Semburat cahaya mentari perlahan mengiris
sepih menjadi perih yang tak jua ranum di pucuk dedaun pagi. Kutilang perlahan
beranjak mengecup sisa embun yang syahdu, bersiul ria terbang kesana kemari
yang sesekali menempatkan cakarnya pada setangkai ranting yang menua dan
kekeringan. Sepertinya sudah cukup percaya dengn kedua sayapnya yang akan
menyelamatkan dia tat kala ranting akan patah, atau dia akan terjatuh. Namun
keyakinan membuatnya lebih dari seekor burung biasa, dia merasa seperti
malaikat diantara kaumnya. Sangat berbeda dengan diriku yang masih tergelut
dengan lara, dan cukup membuatku terpasung diantara liku hidup yang maknanya ku
coba terjemah meski tertatih. Terbengkalai ditengah lautan yang entah kemana
aku harus menggiring tubuh ini, ke darat dengan angin kenyataan, atau aku akan
tenggelam dalam luka tanpa bahagia? Sungguh ini telah membuatku pusing tujuh
langit. Kesejukan yang ku rindu dari kemarau kehidupan, dan walau setetes
kasihmu yang aku tunggu dalam kegersangan ini, namun tetap saja aku sendiri dan
sepih sekali. Telah berkian tahun aku ditemani cirita menyayat hati, ya..! Benar
hanya cerita. Tapi, tak ada yang tahu kelemahan sebuah hati sebagai seorang anak
yang mencari sandaran diri yang sejati, sebagai orang yang melahirkan dan mengenalkan ku pada dunia.
Ibu kamu dimana? Bapak kamu yang mana?. Aku terus berlari menelusuri terjal
kehidupan tanpa kau pedulikan Ibu. Aku tak pernah berniat untuk menghentikan
nafas ini Bapak, sebelum aku menemuimu meski itu hanya di ujung senja.
Waktu terus menyita detak nafas ku,
hingga aku menjadi dewasa dan mulai kekar menerka tabir keras hidup ini. Oh,
inikah dunia ku?. Kenapa tidak sama dengan hidup manusia lain yang ada dalam
hari-hari ku, seperti teman-teman ku. Atau orang yang sering mengajakku untuk
bermain kerumahnya. Mereka berteduh dengan kedamaian, bertedeuh dengan
keindahan ruang, ada air yang men-sucikan tubuhnya tiap hari, ada orang yang
siap menjadi tempatnya merengek, walau hanya sekedar meminta uang untuk
melunasi nafsuh nya yang abu-abu itu. Lalu, kenapa rumah ku tak jauh berbeda
dengan tempat tikus yang kusut, selalu dengan deru kendaraan yang membisingkan,
bahkan air sungai dengan sampah menjadi tempatku menyuci tubuh setiap harinya,
aku di bawah jembatan, kenapa mereka hidup dengan kemewahan? Dimana bapak ibu
ku berada.? tangis menjadi banjir yang tak bermusim di lekuk wajah ini. Pun aku
rentan bahkan tidak tahu bagaimana untuk menanggulanginya dengan senyum
keindahan yang layak nya para pejabat, meskipun hidup nya terbaiatkan sebagai
sosok maling, namun mereka tetap dengan senyumnya yang serasa syahdu sekali.
Tuhan aku ingin bahagia.!!
“hey... Arman kamu kenapa diam saja
hah??’’ suara yang sudah sangat familiar di ruang dengar ku. Seorang teman yang
selalu menemani hari ku mencari sesuap nasi atau mencari pendongkrak lapar ku.
Hamid, dia adalah teman yang senada denganku dari sudut cara kita hidup.
“hmm.. nggak ada apa-apa kok.’’ Balas ku
dengan senyum yang remang ku tunjukkan di balik kesedihan ini.
“sudah lah Man, kau tak usah bersedih.
Sampai kapan pun kita tetap seperti ini kok. Presiden tidak bakalan sok
mengenali kita. Apa lagi mau memberikan kita tempat yang layak.’’ Sanggahnya
begitu kritis. Memang Hamid adalah orang yang bisa mnerti tentang apa yang
sedang aku rasa, meskipun aku sudah berbohong dengan senyuman ku.
“siaaah.. tumben kamu bicaranya kritis
banget, sampai membawa kata Presiden lagi.’’ Aku pun berusaha untuk mengalihkan
pembicaraan agar suasana menjadi lebih tenang dan tidak terlalu formal.
“loh.. kan beneran toh? Kita itu tetap
aja akan menjadi anak jalanan. Aku berani taruhan. !” sanggahan Hamid memang
agak tinggi sekali. Tapi aku biarkan saja dia berkecipung dengan perkataannya,
karena buat aku itu juga merupakan sebuah kebenaran.
“Aku
memang hanya anak jalanan, yang tidak punya tempat tinggal seperti kalian para
pejabat. Tapi aku juga bangsa mu Indonesia. Bahkan aku juga bisa melihat dan
berfikir betapa banyak bangsa Asing yang itu bukan anak bumi pertiwi tapi kau
asuh dengan hidup yang jelas. Tidak seperti diriku dan teman-teman ku yang
lain? Apakah yang membedakan aku dengan manusia lain?”. Suara hati ku mulai
terniang.
Kerap sekali aku bergumam dalam hati, merenungi bangsa yang teriris krisis
moral. Aku cukup berkhotbah dalam hati tak harus lebih dari itu, karena aku
bukan terdiri dari kotak orang tertinggi di Negara ini. Aku hanyalah bangsa
jalang tak bernilai seperti rupiah. Tapi aku juga bukan bangsa murahan yang
hanya bisa ditukar dengan rupiah atau dibarter dengan harga diri. Aku adalah
aku yang asli dengan bangsaku yang arif. Bukan seperti kalian yang hanya
bisanya mengubris sesuatu tak berbasis apa-apa. Sangat penuh dengan ke
konyolan.
Terik panas matahari masih setia membakar
tubuh ku, tubuh anak-anak itu yang senasib dengan ku, yang menjadi seorang
pengemis di lampu merah, meminta uang atau apalah yang bisa menghidupkan ku.
Memang sangat tidak jauh berbeda dengan kehidupan burung, terbang sejak pagi
hari untuk mencari makan, kembali pada saat senja memisahkan antara siang dan
malam. Tanpa harus memperdulikan adanya makanan atau dia harus kelaparan sampai
senja tiba. Tapi inilah hal yang perlu aku refleksi, aku bukan para koruptor
yang hidupnya berkecukupan dengan keharamannya. Tapi senyumnya sangat mengindah
dari dirinya, aku pun semakin miris melihatnya.
Malam mulai hadir dengan gemintang nya
yang pendar diwajah nya, begitu setianya rembulan dan bintang menemani malam
dalam keadaan apapun. Layaknya seorang ibu dan bapak yang tetap setia menemani
sang anak. Tapi aku masih tidak tahu rasa kasih putih itu, aku tidak mengenal
siapa orang tua ku. Adanya yang ku ingat hanyalah teman dan teman yang
menghidupi ku, mengajari ku tentang bagaimana bertahan hidup. Tuhan dimana mereka orang tua ku?. Kembali
hati ku merengek, tak ubah nya seorang anak kecil yang yang tengah kesabanan. Tapi, inilah hidup. Mau tidak
mau kita dipaksa untuk memilih pilihan nya, karna hidup adalah sebuah pilihan,
dan aku harus mensyukurinya meski dengan lara hati. Malam demi malam telah aku
nikmati dengan ribuan derai air mata, entah ini adalah kesekian malam yang aku
banjiri dengan air kerinduan terhadap orang tua ku, yang tidak tahu ada
dimana.? Meski terkadang aku berfikir dalam malam ku, mungkinkah aku ini terlahir dari bongkahan batu.? Tanpa harus ada orang
yang melahirkan ku. Gumam ku dalam hati.
Siul burung kutilang memanjakan pagi
dengan nada nya yang syahdu,embun jua terhanyut didalam nya, bak harmoni di
pesta para raja. Namun tidak sama sekali dengan jiwa ku, seluruh akal sehat ku
kini telah benar-benar remuk berpuing-puing. Menerkah hidup yang sekeras pareghi hingga kini aku harus berusaha
memcahkan pertanyaan yang kerap sekali menjadi hantu bisu menakutkan dalam
hidup ku. Hari ini aku harus mencari dimana orang tua ku, aku harus bertanya
pada teman seperjuangan ku yang paling tua disini. Sebab waktu kini benar
memaksa ku dengan tuntutan nya yang sangat pekik sekali di ruang dengar ku. Aku
selalu terniang dengan kalimat siapa
orang tua mu? Dimana orang tua mu?.
“kak Asep,!!!” panggil kudari atas
jembatan. Nampak di bawah jembatan kak Aseb sedang mengotak-atik sampah,
mungkin sedang mencari sisa nasi atau makanan yang bisa mengenyangkannya.
“oh.. iya Man. Ada pa ??” sambil melihat
ke arah ku, dan aurah wajah nya nampak sekali terlihat bahwa ia sedang
kelaparan.
“bisa ikut ketempat saya tidak? Disana
seperti nya ada makanan.” Aku mencoba menawarkan makanan pada kak Aseb. Dia
adalah orang yang pertama kali aku kenal dan mungkin saja dia tau kenapa aku
bisa ada pada mereka, dan aku bisa ada disini.
“tumben saja kau ini menawarkan makanan
pada abang mu yang memang masih belum makan sejak kemarin.” Bang Aseb sangat
khas dengan logat sunda nya.
“sudah lah, ayo ikut saja.” Aku pun
langsung memaksanya tanpa basa-basi.
Aku pun berjalan dengan kak Aseb,
menelusuri trotoar yang tidak begitu berkilo meter itu. Sebab jarak antara
tempat ku dengan tempat kak Aseb memang tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan
aku tidak banyak yang dibicarakan tentang apa yang sebenar nya ingin aku
tanyakan. Karena aku ingin kak Aseb menceritakan nya nanti setelah dia mulai tenang. Dan
seperti nya kalau aku mengajaknya bicara saat ini, sangat kurang tepat. Ia masih
kelihatan dengan raut kelaparan nya. Setibanya digubuk tempat ku bernaung
hidup, tampak terlihat orang yang sedari tadi wajah nya layu, kini sudah mulai
cerah kembali. Bagaikan langit yang baru saja melepas mendungnya. Sangat
berselang beberapa menit setelah kami tiba di gubuk kecil tempat ku berteduh,
dan rasanya kak Aseb pun nampak mulai tenang kembali. Aku langsung saja memecah
keheningan yang juga ku buat sendiri selama beberapa detik itu. Memang niat ku
adalah untuk menanyakan kenapa aku ada disini, dan dimana orang yang melahirkan
ku. Atau aku berasal dari daerah mana. Sangat tidak mungkin aku jatuh dari
langit. Dan akhir nya aku menemukan
sesuatu yang baru lagi dibalik wajah seseorang yang ku anggap sebagai orang tua
ku secara diam-diam itu. Namun kali ini bukan karena ia kelaparan. Ada setitik
keraguan yang seperti nya sangat sulit untuk dia lepas dari tenggorokan nya.
Atau dia seperti terlilit jaring laba-laba di sebagian wajah nya, sehingga dia
sangat begitu kesulitan untuk melepaskan. Aku pun mencoba meyakini orang yang
tengah kegugupan itu. Aku mencoba menarik kembali kejantanan nya supaya aku
lekas menemukan pintu dari pertanyaan-pertanyaan hati ku.
“aku tidak tahu siapa orang tua mu. Aku
hanya menemukan mu di selokan dekat terminal itu. Saat itu aku juga masih agak
kecil. Yang mengambil mu dari selokan adalah Bu Mira. Tapi beliau kini sudah
ditahan di kantor polisi. Dia dituduh seorang pencopet. Padahal Bu Mira itu
sangat baik. Nah, sejak itu pula aku mencoba mencarikan mu makan bersama
teman-teman yang lain agar kamu bisa bertahan hidup.” Seperti ada air kesucian
yang tergenang di kedua kelopak matanya. Ada kesedihan yang begitu mendalam
dari seorang anak jalanan itu. Dan mulai saat ini alu mulai sadar bahwa aku
adalah anak jalanan. Sama seperti mereka yang sudah setia menemani ku hingga
aku dewasa seperti ini. Mulai sekarang
aku mulai sadar bahwa kalian lah orang tua ku. Hatiku kembali berbisik
perlahan mengiringi denyut nadi ku yang mulai terhenti. Sekarang aku mulai
berfikir lagi kenapa aku dibuang? Tentu ini adalah pertanyaan tersulit untuk
dijawab oleh nalar ku sendiri. Aku hanya bisa merenungi nasib yang kini menjadi
selimut bagi ku. Apakah aku tidak layak menjadi mausia yang bisa mencicipi
kasih sayang dari kedua orang tua ku. Aku sangat membutuh kan mereka.
Bu..
Aku
mencari sosok mu yang membaja.
Dimana
itu aku tak tahu,
Jejak
nafas pun derap jantung
Ku
semai hanya tuk pelukan mu
;entah
kapan
Aku
tak merasakan.
Samakah
ibu, dengan sejuk embun pagi itu?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.