Buceng rokok di samping
kayu berserakan, senar dan pria dengan jas hitam mengikat kering sebirunya.
Sementara langit linglung menetas bintang dari wanita telanjang. Kemudian
laki-laki dan buceng rokok kembali berserakan di bawah meja makan.
Neon diam menjaga puisi
yang rindu penyairnya turut memintal pada putar roda doa. Akankah lima
anak kecil itu turut masuk jalan-jalan
dalam lubang sedotan teh minggu lalu? Jawaban ada pada rumput warna hijau,
serta mereka yang mengaku dirinya Tuhan, menawarkan rafiah penjerat leher atas
pohon. Duh, hati yang mimbah! Sepahit
itukah rumput menjawab tanya kayu yang mereka imajinasikan dalam puisi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.