Selasa, 17 Mei 2016

Rumah Cinta dan Cita-cita




            Sumenep. Di kota itu ia memulai menjadi manusia. Manusia yang orang kebanyakan bilang gila. Dari orangtua, guru, hingga seluruh tetangga. Makna kata gila sendiri, ia, pun masih belum paham. Sebut saja namanya Yatfa, anak pertama dari sepasang suami istri halal. Tahun dua ribu empat belas kemarin, ia berhasil lulus dari pesantren yang cukup ternama di daerahnya. Semenjak di dunia pesantren, Yatfa aktif dalam kamunitas teater. Dan bahkan ia dipilih menjadi ketua sanggar Rela Tanpa Dipaksa.
            Yatfa memiliki bakat yang terpendam. Dari tahun kelulusannya dua ribu empat belas lalu, ia tidak langsung melanjutkan kuliah. Bagi seorang santri adalah kewajiban mengabdikan diri selama satu tahun di pesantren.
            Selama pengabdian, ia banyak melalui rintang. Pertama, setelah Yatfa menyatakan kemauan dan minatnya kuliah di kampus seni kepada orangtuanya, ia, pun langsung diasingkan secara kasih sayang. Ditambah lagi, perkataan guru sekaligus orang terpercaya di pesantrennya yang tidak tanggung-tanggung mengatakan kalau jalan yang ditempuh Yatfa sebenarnya bukan jalan yang benar. Sebagai seorang penyair dan seniman.
            Bermula dari dua permasalahan itulah kisah hidupnya dimulai.
***
            Bulan lima. Tahun dua ribu lima belas. Yatfa sudah selesai menjalankan pengabdian yang diwajibkan di pesantren itu. Kepulangannya ke rumahnya membawa segudang tujuan untuk meminta rida sang orangtua, yang tiada lain agar menguliahkannya di kampus seni, sebagaimana cita-citanya. Sebagai orang seni─aktor teater, Yatfa sangat ingin kuliah di jurusan seni keteateran. Sumenep memang masih kental dengan keseniannya. Banyak generasi-generasi yang selalu terlahir, sebagai pelaku kesenian, setiap tahunnya. Utamanya lahir dari kalangan santri.
            Yatfa mulai bingung, ketika semua yang ia harapkan ternyata tidak membuat orangtuanya—utamanya bapaknya, setuju dan mendukung Yatfa. Penampilan Yatfa yang jauh dari seorang santri, membuat bapaknya tak mau mendukung apa yang telah ia pilih. Memakai kalung dari batu kerikil. Memakai gelang dari akar kayu. Tubuhnya dipenuhi perhiasan-perhiasan layaknya manusia purba. Rambutnya juga panjang. Itulah sosok Yatfa. Ia juga dijuluki si manusia aneh, atau bahkan gila, oleh bapaknya sendiri.
Namun, ia tak mau hanya berhenti berjuang pada titik itu─tidak mendapatkan dukungan dari bapaknya. Pada akhirnya, Yatfa membawa bapaknya ke salah satu guru di pesantren tempat ia menuntut ilmu. Dengan harapan sang bapak dapat cerah hatinya. Artinya menerima keadaan dan cita-cita Yatfa. Kebetulan sang guru yang akan didatangi Yatfa dan bapaknya adalah orang yang dulunya, bahkan sampai sekarang, masih aktif di dunia seni.
            Lagi-lagi. Sang guru yang semula dikiranya akan menjadi sebuah tetes dingin bagi gurun jiwanya, malah sebaliknya─disalahkan bercita-cita jadi orang teater. Yatfa harus pulang membawa bekas luka. Ia mulai beranggapan, bahwa begitu sulit untuk mencari orang yang hatinya sungguh-sungguh ingin merangkul diri dan cita-citanya.
            Kata-kata Sang Kiai masih terngiang sepanjang jalur pikirnya. Ia semula tak mengira, bahwa sang guru akan ikut mengkerdilkan potensi Yatfa. “Kamu mau kuliah di jurusan teater? Mau jadi artis? Mau jadi orang gila?” Ya, kata itu yang masih menyelubung dalam pikiran Yatfa. Ia kini mulai merasa tak memiliki pegangan hidup lagi. Hanya saja, jauh di lubuk hati terdalamnya, Yatfa, masih mampu ingat kalau seorang seniman tak boleh pantang menyerah.
            Bulan enam, di tahun yang sama─dua ribu lima belas, Yatfa mulai mencari jalan keluar agar cita-citanya tercapai. Yatfa merantau ke Jakarta. Di sana ia bekerja menjaga toko─diajak oleh sepupunya sendiri. Empat bulan lamanya laki-laki yang dianggap gila oleh bapaknya itu bekerja menjaga toko.
            Selama Yatfa bekerja menjaga toko, ia ditipu oleh sepupunya sendiri. Uang hasil kerja mereka berdua, diam-diam dikirim ke kampung halaman oleh sepupunya tanpa sepengetahuan Yatfa. Bahkan ketika ia sudah ingin pulang, ternyata Yatfa pun ditinggal sendirian di Jakarta─sepupunya pulang dengan membawa uang hasil kerja mereka berdua. Sehingga untuk bisa pulang ke tanah Sumenep Madura, Yatfa terpaksa harus menjual HP miliknya. Bahkan menurut kabar, kini sepupu Yatfa sudah membeli motor baru di kampung halaman.
            Setelah Yatfa pulang dan sampai di rumahnya, rumah yang sangat Yatfa cinta, ia bercerita kepada orang tuanya. Dan lagi, pada awalnya tak satu pun ada yang percaya di antara mereka─keluarga Yatfa. Hingga, Iyas sepupu Yatfa, dan Yatfa disidang di balai desa, untuk membuktikan kebenaran serta menegaskan siapa yang salah. Kepulangan Yatfa ke  kampung halaman membawa hutang banyak, karena modal awal toko berkurang. Akibatnya, orangtua Yatfa harus menjual satu-satunya sapi yang dimiliki.
            Gagal sudah untuk tahun itu Yatfa kuliah. Tersebab, kenyataan sudah tak seindah harapan. Padahal Yatfa berharap dengan cara dia bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan uang, semata-mata untuk biaya pendaftaran kuliahnya. Begitu banyak rahasia Tuhan untuk menguji ketabahan hati laki-laki yang aneh itu. Ia perlu belajar dari karang nan kering dan tegar.
            Musim kemarau begitu panjang menggigit tanah desa yang berbatu. Beberapa daun pepohonan lantak di-ke tanah. Seorang lelaki yang gigih masih saja tak letih mengejar mimpi-mimpi yang semakin remang. Kepercayaan akan ada hari indah pada esok, masih ditasbih tanpa lelah oleh Yatfa. Untuk mengisi kekosongan hari-harinya, selama beberapa bulan ia menetap di komunitas Masyrakat Seni Pesantren. Komunitas itu adalah salah satu komunitas yang mewadahi kaum santri yang suka berkarya di dunia seni, khususnya yang ada di Kabupaten Sumenep itu.
            Selama Yatfa bergabung dengan teman-teman sedarahnya, ia semakin berpenampilan aneh. Ia jarang pulang. Demi menghindari pemikiran orang-orang di sekitar yang masih tidak sepaham dengannya. Maka, Yatfa, memilih untuk menetap di kantor komunitas tersebut. Tak pulang rindu, pulang malu. Begitulah kini Yatfa dilema rindu pada orangtuanya.
            Selama Yatfa menjadi perantau jalanan, memang tak satu pun keluarganya yang berkeinginan untuk mencari. Itu semua terjadi karena bapak Yatfa terlalu fanatik terhadap agama yang dianutnya─Islam. Menganggap orang yang beragama Islam adalah orang yang selalu bersarung dan memakai kopiah hitam. Entah, apa yang terbesit dalam benak Yatfa sehingga ia begitu kokoh mempertahankan cita-citanya. Yatfa punya pemikiran sendiri sebagai seorang santri yang mencintai seni, meski harus melawan sang bapak sekalipun. Sebenarnya di antara keluarganya, seperti nenek dan kakeknya, begitu juga ibunya, masih sedikit mendukung Yatfa.
            Mungkin benar apa yang dikatakan oleh orang banyak, kalau anak jatuh ke sumur, seorang ibu tidak perlu kebingungan mencari tangga, ia akan langsung menjatuhkan diri ke dalam sumur untuk menolong anaknya. Hanya mungkin tidak berlaku bagi seorang bapak Yatfa. Terbukti dari caranya mengajari kasih sayang terhadap anaknya. Anaknya seakan anjing jinak yang harus ikut apa perintahnya. Kalau tidak bisa tunduk, ia akan menjadi anjing yang begitu menjijikkan.
            Suatu waktu Yatfa tak lagi mampu menampung gelisah hatinya akan rindu pada rumah tercintanya. Ia pun pulang membawa rindu. Memasrahkan diri terhadap apapun yang akan dibicarakan orang-orang di rumahnya. Yang akan keluar dari mulut bapaknya.
            Kini sudah ada yang berubah dengan diri Yatfa. Semua aksesoris yang dulunya lengket di badan Yatfa, yang membuatnya seperti orang aneh atau gila, kini telah dilepasnya. Beberapa hari menetap di rumahnya, sudah miliaran bahagia yang dia dapati. Termasuk ketika menukar sapa dengan orang-orang rumahnya, dengan teman-temannya, dengan segala penjuru suasana desa yang indah.
            Yatfa yang sekarang sudah bersarung. Bahkan ia aktif di masjid sebagai pemanggil orang-orang untuk bersholat. Suara Yatfa begitu merdu.
            Satu bulan lebih sudah Yatfa ada di rumah tercintanya. Cita-citanya yang tahun lalu tanggal, kini kembali disusunnya lagi. Yatfa masih ingin kuliah. Kecanduannya terhadap seni tetap mengikat batin dan jiwanya. Pada suatu malam ia kembali mengatakan kepada orangtuanya—perihal keinginan kuliah di jurusan teater. Orang pertama yang dia ajak bicara adalah bapaknya.
            “Bapak, aku ingin kuliah..” Ucapnya lirih dalam madura penuh santun.
            “Kamu kalau mau kuliah, yang aku takutkan hanya menjadi seorang preman.” Perkataanya begitu dingin. Melebihi dingin malam musim hujan.
            “Kenapa bapak berkata seperti itu? Sebegitu ragunya bapak kepadaku? Sehingga masa depanku pun ikut bapak penggal!” semakin lirih suara Yatfa. Wajahnya begitu sendu.
            “Kamu lihat itu Suli, tetangga kita, dia kuliah jauh-jauh sekarang dia jadi apa? Jadi kuli tani, sama seperti bapakmu ini nak.”
            Rasanya sudah tidak punya kalimat lagi untuk melanjutkan percakapan dengan orantuanya. Malam semakin pekik. Cahaya gemintang semkin sendu dibungkus langit yang berkabut. Hujan akan segera turun menemui dingin suasana keluarga rumah cinta itu. Kedinginan yang akan bertambah dingin. Sekian...

2 komentar:

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.