Hampir tak terhitung keberapa tusukan matamu di hati ku.
sapa membisu keberanian, tak seruncing tatapan yang menetaskan rindu diam-diam.
dan sejak reruntuhan waktu dari ruang yang berbeda,
kedamaian tumbuh ketika kerilangannya ku jumpai disudut sunyi
ada belaian yang berbeda dalam dada lembut, adalah sutera
sedihnya "longsorkan tabun hati".
kaku malam menghunusku kesepian
pekiknya membisingkan rindu yang tak dia tahu dariku
tentang wajah dalam puisi berparas sendiri tak disadari.
sengaja aku selipkan, biar tercatat dalam gurindam para penyair yang terbirit memaknai siapa dirimu?
pun mimpi menjadi runcing beriring bergilir doa
biar Tuhan tak memarahi seketika lelah menepis senja.
Yogyakarta15
sapa membisu keberanian, tak seruncing tatapan yang menetaskan rindu diam-diam.
dan sejak reruntuhan waktu dari ruang yang berbeda,
kedamaian tumbuh ketika kerilangannya ku jumpai disudut sunyi
ada belaian yang berbeda dalam dada lembut, adalah sutera
sedihnya "longsorkan tabun hati".
kaku malam menghunusku kesepian
pekiknya membisingkan rindu yang tak dia tahu dariku
tentang wajah dalam puisi berparas sendiri tak disadari.
sengaja aku selipkan, biar tercatat dalam gurindam para penyair yang terbirit memaknai siapa dirimu?
pun mimpi menjadi runcing beriring bergilir doa
biar Tuhan tak memarahi seketika lelah menepis senja.
Yogyakarta15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.