Waktu
tetap mengalir hingga sejuk dan rindang dengan tumbuhan kasih. Angin membelai
mesrah tubuh kami saat menyita waktu sekitar tiga pulih menit di atas hamparan
pasir putih pantai Lombang. Ditemani earphone pada telinga kami berdua. Saat
itu lantunan lagu Ketika Cinta Bertasbih serasa begitu sangat menggemma
ditelinga. Perlahan gumpalan rambutnya menyentuh bahu ku, hendak merebahkan
kepalanya. Ku nikmati saja tanpa kata. Rambutnya pun mulai membelai-belai
sebagian wajah ku. Ini adalah saat terakhir aku menikmati kebersamaan dengan seseorang
yang sering ku katakan, dialah oksigen ku. Tuhan
kenapa detak jantung nya seakan tak merelakan kepergian ku? Gumam ku dalam
hati. Aku masih dengan kebisuan ku. Aku tidak tahu harus memulai nya dengan
kata apa untuk melubangi bendungan air mata nya? Sebab, pastilah nanti sunami
air mata akan menelan jantan ku sebagai sosok adam.
Setelah ribuan kata aku rajut
menjadi kalimat yang berterbangan di langit angan ku yang kelabu, aku pungkas
kan saja walau sangat berat sekali rasanya. ”Mer, kamu tahu tentang hatiku ?”
Hanya kata itu yang bisa aku lepas dari lidah ku yang sedari tadi terikat
kebisuan. “aku sudah tahu kau akan meninggalkan aku sayang.” Tiba-tiba saja air
mata nya pecah dan aku pun tak mampu untuk menyumbat dengan keadaan yang
terjadi sebenarnya. Hanya dengan kata maaf yang beribu-ribu, ya hanya itu saja
yang aku mampu. “Maafin aku Mer, aku sayang sama kamu. Perpisahan ini bukan
berarti cinta kita juga harus putus sampai disini.” Aku berusaha menjelaskan
tentang kepergian ku. Namun, tangis nya terus saja memecahkan hati ku menjadi
tak menentu. Tangis nya adalah bentuk rasa takut yang mendalam akan kepergian
ku.
Senja diantara kami semakin saja
mendekl at, seperti ingin merangkul tubuh ini dan menjauhkan dari Merry yang
masih sangat membutuhkan diriku. Aku memang terpaksa memutuskan kuliah ke luar
kota, ini semua juga karena orang tua Merry yang tidak mau menerima ku. Dia
tidak menyetujuhi hubungan yang kami renda selama satu tahun, padahal cinta ku
pada Merry sangat tulus sekali, begitu juga sebaliknya.
***
Pekik malam dengan kerinduan hati
yang tajam ku selipkan diantara bintang-bintang. Aku menikmati sisa detik ini
dengan kegundahan jiwa. Aku menyibak kutub utara menjadi danau keringat dan air
mata. Aku menghentikan sepoi angin menjadi kaku. Malam ini aku ingin menuliskan
surat kecil untuk kekasih ku. Walau sebenar nya aku sangat ragu jika harus
meminta janji pada Merry, agar tetap bisa bertahan dengan ku, lantaran keluarganya
yang tidak sudi jika puteri nya bersanding dengan ku. duh.. Ya Rabb. Malam ini
air mata tumpah diatas sajadah, menenggelamkan sujud para pecinta yang suka
memanfaatkan sepertiga malam. Aku melakukannya hanya demi jalan yang tulus, aku
tak ingin menodai pasir putih pantai Lombang yang menjadi saksi ketulusan
kasih.
Pendar wajah rembulan menyaksikan
jiwa pecinta yang mulai melemah, leleh laksana salju kutub selatan kedatangan
musim kemarau. Ya itulah hati ku, yang mudah sekali rapuh. Karena itu aku tak
mampu membunuh hati yang begitu syahdu. Dengan lara ku tempuh meski sebenar nya
masih sangat terjal sekali.
Fajar menyingsing dari ufuk timur, melukis
langit dengan tinta merah jingga. Mentari hendak memperlihatkan wajah nya,
namun kali ini ia tak tersenyum. Sepertinya ada kedukaan yang ia rasa dibalik
wajah nya. Nyamur juga begitu sangat lamban bergegas dari pucuk dedaunan pagi.
Mengisyaratkan ketidak relaannya melepas hari perpisahan ini. Mereka membuatku
terasingkan dari kelaki-lakianku, aku harus kembali menangis. Entah yang
keberapa ribu kalinya air kesucian ini tumpah dari kelopak mata ku. Ya Robb..
rangkul aku walau sekejab melepas duka ini, aku dilema bagai terbengkalai
ditengah samudera.
“Far udah mandi kamu cong1 ?” Suara itu tak asing ditelingaku, yaitu suara seorang yang sejak
kecil sering memberi motivasi tersendiri untuk diriku. Kata-katanya yang masih
selalu terniang dalam ruang dengar ku adalah Bekna lalake’ jhe’ kenek ate, lalake’ aroa emas pa’lekoran. Beliau
tak lain adalah seorang ayah yang selalu tetap setia menemani hidup ku sejauh
ini. Sebab dia adalah orang yang pertama aku kenal di dunia ini, Ibu yang
melahirkan aku meninggal saat melahirkan diriku. Jika seandainya aku dapat
meminta dan memilih dengan seluruh kesadaran yang aku miliki, mungkin aku lebih
setuju jika aku yang harus mati bukan Ibu. Tapi apalah daya, hidup adalah
sebuah pilihan. Tidak memilih pun itu adalah sebuah pilihan.
Setelah semua rampung, tibalah saatnya
aku untuk berangkat. Ya, hari ini aku harus menyeka kesedihan. Aku tak ingin
Ayah kecewa pada ku. aku yang memutuskan untuk kuliah ke luar Madura, dan tidak
mungkin aku membatalkan semua ini. Sedang semua kelengkapannya sudah Ayah urus
jauh hari sebelumnya. Ayah pun sangat senang dengan putusan aku itu untuk
mengejar ilmu. Ayah tidak ingin aku senasib dengan nya. Itu lah sifat Ayah ku
yang paling aku suka. Tapi, apalah daya aku hanya mausia biasa aku tidak bisa
mengingkari apa sebenarnya terbesit dalam hatik saat ini. Aku sangat takut
untuk kehilangan Merry pacarku.
***
Teruntuk:
Merry Ghantongan Ate
Dengan
segenap kerinduan yang sangat menggores kalbu ku. Ku tulis surat ini untuk mu
yang paling aku sayang dan aku cintai. Sayang, saat senja yang merah semerah
pipimu memenggal kebersamaan kita. Percaylah kasih bahwa hati ku, hati kita tak
akan pernah terpisahkan oleh papun itu. Ini hanyalah cara Tuhan untuk
membentang jarak diantara kita biar nantinya kita isa memupuk rinduh lebih
legam lagi. Dan bila kita berjumpa nanti nya bisa bersua dengan penuh kerinduan
yang suci milik kita berdua. Dan yang ingin aku tekan kan pada mu, kamu harus
bisa kerasan di Kalimantan ya? Aku tetap menyayangi kamu kok. Jadikan lah Pulau
Madura sebagai singgasana kita nantinya ketika sudah bisa bersama selamnya. Oh
iya, aku sengaja pas waktu berangkat tidak menyalaan Hp, karena aku tidak bisa
dan tidak mungkin kuat untuk menyambut kesedihanmu. Tapi, bukan aku juga mau
lari dari kenyataan. Makanya aku titip surat ini pada Zulvy biar kamu isa lebih
faham bagaiman aku. Ya, sudah kalau aku sudah sampai di Jogja aku pasti kabari
kamu. Tapi sampai aku bisa merasakan kenyamaan disini ya? Yaudah dulu Sayang,
jaga dirimu baik-baik.
Salam
taresna saomorra.
Semburat cahaya mentari tak lagi
hadir didalm mata ku, saat mulai teringat akan surat yang aku kirim pada
kekasih ku. Bus terus melajhu, perpisah diterminal tak sebegitu pedih dibanding
dengan kesedihan hati saat ingin meninggalkan orang yang dicintai. Cinta memang
buta, cinta merasuki akal sehat ku, hingga aku pun tak sadarkan diri akan apa
yang tengah aku rasa sebenarnya. Hati pun selalu bertanya-tanya, apa yang akan
terjadi nantinya? Mungkinkah ini bisa menjadi sebuah kisah cinta yng abadi.
Tidak hanya seperti kisah Qois dengan Laila atau Magdalena dengan Steven atau
kisah para pecinta terdahulu yang berakhir dengan kesedihan tanpa kebahagiaan.
Meski terkadang akal sehat ku menyadarkan ku tenang manusia hanya wajib
berusaha dan berdoa, selebihnya adalah tanggung jawab Tuhan akan memberikan apa
yang terbaik untuk kita.
Setelah enam belas jam berada dalam
perjalanan, akhir nya aku sampai juga di terminal di kota Yogyakarta. Lelah dan
semacamnya yang membuat badan ku lemas kini sudah mulai terasa. Ku lihat
lambaian tangan dari balik tubuh-tubuh orang di terminal yang lalu lalang
dengan padat nya. Seorang yang sedikit lebih mudah dari Ayah memanggilku dari
jarak yang tidak begitu jauh. Aku mulai teringat kalau itu adalah sepupu Ayah
yang pernah Ayah ceritakan. Mungkin dia disuruh untuk menjemput ku, tapi
mengapa Ayah tidak pernah bilang-bilang kalau aku nantinya akan diemput oleh
paman. Aku hanya bisa tersenyum renyah menikmati sesuatu yang sudah benar-benar
Ayah persiapkan untuk pendidikan ku. Ku hampiri saja orang itu, karena memang
sedari tadi dia selalu memanggil ku dengan lambaian tangannya. Dan setelah
akhir nya aku mendapati tubuh nya. Aku pun saling berpelukan dengan seorang
paman yang sedikit ku ingat wajahnya itu. Bagaimana mungkin aku bisa hafal
betul denga wajah nya, sedangkan aku tahu sama paman Ramli dulu waktu aku masih
kelas empat SD setelah itu ia tak lagi ku temui. Paman Ramli memang sangat
jarang ke Madura, kecuali memang ada kepentingan yang sangat penting yang
mewajibkan bagi dirinya untuk ke Madura baru ia pulang.
Dengung kendaraan yang lalu lalang di
jalanan sangat membuatku merasa ada yang berbeda. Ya aku merasa tidak nyaman
dengan kedaan seperti ini. Saat aku di desa bukan bunyi kenalpot kendaraan yang menjadi pendengaran setia untukku,
melainkan cericit burung siul-siul nya yang serasa menggemma sekali. Tapi
disini cericit atau siul burung tidak ada lagi, biru tumbuhan tidak ada
berganti menjadi warna-warni cat pada setiap tembok. Disini juga tak ku temui
pohon yang rindang atau menjulang, adanya adalah bangunan yang memanjang dan
gedung-gedung yang menjulang. Hah, ini
mungkin akan sangat tidak mengenakkan nantinya. Gumam ku dalam hati melihat
suasana lingkungan yang membuat ku tidak nyaman ini.
***
Malam pertama yang aku rasakan di
kota Yogyakarta. Dibalik jendela angan ku ku Singkap horden kerinduan untuk memandangi wajah nya yang masih
lekap dipelupuk mata. Tas yang ku bawa hendak ku buka, tujuan ku adalah
menyalakan Hp yang sedari kemarin aku nonatifkan. Ada gemuruh tiba-tiba
menghujam dada yang membuat ku takut untuk membaca pesan-pesan Merry pada ku
nantinya. Namun kali ini aku harus tetap membukanya. Nada pesan saling
bertabrakan menandakan banyaknya pesan yang masuk. Setidaknya ada lima pesan
yang aku terima. Dari ke tiga-tiga nya adalah pesan dari Merry. Aku semakin
lemah untuk meredam gemuruh yang merobohkan tubuh kelaki-lakian ku. Ya, aku
memang tak kuasa dalam situasi seperti ini. Sebab aku terlalu kaku untuk
menafikkan rasa sayang ini. Ya Robb.
Bulan mengintip dari celah ruagan
terkecil dikamar yang ku tempati. Sayup sayap kelelawar menyepoi-nyepoi
memberikan aku semangat agar mampu untuk membuka pesan singkat itu. Ku buca
satu pesan yang membuat ku terkesan.
Kamu
pergi tapi ku harap cinta mu tak ikut pergi. Cinta dan ketulusan hanya ada untuk
dirimu, sampai kapan tak akan pernah terganti. Meski ini sangat sulit, tapi aku
hormati ketulusanmu.
Terenyuh seluruh persendian di tubuh
ku. Aku tak kuasa lagi untuk menuntut jiwa ku biar diam, tak lagi menitikkan
air mata. Tidak mudah bagi ku ketika sudah membaca pesan dari Merry untuk aku
abaikan. Tapi aku tidak tahu harus membalas nya dengan kata apa?. Aku hanya
bisa bersedih, menahan sakit yang ku rasa kali ini, dan entah kapan akan
berlangsung. Ini sangat sulit buat ku lepas begitu saja. Akhirnya, meski sangat
sulit untuk ku lakukan, jemari ku mulai menari-menari di atas tombol Hp-ku, tak
lain adalh untuk mrmbalas pesan singkat pada Merry.
Pekik kerinduan malam akan wajah
seorang wanita yang sangat aku sayangi, membuat ku benar-benar tidak bisa
kerasan dalam situasi seperti ini. Malam ku tak mengenal lelah untuk sedikit
meng-katupkan kelopak mata ku. Hanya resah dan gelisah yang meyelimuti jiwa ku.
Terlalu bodoh aku tidak bisa memecah kan persoalan ini. Aku benar-benar
terpasung saat ini, seluruh keutuhan hati yang pernah aku katakan pada Ayah,
rasanya sudah menjadi kata yang palsu. Tapi, aku adalah anak satu-satu nya. Aku
harus membahagiakan beliau. Aku tak mungkin merelakan air mata kesedihan tumpah
dari pelupuk Soca-Nya.
Pagi dengan dengung kendaraan mulai
mambangunkan ku. Aku hanya sedikiy mengernyitkan alis. Ternyata aku sudah satu
hari ada disini. Aku sangat berharap ketika aku terbangun aku sudah bisa
kembali ke Madura. Tapi ternyata aku masih di Jogja. Ini yang membuat ku
semakin tidak menyenangkan. Aku yang biasa menikmati suasana pagi dengan
mencicipi sisa nyamur di daun-dau pisang, disini aku tak menemukannya. Burung
ku tilang yang sangat ramai berkicau, disini aku tak menemukanya. Suasana yang
sangat menjenuhkan pastinya. Aku ingin menyampaikan ini pada Ayah. Tapi entah
bagaimana aku bisa, sedangkan ini adalah sesuatu yang membuat Ayah senang, dan
bahkan senyum terindah nya yang ku temui hanya pada saat aku emutuskan utuk
kuliah ke Yogyakarta. Sebuah kota yang masih dengan kesultanannya, dan sering
kali disebut dengan istilah kota pendidikan. Dengan saking banyaknya perguruan
tinggi disini.
Ku buka pintu yang masih kaku untuk
memperlihatkan orang bersembunyi di balik pintu, yaitu aku. Setelah semakin
lebar aku buka pintu amar ku, ku dapati seorang wanita. Dia se usia ku. Membawa
talam8 yang berisikan
secangkir teh dan nasi di atas piring. Aku hanya diam, rasanya seluruh saluran
darah terhenti seketika. Aku hanya kaget, dengan glamor nya wanita itu. Seperti
di film-film, dia memakai celana pendek di atas lutut yang sangat ketat sekali.
Dan hanya memakai kaos yang juga sangat ketat sekali. Aku terperangah. Sebab di
desa seperti ini ada. Setelah selesai ku terima talam yang berisikan kopi dan makanan itu, aku langsung kembali
menutup pintu. Benakku mulai bertanya, apakah dia adalah Rina? Tapi aku tidak
mengenali wajah nya kaya seperti dulu waktu dia masih belia. Terus kalau bukan
Rina, lalu siapa?. Sangat tidak mungkin Paman punya seorang pembantu yang mudah
seperti itu. Setelah sesaat bercengkerama dengan halusinasi wanita di depan
pintu, aku meluruskan hati bahwa dia adalah Rina anak Paman.
Waktu berjalan dengan lambannya.
Membuat ku sedikit runyam untuk menghadapi masalah lingkungan yang semakin
tidak membuat ku nyaman. Aku sungguh lebih senang berada di desa. Terlepas dari
lingkungan, aku juga sudah lama sekali tida mendengar kabar dari Merry. Sms ku
bahkan tidak pernah dibalas, bahkan telfon ku juga tidak pernah diangkat. Entah
karena apa, atau dia sudah melupakan ku. Satu bulan aku ada disini, membuat ku
belajar mandiri. Rina yang selalu setia menemaniku, sering kali memberikan
kata-kata motivasi pada ku, biar aku bisa lebih bertahan disini. Aku merasa
sedikit nyaman dengan cara berdampingan disampingnya. Aku tidak bisa hidup
dengan kesepian, meski aku punya cinta yang jauh. Tapi aku adalah laki-laki
yang takut pada sepi. Aku tetap butuhseorang penghibur yang bisa ada dan bisa
membuat ku nyaman.
Aku pun mulai berani menamai nya sebuah
kehidupan yang baru, dimana aku belajar beradaptasi dengan lingkungan seperti
pelajaran yang selalu Rina berikan dalam kehidupan ku setiap hari nya. Tuhan, aku adalah laki-laki yang takut pada
sepi. Bukan maksud hamba mengkhianati cinta yang sudah hamba tanam. Tapi,
setiap yang membuat hamba nyaman. Hamba telah berani meyakini bahwa itu juga
adalah cinta yang suci dar-Mu Tuhan. Sekian..!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.