang menggoncang tubuhku, yang belum pernah Madura
perkenalkan kepadaku, yang sekaligus menakutkan, kepada orangtua, kepada
keluarga, dan kepada semua kerabat. Aku takut merasakan lagi.
Ku gapai HP mungil jadul yang begitu
dingin. Munkin sapa HP-ku juga merasakan hal yang sama seperti ku. Jemari sudah
tak lagi sabar untuk segera berdansa diantara tombol 087805535xxx. Nomor Ibu
yang perdana ku hubungi. Suaraku mulai bersalaman dengan suara wanita yang
telah ku hafal itu. Dengan nada wibawanya yang sudah sepuh menyirat duka
mendalam menanggapi kekalutan hatiku. Setiap kalimat yang lahir lebih tajam
dari pada celurit bapak, tepat menancap di batinku yang tak lagi kaku membatu.
Kadang aku menangkap ada isak darinya. Aku paham beliau melubangi kembali
bendungan air matanya, karena cangkulku yang rewel.
“Tapi aku benar-benar masih merasa
takut Bu..” Suaraku satu dua, tersebab parau.
Suara kedua yang tak kala berwibawa,
adalah suara Bapak. Beliau tak ber-isak seperti halnya Ibu. Hati Bapak lebih
kebal menangkal duka yang meski sebenarnya ia merasa bahwa tengah didera hal sama.
Aku tak berani berbanyak bahasa. seperti biasa aku menghaturkan permintaan doa
atau amalan ketika dalam kekalutan seperti ini. Bapak sering memberi amalan,
wiritan, untuk ku tunaikan pada waktu-waktu tertentu.
“Kamu perbanyak baca dua ayat
terakhir dari Surah At-taubah..” Pesan Bapak…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.