Senin, 15 Desember 2014

LAKI-LAKI YANG TAKUT PADA SEPI



Waktu tetap mengalir hingga sejuk dan rindang dengan tumbuhan kasih. Angin membelai mesrah tubuh kami saat menyita waktu sekitar tiga pulih menit di atas hamparan pasir putih pantai Lombang. Ditemani  earphone pada telinga kami berdua. Saat itu lantunan lagu Ketika Cinta Bertasbih serasa begitu sangat menggemma ditelinga. Perlahan gumpalan rambutnya menyentuh bahu ku, hendak merebahkan kepalanya. Ku nikmati saja tanpa kata. Rambutnya pun mulai membelai-belai sebagian wajah ku. Ini adalah saat terakhir aku menikmati kebersamaan dengan seseorang yang sering ku katakan, dialah oksigen ku. Tuhan kenapa detak jantung nya seakan tak merelakan kepergian ku? Gumam ku dalam hati. Aku masih dengan kebisuan ku. Aku tidak tahu harus memulai nya dengan kata apa untuk melubangi bendungan air mata nya? Sebab, pastilah nanti sunami air mata akan menelan jantan ku sebagai sosok adam.

            Setelah ribuan kata aku rajut menjadi kalimat yang berterbangan di langit angan ku yang kelabu, aku pungkas kan saja walau sangat berat sekali rasanya. ”Mer, kamu tahu tentang hatiku ?” Hanya kata itu yang bisa aku lepas dari lidah ku yang sedari tadi terikat kebisuan. “aku sudah tahu kau akan meninggalkan aku sayang.” Tiba-tiba saja air mata nya pecah dan aku pun tak mampu untuk menyumbat dengan keadaan yang terjadi sebenarnya. Hanya dengan kata maaf yang beribu-ribu, ya hanya itu saja yang aku mampu. “Maafin aku Mer, aku sayang sama kamu. Perpisahan ini bukan berarti cinta kita juga harus putus sampai disini.” Aku berusaha menjelaskan tentang kepergian ku. Namun, tangis nya terus saja memecahkan hati ku menjadi tak menentu. Tangis nya adalah bentuk rasa takut yang mendalam akan kepergian ku.

            Senja diantara kami semakin saja mendekl at, seperti ingin merangkul tubuh ini dan menjauhkan dari Merry yang masih sangat membutuhkan diriku. Aku memang terpaksa memutuskan kuliah ke luar kota, ini semua juga karena orang tua Merry yang tidak mau menerima ku. Dia tidak menyetujuhi hubungan yang kami renda selama satu tahun, padahal cinta ku pada Merry sangat tulus sekali, begitu juga sebaliknya.

***

            Pekik malam dengan kerinduan hati yang tajam ku selipkan diantara bintang-bintang. Aku menikmati sisa detik ini dengan kegundahan jiwa. Aku menyibak kutub utara menjadi danau keringat dan air mata. Aku menghentikan sepoi angin menjadi kaku. Malam ini aku ingin menuliskan surat kecil untuk kekasih ku. Walau sebenar nya aku sangat ragu jika harus meminta janji pada Merry, agar tetap bisa bertahan dengan ku, lantaran keluarganya yang tidak sudi jika puteri nya bersanding dengan ku. duh.. Ya Rabb. Malam ini air mata tumpah diatas sajadah, menenggelamkan sujud para pecinta yang suka memanfaatkan sepertiga malam. Aku melakukannya hanya demi jalan yang tulus, aku tak ingin menodai pasir putih pantai Lombang yang menjadi saksi ketulusan kasih.

            Pendar wajah rembulan menyaksikan jiwa pecinta yang mulai melemah, leleh laksana salju kutub selatan kedatangan musim kemarau. Ya itulah hati ku, yang mudah sekali rapuh. Karena itu aku tak mampu membunuh hati yang begitu syahdu. Dengan lara ku tempuh meski sebenar nya masih sangat terjal sekali.

            Fajar menyingsing dari ufuk timur, melukis langit dengan tinta merah jingga. Mentari hendak memperlihatkan wajah nya, namun kali ini ia tak tersenyum. Sepertinya ada kedukaan yang ia rasa dibalik wajah nya. Nyamur juga begitu sangat lamban bergegas dari pucuk dedaunan pagi. Mengisyaratkan ketidak relaannya melepas hari perpisahan ini. Mereka membuatku terasingkan dari kelaki-lakianku, aku harus kembali menangis. Entah yang keberapa ribu kalinya air kesucian ini tumpah dari kelopak mata ku. Ya Robb.. rangkul aku walau sekejab melepas duka ini, aku dilema bagai terbengkalai ditengah samudera.

            “Far udah mandi kamu cong1 ?” Suara itu tak asing ditelingaku, yaitu suara seorang yang sejak kecil sering memberi motivasi tersendiri untuk diriku. Kata-katanya yang masih selalu terniang dalam ruang dengar ku adalah Bekna lalake’ jhe’ kenek ate, lalake’ aroa emas pa’lekoran. Beliau tak lain adalah seorang ayah yang selalu tetap setia menemani hidup ku sejauh ini. Sebab dia adalah orang yang pertama aku kenal di dunia ini, Ibu yang melahirkan aku meninggal saat melahirkan diriku. Jika seandainya aku dapat meminta dan memilih dengan seluruh kesadaran yang aku miliki, mungkin aku lebih setuju jika aku yang harus mati bukan Ibu. Tapi apalah daya, hidup adalah sebuah pilihan. Tidak memilih pun itu adalah sebuah pilihan.

            Setelah semua rampung, tibalah saatnya aku untuk berangkat. Ya, hari ini aku harus menyeka kesedihan. Aku tak ingin Ayah kecewa pada ku. aku yang memutuskan untuk kuliah ke luar Madura, dan tidak mungkin aku membatalkan semua ini. Sedang semua kelengkapannya sudah Ayah urus jauh hari sebelumnya. Ayah pun sangat senang dengan putusan aku itu untuk mengejar ilmu. Ayah tidak ingin aku senasib dengan nya. Itu lah sifat Ayah ku yang paling aku suka. Tapi, apalah daya aku hanya mausia biasa aku tidak bisa mengingkari apa sebenarnya terbesit dalam hatik saat ini. Aku sangat takut untuk kehilangan Merry pacarku.

***
            Teruntuk: Merry Ghantongan Ate
            Dengan segenap kerinduan yang sangat menggores kalbu ku. Ku tulis surat ini untuk mu yang paling aku sayang dan aku cintai. Sayang, saat senja yang merah semerah pipimu memenggal kebersamaan kita. Percaylah kasih bahwa hati ku, hati kita tak akan pernah terpisahkan oleh papun itu. Ini hanyalah cara Tuhan untuk membentang jarak diantara kita biar nantinya kita isa memupuk rinduh lebih legam lagi. Dan bila kita berjumpa nanti nya bisa bersua dengan penuh kerinduan yang suci milik kita berdua. Dan yang ingin aku tekan kan pada mu, kamu harus bisa kerasan di Kalimantan ya? Aku tetap menyayangi kamu kok. Jadikan lah Pulau Madura sebagai singgasana kita nantinya ketika sudah bisa bersama selamnya. Oh iya, aku sengaja pas waktu berangkat tidak menyalaan Hp, karena aku tidak bisa dan tidak mungkin kuat untuk menyambut kesedihanmu. Tapi, bukan aku juga mau lari dari kenyataan. Makanya aku titip surat ini pada Zulvy biar kamu isa lebih faham bagaiman aku. Ya, sudah kalau aku sudah sampai di Jogja aku pasti kabari kamu. Tapi sampai aku bisa merasakan kenyamaan disini ya? Yaudah dulu Sayang, jaga dirimu baik-baik.
            Salam taresna saomorra.
           
            Semburat cahaya mentari tak lagi hadir didalm mata ku, saat mulai teringat akan surat yang aku kirim pada kekasih ku. Bus terus melajhu, perpisah diterminal tak sebegitu pedih dibanding dengan kesedihan hati saat ingin meninggalkan orang yang dicintai. Cinta memang buta, cinta merasuki akal sehat ku, hingga aku pun tak sadarkan diri akan apa yang tengah aku rasa sebenarnya. Hati pun selalu bertanya-tanya, apa yang akan terjadi nantinya? Mungkinkah ini bisa menjadi sebuah kisah cinta yng abadi. Tidak hanya seperti kisah Qois dengan Laila atau Magdalena dengan Steven atau kisah para pecinta terdahulu yang berakhir dengan kesedihan tanpa kebahagiaan. Meski terkadang akal sehat ku menyadarkan ku tenang manusia hanya wajib berusaha dan berdoa, selebihnya adalah tanggung jawab Tuhan akan memberikan apa yang terbaik untuk kita.

            Setelah enam belas jam berada dalam perjalanan, akhir nya aku sampai juga di terminal di kota Yogyakarta. Lelah dan semacamnya yang membuat badan ku lemas kini sudah mulai terasa. Ku lihat lambaian tangan dari balik tubuh-tubuh orang di terminal yang lalu lalang dengan padat nya. Seorang yang sedikit lebih mudah dari Ayah memanggilku dari jarak yang tidak begitu jauh. Aku mulai teringat kalau itu adalah sepupu Ayah yang pernah Ayah ceritakan. Mungkin dia disuruh untuk menjemput ku, tapi mengapa Ayah tidak pernah bilang-bilang kalau aku nantinya akan diemput oleh paman. Aku hanya bisa tersenyum renyah menikmati sesuatu yang sudah benar-benar Ayah persiapkan untuk pendidikan ku. Ku hampiri saja orang itu, karena memang sedari tadi dia selalu memanggil ku dengan lambaian tangannya. Dan setelah akhir nya aku mendapati tubuh nya. Aku pun saling berpelukan dengan seorang paman yang sedikit ku ingat wajahnya itu. Bagaimana mungkin aku bisa hafal betul denga wajah nya, sedangkan aku tahu sama paman Ramli dulu waktu aku masih kelas empat SD setelah itu ia tak lagi ku temui. Paman Ramli memang sangat jarang ke Madura, kecuali memang ada kepentingan yang sangat penting yang mewajibkan bagi dirinya untuk ke Madura baru ia pulang.

             Dengung kendaraan yang lalu lalang di jalanan sangat membuatku merasa ada yang berbeda. Ya aku merasa tidak nyaman dengan kedaan seperti ini. Saat aku di desa bukan bunyi kenalpot kendaraan yang menjadi pendengaran setia untukku, melainkan cericit burung siul-siul nya yang serasa menggemma sekali. Tapi disini cericit atau siul burung tidak ada lagi, biru tumbuhan tidak ada berganti menjadi warna-warni cat pada setiap tembok. Disini juga tak ku temui pohon yang rindang atau menjulang, adanya adalah bangunan yang memanjang dan gedung-gedung yang menjulang. Hah, ini mungkin akan sangat tidak mengenakkan nantinya. Gumam ku dalam hati melihat suasana lingkungan yang membuat ku tidak nyaman ini.

***

            Malam pertama yang aku rasakan di kota Yogyakarta. Dibalik jendela angan ku ku Singkap horden kerinduan untuk memandangi wajah nya yang masih lekap dipelupuk mata. Tas yang ku bawa hendak ku buka, tujuan ku adalah menyalakan Hp yang sedari kemarin aku nonatifkan. Ada gemuruh tiba-tiba menghujam dada yang membuat ku takut untuk membaca pesan-pesan Merry pada ku nantinya. Namun kali ini aku harus tetap membukanya. Nada pesan saling bertabrakan menandakan banyaknya pesan yang masuk. Setidaknya ada lima pesan yang aku terima. Dari ke tiga-tiga nya adalah pesan dari Merry. Aku semakin lemah untuk meredam gemuruh yang merobohkan tubuh kelaki-lakian ku. Ya, aku memang tak kuasa dalam situasi seperti ini. Sebab aku terlalu kaku untuk menafikkan rasa sayang ini. Ya Robb.

            Bulan mengintip dari celah ruagan terkecil dikamar yang ku tempati. Sayup sayap kelelawar menyepoi-nyepoi memberikan aku semangat agar mampu untuk membuka pesan singkat itu. Ku buca satu pesan yang membuat ku terkesan.

            Kamu pergi tapi ku harap cinta mu tak ikut pergi. Cinta dan ketulusan hanya ada untuk dirimu, sampai kapan tak akan pernah terganti. Meski ini sangat sulit, tapi aku hormati ketulusanmu.

            Terenyuh seluruh persendian di tubuh ku. Aku tak kuasa lagi untuk menuntut jiwa ku biar diam, tak lagi menitikkan air mata. Tidak mudah bagi ku ketika sudah membaca pesan dari Merry untuk aku abaikan. Tapi aku tidak tahu harus membalas nya dengan kata apa?. Aku hanya bisa bersedih, menahan sakit yang ku rasa kali ini, dan entah kapan akan berlangsung. Ini sangat sulit buat ku lepas begitu saja. Akhirnya, meski sangat sulit untuk ku lakukan, jemari ku mulai menari-menari di atas tombol Hp-ku, tak lain adalh untuk mrmbalas pesan singkat pada Merry.

            Pekik kerinduan malam akan wajah seorang wanita yang sangat aku sayangi, membuat ku benar-benar tidak bisa kerasan dalam situasi seperti ini. Malam ku tak mengenal lelah untuk sedikit meng-katupkan kelopak mata ku. Hanya resah dan gelisah yang meyelimuti jiwa ku. Terlalu bodoh aku tidak bisa memecah kan persoalan ini. Aku benar-benar terpasung saat ini, seluruh keutuhan hati yang pernah aku katakan pada Ayah, rasanya sudah menjadi kata yang palsu. Tapi, aku adalah anak satu-satu nya. Aku harus membahagiakan beliau. Aku tak mungkin merelakan air mata kesedihan tumpah dari pelupuk Soca-Nya. 

            Pagi dengan dengung kendaraan mulai mambangunkan ku. Aku hanya sedikiy mengernyitkan alis. Ternyata aku sudah satu hari ada disini. Aku sangat berharap ketika aku terbangun aku sudah bisa kembali ke Madura. Tapi ternyata aku masih di Jogja. Ini yang membuat ku semakin tidak menyenangkan. Aku yang biasa menikmati suasana pagi dengan mencicipi sisa nyamur di daun-dau pisang, disini aku tak menemukannya. Burung ku tilang yang sangat ramai berkicau, disini aku tak menemukanya. Suasana yang sangat menjenuhkan pastinya. Aku ingin menyampaikan ini pada Ayah. Tapi entah bagaimana aku bisa, sedangkan ini adalah sesuatu yang membuat Ayah senang, dan bahkan senyum terindah nya yang ku temui hanya pada saat aku emutuskan utuk kuliah ke Yogyakarta. Sebuah kota yang masih dengan kesultanannya, dan sering kali disebut dengan istilah kota pendidikan. Dengan saking banyaknya perguruan tinggi disini.

            Ku buka pintu yang masih kaku untuk memperlihatkan orang bersembunyi di balik pintu, yaitu aku. Setelah semakin lebar aku buka pintu amar ku, ku dapati seorang wanita. Dia se usia ku. Membawa talam8 yang berisikan secangkir teh dan nasi di atas piring. Aku hanya diam, rasanya seluruh saluran darah terhenti seketika. Aku hanya kaget, dengan glamor nya wanita itu. Seperti di film-film, dia memakai celana pendek di atas lutut yang sangat ketat sekali. Dan hanya memakai kaos yang juga sangat ketat sekali. Aku terperangah. Sebab di desa seperti ini ada. Setelah selesai ku terima talam yang berisikan kopi dan makanan itu, aku langsung kembali menutup pintu. Benakku mulai bertanya, apakah dia adalah Rina? Tapi aku tidak mengenali wajah nya kaya seperti dulu waktu dia masih belia. Terus kalau bukan Rina, lalu siapa?. Sangat tidak mungkin Paman punya seorang pembantu yang mudah seperti itu. Setelah sesaat bercengkerama dengan halusinasi wanita di depan pintu, aku meluruskan hati bahwa dia adalah Rina anak Paman. 

            Waktu berjalan dengan lambannya. Membuat ku sedikit runyam untuk menghadapi masalah lingkungan yang semakin tidak membuat ku nyaman. Aku sungguh lebih senang berada di desa. Terlepas dari lingkungan, aku juga sudah lama sekali tida mendengar kabar dari Merry. Sms ku bahkan tidak pernah dibalas, bahkan telfon ku juga tidak pernah diangkat. Entah karena apa, atau dia sudah melupakan ku. Satu bulan aku ada disini, membuat ku belajar mandiri. Rina yang selalu setia menemaniku, sering kali memberikan kata-kata motivasi pada ku, biar aku bisa lebih bertahan disini. Aku merasa sedikit nyaman dengan cara berdampingan disampingnya. Aku tidak bisa hidup dengan kesepian, meski aku punya cinta yang jauh. Tapi aku adalah laki-laki yang takut pada sepi. Aku tetap butuhseorang penghibur yang bisa ada dan bisa membuat ku nyaman.

            Aku pun mulai berani menamai nya sebuah kehidupan yang baru, dimana aku belajar beradaptasi dengan lingkungan seperti pelajaran yang selalu Rina berikan dalam kehidupan ku setiap hari nya. Tuhan, aku adalah laki-laki yang takut pada sepi. Bukan maksud hamba mengkhianati cinta yang sudah hamba tanam. Tapi, setiap yang membuat hamba nyaman. Hamba telah berani meyakini bahwa itu juga adalah cinta yang suci dar-Mu Tuhan. Sekian..!         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.