Sabtu, 26 September 2015

GEMPA



            Waktu itu tanggal 25 September 2015 tepat pada hari jum’at. Tepatnya adalah malam sabtu. Aktifitas yang tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya ku lalui. Selesai menunaikan jam kuliah sore, seusai maghrib membimbing putera-puteri tetangga kosan mengaji Al-qur’an. Isya’ lepas dari kumandang adzan yang bertalu dari pengeras suara mushollah dan masjid-masjid sekitar. Meski sudah satu tahun di kota Jogja, aku belum juga kerasan di kota ini. Kerap kerinduan kepada tempat kelahiran Madura menjelma serupa tebing-tebing yang mengurungku.
            Malam yang masih belum larut. Aku mencuilkan sedikit lengang waktu untuk merombak isi buku. Aku membacanya tepat di depan pintu mushollah. Sesekali ku ratapi anak tingkat yang tertata kaku. Kamar kosan ku ada di lantai dua. Tapi aku gemar membaca buku di lantai bawah, di depan pintu. Karena di tempat itu aku dapat menyaksikan banyak hal yang menarik. Dari gemilap cahaya bintang di langit gelap sampai pada bayangan perempun dari balik jendela tertutup kain di asrama puteri.
            Belum juga sampai pada dimana titik lelah aku membaca, tiba-tiba sesosok laki-laki tinggi berbaju putih membawa dua anak wanita. Yang satu mendekap setia di dada laki-laki itu, sementara yang satunya, tangannya tampak erat menggenggam jemari ayahnya. Laki-laki itu begitu tinggi. Jika dibanding dengan tubuhku yang kerdil, mungkin butuh dua kali manusia sepertiku untuk dapat menjangkau kepalanya. Kemudian laki-laki menyapaku yang mungkin terlihat asing baginya. Percakapan diantara ku dengan nya pun berlangsung beberapa menit. Lalu, ia menawarkan jabatan tangan dan pertanyaan kepadaku, “Asal mu dari mana?” “Kuliah atau kerja di sini?”. Kemudian laki-laki itu hilang ditelan remang lampu kompleks setelah menerima jawabanku, dan aku kembali menaiki anak tingkat yang kaku.
            Di lantai atas beberapa teman asal Madura tampak kegirangan. Entah apa yang baru saja mereka diskusikan. Aku tidak paham alurnya. Kebahagiaan mereka telah mengalahkan kaum ibu-ibu yang baru saja menang arisan. Rasa penasaran perlahan menyelidikinya atas sifat kebiasaanku. Aku suka penasaran pada hal-hal yang menggantung tanda tanya.
            “Eh War, ayo kita mau nyate?” Sapa salah seorang teman menyentak penasaranku yang termangu di depan pintu.
            “Wah.. Asik dong. Ayo Jun..” Timpalku dengan kegirangan pada Junaidi.
            Akhirnya terjawab juga. Mereka bahagia karena baru saja mendapat bagian daging dari Taqi, teman yang sama berasal dari Madura, kebetulan dipercaya jadi takmir masjid di sini. Budaya me-nyate bagi orang Madura memang masih lekat. Itu yang aku tahu sejauh ini.
            Malam tidak terasa telah membawa kita ke arah jarum jam delapan kurang beberapa menit. Kepul asap dari arang yang terbakar mengiring tawa ku bersama teman-teman. Begitu bahagia. Kipas terus mengadu api dan arang, yang tampak kekalahan arang semakin legam. Aroma daging terbakar mulai merobohkan tiang-tiang hidung menghirup.
            “Astaughfirullah….Gempaaaaa…!” Teriak orang-orang di lantai satu, di bawah, bersamaan pula dengan guncangan lantai dan gedung yang aku terima. Tidak ada yang ku pedulikan. Seperti tak ada undakan tangga yang sulit karena berkelak-kelok, yang biasa ku turuni. Semua seperti jalan lurus. Padahal aku biasa kesulitan untuk mendaki atau ketika hendak turun dari kamar. Di halaman yang dipenuhi gemilap bintang dan asap langit kemerahan, ternyata sudah penuh dengan orang-orang. Sejumlah anak kos dari berbagai daerah, pemilik kosan, tetangga, menjadi satu malam itu. Jerit tangis kaum wanita dan anak kecil menghantam ngeri di gendang telinga.
            Gempa memang tidak menggetar lama bumi, dan bangunan. Kejadian itu hanya berkisar sepuluh detik, kemudian berlalu. Tapi hati yang bimbang tak bisa berlalu secepat itu. Jalur laju otakku berputar tak menentu. Menanggapi hal baik, dan hal lain yang membuatku takut terulang lagi.
            Hal pertama, yang ku anggap hikmah dari gempa adalah kebersamaan yang berlangung beberapa menit itu. Kala bangunan tergoncang, kita mulai serentak bersatu. Berkumpul tanpa ada pembeda. Padahal di hari yang biasa, aku tidak pernah bertemu dengan orang-orang tadi yang mengelilingi tubuhku. Ternyata dia orang yang dekat dengan tempat tinggalku. Gempa mungkin adalah hal biasa bagi orang Jogja. Tapi bagi diriku yang pendatang, dari Madura, melihat kejadian bergetar itu seperti mau menghanyut nyawa di dada. Bagaimana tidak? Sedang kejadian demikian sulit terjadi di Madura. Bahkan sepanjang umurku 19 tahun, baru pertama ini merasakan getaran dari bergesekan lempeng bumi itu.
            Sedang hal lain yang menakutkan. Kejadian itu kejam mengutuk kelopak mataku, hingga tak mau terkatup menutupi bolanya yang sudah terlihat payah. Memang tidak ada korban malam ini. Andai saja terjadi korban, aku tidak hanya tidak bisa tidur, bahkan mungkin bisa gila.
***
            Asap pembakaran daging sate menyengat hidung dengan aroma berbeda. Itu hangus. Mungkin sama dengan perasaanku, hangus. Tak terhitung jumlah sholawat mengalir basah di bibir hitamku. Rasa takut tak mau  jua berlalu. Padahal jam sudah menunjuk ke arah subuh. Pagi buta sukses meninabobokkan teman-temanku. Tapi gagal memperbudakku mala mini. Selama malam aku hanya meratapi jendela, gedung, dan bangunan kamar yang tampak sunyi. Aku tidak mau beribcara keras. Kalau sampai jendela dan gedung berbicara, seperti bahasa gelagatnya yang meriak-riak menakutkan seperti tadi. Tentu aku tak mau.
            Satu-peratu teman terjaga setelah semalam menenun mimpi diantara ngegok keriangan. Mereka semudah itu melupakan gempa. Ku ambil sebatang rokok 234 yang tinggal dua batang. Sebelum ritual menghisap-hisap, bibirku perlu berwudhu’ pada warna gelap kopi hitam. Keduanya itu yang telah menemaniku sepanjang malam. Mereka begitu setia menghantar aku pada pagi yang buta. Ingin rasanya cepat-cepat memantau wajah sang surya. Aku ingin mengabari Madura tentang keluh yang menggeluti hatiku. Aku akan bercerita tentang guncangan semalam yang menggoncang tubuhku, yang belum pernah Madura perkenalkan kepadaku, yang sekaligus menakutkan, kepada orangtua, kepada keluarga, dan kepada semua kerabat. Aku takut merasakan lagi.
            Ku gapai HP mungil jadul yang begitu dingin. Munkin sapa HP-ku juga merasakan hal yang sama seperti ku. Jemari sudah tak lagi sabar untuk segera berdansa diantara tombol 087805535xxx. Nomor Ibu yang perdana ku hubungi. Suaraku mulai bersalaman dengan suara wanita yang telah ku hafal itu. Dengan nada wibawanya yang sudah sepuh menyirat duka mendalam menanggapi kekalutan hatiku. Setiap kalimat yang lahir lebih tajam dari pada celurit bapak, tepat menancap di batinku yang tak lagi kaku membatu. Kadang aku menangkap ada isak darinya. Aku paham beliau melubangi kembali bendungan air matanya, karena cangkulku yang rewel.
            “Tapi aku benar-benar masih merasa takut Bu..” Suaraku satu dua, tersebab parau.
            Suara kedua yang tak kala berwibawa, adalah suara Bapak. Beliau tak ber-isak seperti halnya Ibu. Hati Bapak lebih kebal menangkal duka yang meski sebenarnya ia merasa bahwa tengah didera hal sama. Aku tak berani berbanyak bahasa. seperti biasa aku menghaturkan permintaan doa atau amalan ketika dalam kekalutan seperti ini. Bapak sering memberi amalan, wiritan, untuk ku tunaikan pada waktu-waktu tertentu.
            “Kamu perbanyak baca dua ayat terakhir dari Surah At-taubah..” Pesan Bapak…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.