Rabu, 21 Oktober 2015

KAYU DAN RUMPUT



Buceng rokok di samping kayu berserakan, senar dan pria dengan jas hitam mengikat kering sebirunya. Sementara langit linglung menetas bintang dari wanita telanjang. Kemudian laki-laki dan buceng rokok kembali berserakan di bawah meja makan.
Neon diam menjaga puisi yang rindu penyairnya turut memintal pada putar roda doa. Akankah lima anak  kecil itu turut masuk jalan-jalan dalam lubang sedotan teh minggu lalu? Jawaban ada pada rumput warna hijau, serta mereka yang mengaku dirinya Tuhan, menawarkan rafiah penjerat leher atas pohon. Duh, hati yang mimbah! Sepahit itukah rumput menjawab tanya kayu yang mereka imajinasikan dalam puisi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.