Jumat, 25 September 2015

Ke Makkah: Antara Ibadah dan Piknik Instan Penuh Kemewahan



        Makkah. Siapa yang tidak tahu tentang kota sekaligus jantung agama islam itu? Orang non muslim pun pasti mengenal meski sekedar pernah mendengar. Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim, mengunjungi kota Makkah adalah sesuatu yang dirindukan. Termasuk perihal naik haji atau umrah. Pada tahun ini sesuai dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) No 32/2015 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1436H/2015M mengatur bahwa kuota haji nasional berjumlah 168.800 yang terdiri dari kuota haji reguler (155.200) dan kuota haji khusus (13.600). Kuota haji reguler terbagi menjadi dua, yaitu: 154.049 untuk jamaah haji dan 1.151 untuk petugas haji daerah. Adalah angka yang besar dan tentunya aset besar juga bagi kerajaan Arab.
            Orang yang melaksanakan syarat rukun islam yang ke lima ‘naik haji’ melakukan beberapa ritual yang erat kaitannya dengan sejarah-sejarah keislaman. Seperti bermalam di Mina, memakai pakaian Ihram, Wukuf, Thawaf, dll. Merupakan ritual ibadah yang butuh nyali sabar, kesehatan jasmani dan rohani agar sempurna.
            Pada dahulunya kota Makkah tidak semenawan sekarang ini. Makkah berdebu tanpa gemilap pijar lampu yang bervariasi. Sungguh elok tempat-tempat sejarah kenabian dan para sahabat serta keluarganya itu untuk menjadi daya tarik pengunjung warga negara indonesia yang berbudaya. Makkah seakan panggung keislaman yang dpoles dengan kesakralan peninggalan Rasulullah.
            Menjadi lain jika semua tempat-tempat bersejarah dihilangkan dari bumi Makkah. Pembangunan secara megah telah menghapus keaslian Makkah. Padahal dari sebuah tulisan Bung Karno Di Bawah Bendera Revolusi tahun 1930-an beliau menggabarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”. Mereka bahkan membongkar antena radio, menolak mobil dan menolak lampu listrik. Namun hal itu tidak sesuai dengan pemikiran Wahabi yang terjadi pada jaman ini.
            Bid’ah-lah jika ada yang yasinan memanjatkan doa di tempat bersejarah, bagi Wahabi. Sampai pada akhirnya modernisasi Makkah telah melenyapkan beragam warisan sejarah peninggalan zaman Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Masjid Al-Haram tengah diperluas sampai 400 ribu meter persegi sehingga mampu memuat 2,2 juta jamaah sekaligus. Bahkan rumah isteri Nabi yang pertama, Khadijah, kini dijadikan WC umum berkapasitas 1.400 orang.
Rezim Bani Saud beraliran Wahabi, selalu mengklaim sebagai pelaksana ajaran Islam murni yang dibawa Nabi Muhammad. Mereka kerap menyatakan diri sebagai pecinta nabi, namun malah meluluhlantahkan peninggalan Rasulullah. Terlihat jelas dari wajah Kota Makkah yang saat ini dikelilingi bangunan-bangunan pencakar langit seperti kota New York Amerika.
            Berdirinya bangunan terbesar di dunia, The Abraj Al-Bait Towers, juga dikenal sebagai Menara Clock Royal Mecca Hotel, adalah sebuah kompleks bangunan di Makkah, Arab Saudi. Kompleks bangunan ini hanya 800 meter dari masjid terbesar di dunia dan situs Islam paling suci, Masjid Al-Haram.
            Jamaah haji ketika sampai di Ka’bah, mereka akan dikurung dengan gedung-gedung megah menjulang ke langit. Menara Clock Royal Mecca Hotel akan menjadi hantu yang diam-diam menyulap para jamaah untuk meng-wah-kan, bukanlah Ka’bah. Kita akan memandang dari beberapa jama’ah haji yang ke tanah suci Makkah, melakukan ibadah atau sekedar piknik istan kemewahan. Karena Ka’bah kiblat sholat orang muslim telah tampak begitu kecil dibanding dengan bangunan di sampingnya.
            Transformasi Masjid Al-Haram dari tempat peribadatan menjadi pemenuhan permintaan dan penawaran pasar, pasar ziarah agama. Begitulah pemikiran pendek untuk membahasakan kota Makkah dari para jamaah haji atau cukup pengunjung yang hanya tertarik pada kemegahnya. Termasuk dengan yang terjadi beberapa hari lalu, jatuhnya crane yang banyak memakan korban. Mirisnya, menimpa jamaah yang tepat berada di dalam Masjid Al-Haram. Merupakan peringatan dari Allah SWT bagi pembangunan yang meniadakan tempat bersejarah.
            Orang yang memiliki banyak uang berangkat ke tanah suci Makkah dan orang yang hanya memiliki niat kerena rukun Islam akan jelas berbeda. Apa lagi sosial media dan pemberitaan memberitakan Makkah bukan sekedar gambaran bersejarahnya islam di san, lebih kepada kemewahan, hingar bingarnya pembangunan kota Makkah yang berlelebihan. Tidak heran jika kebanyakan orang di bangsa ini ketika menjadi haji, hajinya hanya dijadikan sebuah mahkota untuk dipanggil “wak haji” atau setidaknya disungkani masyarakat. Mereka tidak mabrur karena tempat yang seharusnya mensucikan hati mereka, kini telah memberi pelajaran bahwa kota islam megah, kaya raya. Terlintas dibenak penulis, adalah contoh sifat tamak yang tidak terkontrol. Padahal menurut Al-Qur’an kekayaan itu hanyalah Zinatul Hayat, sebuah hiasan hidup yang ada kecenderungan manusia menjadi sombong karena kekayaannya.
            Imam Malik bin Anas berpesan: ”Aku bersumpah demi Allah wahai amirul mukminin janganlah kamu menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga tidaklah seorang dari mereka yang ingin merubahnya kecuali dia akan merubahnya dan kemudian hilanglah kewibawaannya dari hati-hati kaum muslimin”. Semogalah Raja Abdullah bin Abdul Aziz tidak sampai mengubah Ka’bah.
            Makkah telah hadir dengan tampilan baru dan Arab mempoles dengan seindah rupa. Maka kesakralan Makkah perlahan terkikis dari garis sejarah islam. Bukankah sebuah identitas wilayah itu semakin kuat jika dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan bersejarah. Akan tetapi jika semua sudah dilumat oleh modernisasi, jangan harap bahwa Makkah tidak akan hilang, Makkah akan menjadi riwayat asing bagi kalangan umat muslim di dunia. Agama islam akan tercopot jantungnya. Ibadah haji bukan lagi menjadi sebuah rukun islam, melainkan hanya acara weekend orang-orang berdompet tebal non muslim. Wallahua’lam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.