Makkah. Siapa yang
tidak tahu tentang kota sekaligus jantung agama islam itu? Orang non muslim pun
pasti mengenal meski sekedar pernah mendengar. Indonesia sebagai negara yang
penduduknya mayoritas muslim, mengunjungi kota Makkah adalah sesuatu yang
dirindukan. Termasuk perihal naik haji atau umrah. Pada tahun ini sesuai dengan
Keputusan Menteri Agama (KMA) No 32/2015
tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1436H/2015M mengatur bahwa kuota haji nasional
berjumlah 168.800 yang terdiri dari kuota haji reguler (155.200) dan kuota haji
khusus (13.600). Kuota haji reguler terbagi menjadi dua, yaitu: 154.049 untuk
jamaah haji dan 1.151 untuk petugas haji daerah. Adalah angka yang besar dan
tentunya aset besar juga bagi kerajaan Arab.
Orang yang
melaksanakan syarat rukun islam yang ke lima ‘naik haji’ melakukan beberapa
ritual yang erat kaitannya dengan sejarah-sejarah keislaman. Seperti bermalam
di Mina, memakai pakaian Ihram, Wukuf, Thawaf, dll. Merupakan ritual ibadah
yang butuh nyali sabar, kesehatan jasmani dan rohani agar sempurna.
Pada
dahulunya kota Makkah tidak semenawan sekarang ini. Makkah berdebu tanpa gemilap
pijar lampu yang bervariasi. Sungguh elok tempat-tempat sejarah kenabian dan para
sahabat serta keluarganya itu untuk menjadi daya tarik pengunjung warga negara
indonesia yang berbudaya. Makkah seakan panggung keislaman yang dpoles dengan
kesakralan peninggalan Rasulullah.
Menjadi lain
jika semua tempat-tempat bersejarah dihilangkan dari bumi Makkah. Pembangunan
secara megah telah menghapus keaslian Makkah. Padahal dari sebuah tulisan Bung
Karno Di Bawah Bendera Revolusi tahun 1930-an beliau menggabarkan kaum Wahabi
sebagai orang-orang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”. Mereka
bahkan membongkar antena radio, menolak mobil dan menolak lampu listrik. Namun
hal itu tidak sesuai dengan pemikiran Wahabi yang terjadi pada jaman ini.
Bid’ah-lah jika ada yang yasinan
memanjatkan doa di tempat bersejarah, bagi Wahabi. Sampai pada akhirnya modernisasi
Makkah telah melenyapkan beragam warisan sejarah peninggalan zaman Nabi
Muhammad dan para sahabatnya. Masjid Al-Haram tengah diperluas sampai 400 ribu meter persegi
sehingga mampu memuat 2,2 juta jamaah sekaligus. Bahkan rumah isteri Nabi yang
pertama, Khadijah, kini dijadikan WC umum berkapasitas 1.400 orang.
Rezim Bani
Saud beraliran Wahabi, selalu mengklaim sebagai pelaksana ajaran Islam murni
yang dibawa Nabi Muhammad. Mereka kerap menyatakan diri sebagai pecinta nabi,
namun malah meluluhlantahkan peninggalan Rasulullah. Terlihat jelas dari wajah
Kota Makkah yang saat ini dikelilingi bangunan-bangunan pencakar langit seperti
kota New York Amerika.
Berdirinya
bangunan terbesar di dunia, The Abraj Al-Bait Towers, juga dikenal sebagai
Menara Clock Royal Mecca Hotel, adalah sebuah kompleks bangunan di Makkah, Arab
Saudi. Kompleks bangunan ini hanya 800 meter dari masjid terbesar di dunia dan
situs Islam paling suci, Masjid Al-Haram.
Jamaah
haji ketika sampai di Ka’bah, mereka akan dikurung dengan gedung-gedung megah
menjulang ke langit. Menara Clock Royal Mecca Hotel akan menjadi hantu yang
diam-diam menyulap para jamaah untuk meng-wah-kan, bukanlah Ka’bah. Kita akan
memandang dari beberapa jama’ah haji yang ke tanah suci Makkah, melakukan
ibadah atau sekedar piknik istan kemewahan. Karena Ka’bah kiblat sholat orang
muslim telah tampak begitu kecil dibanding dengan bangunan di sampingnya.
Transformasi
Masjid Al-Haram dari tempat peribadatan menjadi pemenuhan permintaan dan
penawaran pasar, pasar ziarah agama. Begitulah pemikiran pendek untuk
membahasakan kota Makkah dari para jamaah haji atau cukup pengunjung yang hanya
tertarik pada kemegahnya. Termasuk dengan yang terjadi beberapa hari lalu,
jatuhnya crane yang banyak memakan korban. Mirisnya, menimpa jamaah yang tepat
berada di dalam Masjid Al-Haram. Merupakan peringatan dari Allah SWT bagi
pembangunan yang meniadakan tempat bersejarah.
Orang
yang memiliki banyak uang berangkat ke tanah suci Makkah dan orang yang hanya
memiliki niat kerena rukun Islam akan jelas berbeda. Apa lagi sosial media dan
pemberitaan memberitakan Makkah bukan sekedar gambaran bersejarahnya islam di
san, lebih kepada kemewahan, hingar bingarnya pembangunan kota Makkah yang
berlelebihan. Tidak heran jika kebanyakan orang di bangsa ini ketika menjadi
haji, hajinya hanya dijadikan sebuah mahkota untuk dipanggil “wak haji” atau
setidaknya disungkani masyarakat. Mereka tidak mabrur karena tempat yang
seharusnya mensucikan hati mereka, kini telah memberi pelajaran bahwa kota
islam megah, kaya raya. Terlintas dibenak penulis, adalah contoh sifat tamak
yang tidak terkontrol. Padahal menurut Al-Qur’an kekayaan itu hanyalah Zinatul Hayat, sebuah hiasan hidup yang
ada kecenderungan manusia menjadi sombong karena kekayaannya.
Imam
Malik bin Anas berpesan: ”Aku bersumpah demi Allah wahai amirul mukminin janganlah kamu
menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga
tidaklah seorang dari mereka yang ingin merubahnya kecuali dia akan merubahnya
dan kemudian hilanglah kewibawaannya dari hati-hati kaum muslimin”. Semogalah Raja
Abdullah bin Abdul Aziz tidak sampai mengubah Ka’bah.
Makkah
telah hadir dengan tampilan baru dan Arab mempoles dengan seindah rupa. Maka
kesakralan Makkah perlahan terkikis dari garis sejarah islam. Bukankah sebuah
identitas wilayah itu semakin kuat jika dibuktikan dengan adanya
bangunan-bangunan bersejarah. Akan tetapi jika semua sudah dilumat oleh
modernisasi, jangan harap bahwa Makkah tidak akan hilang, Makkah akan menjadi
riwayat asing bagi kalangan umat muslim di dunia. Agama islam akan tercopot
jantungnya. Ibadah haji bukan lagi menjadi sebuah rukun islam, melainkan hanya
acara weekend orang-orang berdompet tebal non muslim. Wallahua’lam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.