Nenek Marwani,
meninggal karena terkena penyakit kencing manis pada bulan Desember 2015 lalu.
Diabetes yang menyerang kekebalan tubuhnya selama bertahun-tahun, telah
berhasil mengakhiri detak jantungnya. Terngiang oleh Fitri betapa sifat kasih
sayang neneknya kepada Fitri yang begitu besar. Ia menyesal belum sempat
membayar banyak kebaikan itu. Kebiasaan-kebiasaan Marwani mengajak cucunya ke
sawah, bermain dengan capung-capung kala musim penghujan, adalah kenangan
paling sulit dilupakan oleh Fitri.
Sesal yang lain
pun datang dari jiwa Fitri, karena dia tidak pernah menemani neneknya lama-lama
di kampung. Dia yang bersama ayah, ibu dan adiknya berada di kota, membuat
sulit untuk pulang ke kampung, untuk menghabiskan hari dengan nenek Marwani.
Maka hari libur selalu menjadi tuntutan bagi Fitri untuk memanja diri dengan
kasih sayang yang selalu indah dari sang nenek. Selama neneknya masih hidup,
Fitri tidak pernah memilih hari libur ke luar kota atau ke pantai. Dia selalu
memilih perkampungan tempat kelahiran ibunya itu. Suasana hijau kampung dengan
berpetak ladang memanjang penuh pohon menjulang, membuatnya betah dan tidak
ingin pulang.
Hanya saja, sesal
tinggal sesal, neneknya telah pergi dan tak akan pernah kembali. Ia mencoba
berusaha mengeluarkan tenang dari sesak yang menghadang. Padat bagi Fitri untuk
membelah setiap kejadian indah yang saat ini, atau pun nanti, yang tidak akan
terulang lagi. Jiwanya penuh dengan gemulung awan hitam. Hujan landai dari
matanya.
###
Selanjutnya
kepergian Rani, adik tercintanya. Berawal dari kejadian yang mengenaskan, Rani
meninggal pada saat hari kedua mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) di
sekolahnya. Hasil autopsi dokter membuktikan tentang penyebab kematian Rani
karena terkena hantam benda tumpul pada punggungnya. Hal itu dibuktikan dengan
luka memar dan tulang yang retak, hingga mengakibatkan kematian sang adik.
Belum sembuh luka
yang diderita Fitri sejak kepergian nenek kesayangannya sebulan yang lalu, kini
berbalut luka lagi dengan harus berberat hati merelakan kepergian Rani.
Keluarga Fitri, semakin pusing dengan alasan pihak sekolah yang memungkiri
adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh pihak panitia MOS terhadap si Rani.
Hati Fitri berubah geram mendengar penjelasan dari pihak sekolah tersebut. Dia
membujuk ibunya untuk melapor kepada pihak berwenang, yang dalam hal ini
petugas kepolisian. Namun, hasilnya malah semakin lebih menyakitkan. Jaksa
penuntut umum dan hakim ketua di dalam persidangan membenarkan pihak sekolah
dengan seabruk alat bukti yang kuat.
Sejak saat
kejadian kepergian Rani, ibunya sering sakit-sakitan. Berdasar penjelasan dokter di rumah sakit, ibu
Rumiyati terjangkit penyakit jantung. Fitri semakin dihujani banyak cobaan. Dia
tidak tahu harus menumpahkan keluhnya kepada siapa. Sebagai orang yang
kepribadiannya cenderung introvet, dia hanya bisa menahan diri di kamar.
Ayahnya yang sibuk mengurusi istrinya yang menderita penyakit jantung, sudah
agak kurang memperhatikan pendidikan Fitri. Fitri sudah dua minggu tidak masuk
sekolah. Kepala sekolah SMA-nya mengirimkan surat peringatan. Ayahnya baru
sadar kalau Fitri kini jarang masuk sekolah. Padahal dulu, Arsamin, ayah Firti,
selalu menggodoknya menjadi anak yang rajin sekolah. Tapi kali ini dia sudah
semakin menurun, karena banyak ditindih kesedihan ketika anak bungsunya
meninggal.
Tubuh perempuan kurus itu kini semakin kurus karena jarang makan
dan hanya menikmati empuk kasur di kamar. Fitri tidak mengubris kalimat-kalimat
dan suara tingi ayahnya. Dia tetap tidak masuk sekolah. Dia memilih berhenti
sekolah. Ibunya yang selama sepuluh hari yang lalu dibawa pulang dari rumah
sakit, mendengar kabar Fitri yang mendapat surat peringatan dari kepala
sekolah, membuat penyakit jantungnya kambuh. Rumiyati akhirnya terpaksa dibawa
lagi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif dari dokter.
Fitri kembali menangis. Ia merasa segala tindakannya telah membuat ibu
kandungnya sakit. Kini dia menjadi gamang dengan segala tindakan yang hendak
dilakukan. Wajah Fitri layu. Pucat. Bibirnya kering, seperti terlihat
gejala-gejala mau sakit.
Ceramah demi
ceramah dari ayahnya masuk dari kuping kanan dan ke luar ke kuping kiri. Semua
yang menjadi pembicaraan dan masukan Arsamin tidak pernah bertahan di kepala
Fitri. Dia hampir seperti orang gila. Termenung di samping tempat pembaringan
ibunya di kamar rumah sakit.
Jam mengarahkan jarum pendeknya ke angka tiga. Sedang dua jarung
yang lain, Fitri tidak begitu memperhatikan. Matanya lebih tertuju pada ibunya
yang wajahnya sedikit berbeda. Kulitnya putih, seperti tidak terlihat aliran
darah pada urat-urat kecil di balik kulitnya. Fitri memalingkan wajah ke arah
ayahnya yang tidur. Ia beranjak membangunkan ayahnya. Setelah Fitri dan Arsamin
mendekati wanita yang dijaganya di rumah sakit, dan mencoba mencari detak nadi
pada pagelangan tangannya, sudah tidak ada. Lehernya dingin. Tidak ada aroma
nafas yang tercium dari kedua lubang hidupnya. Tanda-tanda kehidupan tidak
ditemui. Fitri langsung teriak menuju ruangan dokter, memanggil dokter untuk
memeriksa kondisi ibunya.
Ibu Fitri meninggal. Dokter tidak bisa menolong nyawanya. Isak
tangis mengisi ruangan rumah sakit. Sepagi itu rumah sakit menjadi gaduh. Kabar
kematian Rumiyati pun didengar oleh tetangga dan sanak keluarga. Suara mobil
ambulan mengantar mayat Rumiyati hingga ke rumahnya. Ini bulan ketiga di mana
dalam satu keluarga mencicipi lagi duka kematian. Satu per satu orang
kesayangan Fitri dipulangkan oleh Sang Pencipta. Luka-luka Fitri semakin
berlipat tebal. Menggunung di jiwanya.
###
Suasana rumah semakin bertambah lengang dengan mengurangnya orang-orang
yang menghuni. Rumah Arsamin tampak layu. Bunga-bunga di tamannya meredup.
Bahkan cahaya lampu ketika malam hari terlihat seperti remang menanggung
kesedihan mendalam. Arsamin murung selama berhari-hari. Kepergian mertua, anak
dan istrinya sulit dimaafkan oleh kecamuk jiwanya. Semua kejadian seperti hantu
yang menyesak di kantung-kantung dadanya.
Setelah kepergian Rumiyati, Fitri mencoba mengganti posisi ibunya.
Dialah yang membersihkan rumah. Mencuci pakaian. Memasak makanan untuk ayahnya.
Dunia seperti berbalik tiga ratus enam puluh derajat. Kini Arsamin sulitan
mencerna makanan. Dia lebih memilih mengurung diri. Kadang untuk makan saja,
dia perlu disuap oleh Fitri. Banyak hal yang ditanggung Arsamin. Kini tubuh
kekar kelaki-lakiannya sudah tidak tampak. Semakin hari semakin kurus. Dia
lemah. Lebih lemah dari wanita yang jauh lebih muda dari usianya—Fitri. Fitri
selalu mencoba memotivasi ayahnya untuk tabah dan kuat menerima semua cobaan.
Pagi selalu menghadirkan matahari. Dengan cahaya hangatnya, ia
selalu mencoba memekarkan bunga-bunga. Bahkan tak jarang semburat mentari
menerbangkan embun yang berusaha dingin, mebekukan kehidupan makhluk hidup.
Kicau kutilang berdendang memaksa hati yang berduka agar bahagia. Pagi itu,
hari Minggu, Tanggal 13 Maret 2016. Fitri kedatangan tamu. Lima orang teman SMA
Fitri datang bermain ke rumahnya. Dia membawa banyak rindu. Fitri yang terkenal
sebagai siswa cerdas, ramah, rajin, telah membuat bekas kenangan paling lekat
di kelas. Mereka banyak merasa kehilangan yang tidak didapat dari siswa lain.
Termasuk Anam, yang juga merasa banyak kehilangan tanpa Fitri.
Anam adalah orang yang menyukai Fitri. Ia selalu menjadi
penyemangat ketika Fitri masih bersekolah di SMA. Hanya saja, di antara
keduanya belum mampu membahasakan suka, walau cinta menumpuk segunung dan
menyungkupi hati keduanya pada saat itu. Sendu mata Anam runcing ke arah wajah
Fitri. Ia seperti menemukan banyak duka yang berpetala di bola mata gadis kurus
itu. Seorang gadis yang dia kenal dengan kondisi fisik selalu segar, kini dia
temui dengan keadaan layu dan sedikit kumuh karena sudah berbulan-bulan tanpa
bedak. Rasa iba Anam ditunjukkan pada jamuan di rumah Fitri. Anam meminta izin
pada Fitri untuk menemui ayahnya. Ia langsung memeluk tubuh laki-laki yang
sudah tidak berotot dan rambut yang panjang itu dengan serampai sedih pada
hatinya. Air mata Anam tumpah. Bendungan di matanya tidak kuasa menahan.
Laki yang dipeluk
Anam akhirnya berbicara, “Aku minta tolong kepadamu. Jaga Fitri. Semangati
dia,” suaranya terputus. Ia memperbaiki nafas dan kemudian berbicara lagi, “Aku
sudah tidak akan lama lagi.”
Fitri tercengang
melihat ayahnya mau bicara. Dari kemarin hanya bisu yang ditemui dari sang ayah
oleh Fitri. Air mata Fitri ikut landai, mengiringi irama nada suara yang sudah
patah-patah dari laki-laki kurus berkulit putih itu. Kemudian rumah isi
tiba-tiba kembali ramai dengan isak tangis. Rupanya kata-kata Arsamin tadi,
menjadi kata terakhirnya di atas dunia. Fitri menjerit histeris. Ia kehilangan
kendali. Alam penglihatannya tiba-tiba saja gelap. Tidak ada lagi suara yang
bisa didengar. Dia hilang entah ke mana.
Sepuluh jam
kemudian Fitri terbangun. Dia sudah berada di antara orang-orang yang
memanjtakan doa tahlilan. Di ruang yang lain, dia mendengar lantunan Yasin
mengalun. Dia tidak paham apa yang terjadi sebelumnya. Dengan langkah terbata
Fitri menghampiri sumber suara pembacaan Surah Yasin. Dan Sulis yang melihat
tubuh Fitri terhuyung dengan tangan berusaha memegang tembok, langsung berlari
menghentikan bacaan Surah Yasinnya dan merangkul tubuh Fitri. Dan semua kaum
perempuan yang membaca Surah Yasin pada ruang itu, satu-satu ikut membantu
Sulis.
“Ada apa ini Lis?”
Fitri bertanya dengan suara yang serak.
“Kamu harus tabah
Fit. Ayah kamu sudah tiada,” dengan berat Sulis menyampaikan kejadian yang
sesungguhnya, “Kamu harus tabah Fitri,” tangis Sulis akhirnya pecah.
“Aku tidak
mengerti. Duh, Ya Allah!” Fitri menangis.
###
Sejak kejadian
kepergian ayah Fitri, Sulis, teman sekaligus sepupu Fitri meminta izin kepada
orangtuanya untuk menemani Fitri di rumahnya. Orangtua Sulis akhirnya
mengiyakan apa yang dikehendaki putrinya, asal tetap bersekolah—jangan sampai
berhenti. Mulai saat itu keadaan rumah Fitri tidak terlalu lengang. Kesedihan
Fitri tidak terlalu larut, karena banyak mendapatkan motivasi dan hiburan dari
teman-temannya. Banyak teman-teman dari sekolah Fitri yang dulu bermain ke
rumah Fitri. Bahkan sampai ada yang ikut bermalam. Namun meski begitu,
kesedihan hati Fitri tidak sepenuhnya tersapu tuntas. Dia masih bisa merasakan.
Hanya saja kini dia mencoba menampakkan wajah semringah di depan temannya,
utamanya kepada si Anam.
Anam adalah orang
yang paling tidak sudi melihat ada gurat kesedihan pada rona Fitri. Dengan usia
semuda itu, telah menanggung banyak asam garam kehidupan. Begitu yang dirasakan
pula oleh Anam. Hari demi hari yang dilewati pemuda berwajah bulat itu adalah
kelebat wajah Fitri. Kini tidak ada lagi yang bisa dipungkiri dari hatinya yang
bergejolak. Dia menyukai wanita kurus yang pernah menjadi teman sekelasnya.
Kebersamaan yang ditanam di rumah bertaman bunga itu, membuat perjalanan waktu
Anam berkembang bahagia karena ada bunga yang menjerat hatinya.
Malam beranjak
datang menjemput senja. Anam yang didera nelangsa, membuat dia berpikir untuk
membawa Fitri ke rumahnya. Malam itu dia mencoba mendiskusikan dengan
orangtuanya untuk menerima Fitri dalam keluarganya. Anam berharap kedua
orangtuanya, kali ini akan menuruti apa yang ia pinta. Bayangannya terlalu jauh
tentang sesuatu bahagia yang jika hidup seatap dengan wanita yang disayanginya
kini. Namun sayang, jawaban dari ibu Anam berat. Dia tidak mengizinkan Fitri
untuk tinggal seatap dengan keluarganya, kecuali mau menjadi seorang pembantu.
Anam marah, dia jelas tidak tega menyaksikan gadis kesayangannya dijadikan
pembantu, pelayan di rumahnya. Namun di lain sisi, Anam merasa berat mengingat
kehidupan Fitri yang saat ini hanya bergantung kepada sisa uang peninggalan
Ayahnya. Tidak akan lama lagi harta itu akan habis. Pikiran Anam berkecamuk.
Semalaman pemuda yang dilanda rasa cinta tidak dapat tidur. Dia mencoba memecahkan masalah yang dihadapi kehidupan kekasih hatinya. Dia ingin menjadi orang dewasa. Yang punya kerjaan, kemudian menikah dengan Fitri, hidup serumah, menjadi tulang punggung keluarga kecilnya. Hanya saja itu masih tidak mungkin dilakukannya dalam masa saat ini. Dia masih muda. Dia masih takut dengan gertak orangtuanya. Ingin rasanya Anam berteriak, tapi ia urungkan mengingat posisinya tengah berada di dalam kamar, dan di jam yang masih terlalu pagi. Dengan membawa perasaan tidak menentu, Anam akhirnya melelapkan diri. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Berharap, seiring matahari terbit, apa yang menjadi harapannya pun ikut terbit bersamaan.
“Kring...” suara
alarm di samping ranjang Anam berbunyi. Ia melirikkan mata yang masih sulit
terbelalak, “Sudah jam delapan,” langsung lari ke kamar mandi dan siap-siap
untuk memakai seragam sekolah. Anam sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Tiba
di ruang makan, ibu dan ayahnya kaget dan tersenyum. Anam masih tidak mengerti
apa yang menjadi bahan tertawaan kedua orangtuanya itu. Setelah menjernihkan
pikirannya, baru dia sadar, kalau hari ini adalah hari Minggu. Anam mendesus
sebal. Akhirnya dia lari ke kamar dan mengganti baju. Siap-siap mau ke rumah
Fitri.
Setelah melalui
ruang makan, Anam dicegat sama ibunya, “Mau ke mana kamu? Kamu mulai sekarang
tidak boleh ke mana-mana. Kamu tidak boleh ke rumah Fitri lagi,” sentak ibu
Anam.
“Emang kenapa bu?
Aku kan hanya mau main saja ke sana.”
“Pokoknya ya nggak
boleh. Kamu itu laki-laki, di rumah Fitri sudah tidak ada orangtuanya sekarang.”
Anam paham. Dia
membalikkan badan dan masuk ke kamar. Di bukanya jendela yang awalnya masih
tertutup rapi. Anam memandang ke
belakang rumah jauh. Gedung-gedung menjulang tinggi. Langit biru. Ia
menerbangkan cerita ke kebiruannya. Menumpahkan sakit hatinya yang pagi tadi
sudah dibentak keras oleh orangtuanya. Dia banyak bercurhat mengenai luka yang
dalam. Hidungnya yang tirus coba disandarkan pada tiang jendela.
###
Ini adalah pagi ke
130 yang kembali dirasakan sari sedihnya oleh Fitri. Ia mengenag betapa
kesedihan yang setiap bulan selalu berturut-turt seperti siklus dalam jiwanya.
Dari kepergian neneknya, adiknya, ibunya, ayahnya, dan mungkin Anam juga akan
ikut menjauhinya. Sudah satu minggu lebih Anam tidak pernah datang ke rumahnya,
yang biasanya selalu menjadi penyemangat hidupnya. Rupanya ketidak hadiran Anam
dalam kehidupan Fitri kini, membuat memori kesedihan yang ingin dia hapus
kembali lagi merasuk ke seluruh jalur pikran Fitri. Ia mengenang kepergian sang
nenek yang mewarisi sikap telaten. Ia mengingat keberadaan Rani yang suka nakal
dan manja kepadanya. Ia juga mengingat bagaimana ibu dan bapaknya dulu selalu
memberinya semangat. Semua telah menjadi kenang.
Fitri tidak pernah
tahu, titik mutakhir bagaimana yang akan menjadi haknya sebagai perempuan yang
cukup dilanda jutaan derita. Kehilangan memang adalah pelajaran. Kadang
pelajaran tidak bisa dipelajari begitu saja dengan gamblang. Yang memberikan
akan terasa lurus-lurus saja, sangat berbeda dengan yang menerima, yang justru
menemui kesulitan.
“Kamu yang sabar
Fit. Hidup adalah sebuah pilihan. Sekuat apa engkau tidak memilih, tetaplah itu
sebuah pilihan Fit,” Sulis berusaha meneguhkan hati Fitri yang tinggal
berpuing.
“Aku seperti
menemukan banyak gelap di antara orang penikmat terang, Lis. Betapa kau tidak
tahu harapan mataku yang membeliak. Kau hidup pada benderang. Sedang aku,
selalu dikunci gelap pekat.”
“Engkau masih
menyisakan banyak dian yang belum dinyalakan. Kamu bukan terjerat oleh gelap,
tapi pikiranmu disibukkan dengan waktu. Sudah engkau tahu bukan, kalau waktu
adalah siklus paling misteri. Sampai urat leher manusia lantak, meneriakkan
ramalan akan datang, itu tetap sebuah ketidak mungkinan.”
“Kamu terlalu
pintar, Sulis. Semua yang tidak mungkin terjadi, dalam agama kita harus
diyakini segala kemungkinannya,” Fitri masih tetap kukuh, semua orang yang
berada di sampingnya akan hilang, termasuk Anam.
“Kemungkinan itu
bukan kamu yang memikirkan. Kamu adalah penyesal hari kemarin, penikmat hari
ini, dan pendaki hari esok,” sembari memeluk tubuh Fitri, Sulis terus berusaha
menjadi saudara yang akan membuat Fitri bahagia.
Fitri dan Lisa
duduk bersama di kursi taman depan rumah yang mereka tempati. Mata mereka
mengarah pada pandang yang sama—sekumpulan bunga di taman. Kupu-kupu
mengepakkan sayapnya, menghampiri satu dua bunga secara bergiliran. Hanya ada
satu bunga mawar biru yang sulit dihinggapi kupu-kupu. Ia ingin menikmati
rayunya. Merasakan udara dari kepak sayapnya yang paling syahdu. Tapi begitulah
bunga, suaranya selalu terasa diam. Tengadah tangkainya saja yang tetap tegak
mengarah langit. Hijau daun-daunnya menutupi sedih pada sela kuntum bunga.
Sulis terperanjat,
disusul Fitri. Ada mobil yang berhenti di depan rumah. Beberapa kali menyalakan
klaksonnya, memanggil penghuni rumah segera keluar. Sulis dan Fitri mempercepat
langkah menuju asal suara klakson. Sudah berdiri di sana, Anam dan kedua orangtuanya.
Anam menjemput Fitri. Ia menjemput gadis pujaannya bukan lagi sebagai seorang
pembantu di rumahnya. Keinginan orangtuanya sudah berubah. Fitri mau diangkat
sebagai anaknya sendiri. Dengan disambut wajah semringah, Fitri masih belum
mengerti. Hatinya memang terpikat dengan Anam, namun bukan lantas dia harus
serumah dengan Anam. Ia tetap tidak mau menerima tawaran orangtua Anam. Sulis
juga membantu memperkuat alasan Fitri yang tidak enak hati jika harus tinggal
serumah dengan orang yang bukan bagian dari saudara orangtuanya.
Bunga di taman
kembali asing bagi mata kupu-kupu. Sedih merambat dengan hadirnya senja. Bunga
tidak bisa terbang menyusul tempat lelap kupu-kupu. Mereka menikmati malam
dalam ruang dan waktu yang berbeda. Sekian!

Cie ciee haha
BalasHapus