Senin, 15 Desember 2014

JEJAK MANUSIA JALANG MENCARI IBUNDA (1)



Semburat cahaya mentari perlahan mengiris sepih menjadi perih yang tak jua ranum di pucuk dedaun pagi. Kutilang perlahan beranjak mengecup sisa embun yang syahdu, bersiul ria terbang kesana kemari yang sesekali menempatkan cakarnya pada setangkai ranting yang menua dan kekeringan. Sepertinya sudah cukup percaya dengn kedua sayapnya yang akan menyelamatkan dia tat kala ranting akan patah, atau dia akan terjatuh. Namun keyakinan membuatnya lebih dari seekor burung biasa, dia merasa seperti malaikat diantara kaumnya. Sangat berbeda dengan diriku yang masih tergelut dengan lara, dan cukup membuatku terpasung diantara liku hidup yang maknanya ku coba terjemah meski tertatih. Terbengkalai ditengah lautan yang entah kemana aku harus menggiring tubuh ini, ke darat dengan angin kenyataan, atau aku akan tenggelam dalam luka tanpa bahagia? Sungguh ini telah membuatku pusing tujuh langit. Kesejukan yang ku rindu dari kemarau kehidupan, dan walau setetes kasihmu yang aku tunggu dalam kegersangan ini, namun tetap saja aku sendiri dan sepih sekali. Telah berkian tahun aku ditemani cirita menyayat hati, ya..! Benar hanya cerita. Tapi, tak ada yang tahu kelemahan sebuah hati sebagai seorang anak yang mencari sandaran diri yang sejati, sebagai orang  yang melahirkan dan mengenalkan ku pada dunia. Ibu kamu dimana? Bapak kamu yang mana?. Aku terus berlari menelusuri terjal kehidupan tanpa kau pedulikan Ibu. Aku tak pernah berniat untuk menghentikan nafas ini Bapak, sebelum aku menemuimu meski itu hanya di ujung senja.

Waktu terus menyita detak nafas ku, hingga aku menjadi dewasa dan mulai kekar menerka tabir keras hidup ini. Oh, inikah dunia ku?. Kenapa tidak sama dengan hidup manusia lain yang ada dalam hari-hari ku, seperti teman-teman ku. Atau orang yang sering mengajakku untuk bermain kerumahnya. Mereka berteduh dengan kedamaian, bertedeuh dengan keindahan ruang, ada air yang men-sucikan tubuhnya tiap hari, ada orang yang siap menjadi tempatnya merengek, walau hanya sekedar meminta uang untuk melunasi nafsuh nya yang abu-abu itu. Lalu, kenapa rumah ku tak jauh berbeda dengan tempat tikus yang kusut, selalu dengan deru kendaraan yang membisingkan, bahkan air sungai dengan sampah menjadi tempatku menyuci tubuh setiap harinya, aku di bawah jembatan, kenapa mereka hidup dengan kemewahan? Dimana bapak ibu ku berada.? tangis menjadi banjir yang tak bermusim di lekuk wajah ini. Pun aku rentan bahkan tidak tahu bagaimana untuk menanggulanginya dengan senyum keindahan yang layak nya para pejabat, meskipun hidup nya terbaiatkan sebagai sosok maling, namun mereka tetap dengan senyumnya yang serasa syahdu sekali. Tuhan aku ingin bahagia.!!

“hey... Arman kamu kenapa diam saja hah??’’ suara yang sudah sangat familiar di ruang dengar ku. Seorang teman yang selalu menemani hari ku mencari sesuap nasi atau mencari pendongkrak lapar ku. Hamid, dia adalah teman yang senada denganku dari sudut cara kita hidup.
“hmm.. nggak ada apa-apa kok.’’ Balas ku dengan senyum yang remang ku tunjukkan di balik kesedihan ini.
“sudah lah Man, kau tak usah bersedih. Sampai kapan pun kita tetap seperti ini kok. Presiden tidak bakalan sok mengenali kita. Apa lagi mau memberikan kita tempat yang layak.’’ Sanggahnya begitu kritis. Memang Hamid adalah orang yang bisa mnerti tentang apa yang sedang aku rasa, meskipun aku sudah berbohong dengan senyuman ku.
“siaaah.. tumben kamu bicaranya kritis banget, sampai membawa kata Presiden lagi.’’ Aku pun berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar suasana menjadi lebih tenang dan tidak terlalu formal.
“loh.. kan beneran toh? Kita itu tetap aja akan menjadi anak jalanan. Aku berani taruhan. !” sanggahan Hamid memang agak tinggi sekali. Tapi aku biarkan saja dia berkecipung dengan perkataannya, karena buat aku itu juga merupakan sebuah kebenaran.
Aku memang hanya anak jalanan, yang tidak punya tempat tinggal seperti kalian para pejabat. Tapi aku juga bangsa mu Indonesia. Bahkan aku juga bisa melihat dan berfikir betapa banyak bangsa Asing yang itu bukan anak bumi pertiwi tapi kau asuh dengan hidup yang jelas. Tidak seperti diriku dan teman-teman ku yang lain? Apakah yang membedakan aku dengan manusia lain?”. Suara hati ku mulai terniang.
 Kerap sekali aku bergumam dalam hati, merenungi bangsa yang teriris krisis moral. Aku cukup berkhotbah dalam hati tak harus lebih dari itu, karena aku bukan terdiri dari kotak orang tertinggi di Negara ini. Aku hanyalah bangsa jalang tak bernilai seperti rupiah. Tapi aku juga bukan bangsa murahan yang hanya bisa ditukar dengan rupiah atau dibarter dengan harga diri. Aku adalah aku yang asli dengan bangsaku yang arif. Bukan seperti kalian yang hanya bisanya mengubris sesuatu tak berbasis apa-apa. Sangat penuh dengan ke konyolan.

Terik panas matahari masih setia membakar tubuh ku, tubuh anak-anak itu yang senasib dengan ku, yang menjadi seorang pengemis di lampu merah, meminta uang atau apalah yang bisa menghidupkan ku. Memang sangat tidak jauh berbeda dengan kehidupan burung, terbang sejak pagi hari untuk mencari makan, kembali pada saat senja memisahkan antara siang dan malam. Tanpa harus memperdulikan adanya makanan atau dia harus kelaparan sampai senja tiba. Tapi inilah hal yang perlu aku refleksi, aku bukan para koruptor yang hidupnya berkecukupan dengan keharamannya. Tapi senyumnya sangat mengindah dari dirinya, aku pun semakin miris melihatnya.

Malam mulai hadir dengan gemintang nya yang pendar diwajah nya, begitu setianya rembulan dan bintang menemani malam dalam keadaan apapun. Layaknya seorang ibu dan bapak yang tetap setia menemani sang anak. Tapi aku masih tidak tahu rasa kasih putih itu, aku tidak mengenal siapa orang tua ku. Adanya yang ku ingat hanyalah teman dan teman yang menghidupi ku, mengajari ku tentang bagaimana bertahan hidup. Tuhan dimana mereka orang tua ku?. Kembali hati ku merengek, tak ubah nya seorang anak kecil yang yang tengah kesabanan. Tapi, inilah hidup. Mau tidak mau kita dipaksa untuk memilih pilihan nya, karna hidup adalah sebuah pilihan, dan aku harus mensyukurinya meski dengan lara hati. Malam demi malam telah aku nikmati dengan ribuan derai air mata, entah ini adalah kesekian malam yang aku banjiri dengan air kerinduan terhadap orang tua ku, yang tidak tahu ada dimana.? Meski terkadang aku berfikir dalam malam ku, mungkinkah aku ini terlahir dari bongkahan batu.? Tanpa harus ada orang yang melahirkan ku. Gumam ku dalam hati.
Siul burung kutilang memanjakan pagi dengan nada nya yang syahdu,embun jua terhanyut didalam nya, bak harmoni di pesta para raja. Namun tidak sama sekali dengan jiwa ku, seluruh akal sehat ku kini telah benar-benar remuk berpuing-puing. Menerkah hidup yang sekeras pareghi hingga kini aku harus berusaha memcahkan pertanyaan yang kerap sekali menjadi hantu bisu menakutkan dalam hidup ku. Hari ini aku harus mencari dimana orang tua ku, aku harus bertanya pada teman seperjuangan ku yang paling tua disini. Sebab waktu kini benar memaksa ku dengan tuntutan nya yang sangat pekik sekali di ruang dengar ku. Aku selalu terniang dengan kalimat siapa orang tua mu? Dimana orang tua mu?.

“kak Asep,!!!” panggil kudari atas jembatan. Nampak di bawah jembatan kak Aseb sedang mengotak-atik sampah, mungkin sedang mencari sisa nasi atau makanan yang bisa mengenyangkannya.
“oh.. iya Man. Ada pa ??” sambil melihat ke arah ku, dan aurah wajah nya nampak sekali terlihat bahwa ia sedang kelaparan.
“bisa ikut ketempat saya tidak? Disana seperti nya ada makanan.” Aku mencoba menawarkan makanan pada kak Aseb. Dia adalah orang yang pertama kali aku kenal dan mungkin saja dia tau kenapa aku bisa ada pada mereka, dan aku bisa ada disini.
“tumben saja kau ini menawarkan makanan pada abang mu yang memang masih belum makan sejak kemarin.” Bang Aseb sangat khas dengan logat sunda nya.
“sudah lah, ayo ikut saja.” Aku pun langsung memaksanya tanpa basa-basi.
Aku pun berjalan dengan kak Aseb, menelusuri trotoar yang tidak begitu berkilo meter itu. Sebab jarak antara tempat ku dengan tempat kak Aseb memang tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan aku tidak banyak yang dibicarakan tentang apa yang sebenar nya ingin aku tanyakan. Karena aku ingin kak Aseb menceritakan  nya nanti setelah dia mulai tenang. Dan seperti nya kalau aku mengajaknya bicara saat ini, sangat kurang tepat. Ia masih kelihatan dengan raut kelaparan nya. Setibanya digubuk tempat ku bernaung hidup, tampak terlihat orang yang sedari tadi wajah nya layu, kini sudah mulai cerah kembali. Bagaikan langit yang baru saja melepas mendungnya. Sangat berselang beberapa menit setelah kami tiba di gubuk kecil tempat ku berteduh, dan rasanya kak Aseb pun nampak mulai tenang kembali. Aku langsung saja memecah keheningan yang juga ku buat sendiri selama beberapa detik itu. Memang niat ku adalah untuk menanyakan kenapa aku ada disini, dan dimana orang yang melahirkan ku. Atau aku berasal dari daerah mana. Sangat tidak mungkin aku jatuh dari langit. Dan akhir  nya aku menemukan sesuatu yang baru lagi dibalik wajah seseorang yang ku anggap sebagai orang tua ku secara diam-diam itu. Namun kali ini bukan karena ia kelaparan. Ada setitik keraguan yang seperti nya sangat sulit untuk dia lepas dari tenggorokan nya. Atau dia seperti terlilit jaring laba-laba di sebagian wajah nya, sehingga dia sangat begitu kesulitan untuk melepaskan. Aku pun mencoba meyakini orang yang tengah kegugupan itu. Aku mencoba menarik kembali kejantanan nya supaya aku lekas menemukan pintu dari pertanyaan-pertanyaan hati ku.
“aku tidak tahu siapa orang tua mu. Aku hanya menemukan mu di selokan dekat terminal itu. Saat itu aku juga masih agak kecil. Yang mengambil mu dari selokan adalah Bu Mira. Tapi beliau kini sudah ditahan di kantor polisi. Dia dituduh seorang pencopet. Padahal Bu Mira itu sangat baik. Nah, sejak itu pula aku mencoba mencarikan mu makan bersama teman-teman yang lain agar kamu bisa bertahan hidup.” Seperti ada air kesucian yang tergenang di kedua kelopak matanya. Ada kesedihan yang begitu mendalam dari seorang anak jalanan itu. Dan mulai saat ini alu mulai sadar bahwa aku adalah anak jalanan. Sama seperti mereka yang sudah setia menemani ku hingga aku dewasa seperti ini. Mulai sekarang aku mulai sadar bahwa kalian lah orang tua ku. Hatiku kembali berbisik perlahan mengiringi denyut nadi ku yang mulai terhenti. Sekarang aku mulai berfikir lagi kenapa aku dibuang? Tentu ini adalah pertanyaan tersulit untuk dijawab oleh nalar ku sendiri. Aku hanya bisa merenungi nasib yang kini menjadi selimut bagi ku. Apakah aku tidak layak menjadi mausia yang bisa mencicipi kasih sayang dari kedua orang tua ku. Aku sangat membutuh kan mereka.



Bu..
Aku mencari sosok mu yang membaja.
Dimana itu aku tak tahu,
Jejak nafas pun derap  jantung
Ku semai hanya tuk  pelukan mu
;entah kapan
Aku tak merasakan.

Samakah ibu, dengan sejuk embun pagi itu?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.