Rabu, 07 Oktober 2015

“AKU PERCAYA CINTA ADALAH AIR MATA”



“Seorang wanita yang terlahir dengan ketegaran. Beberapa kali hidupnya dirundung pengkhianatan cinta seorang kekasih. Kepedihan-kepedihan lain tersirat dalam kehidupannya. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya menangis. Sampai dia divonis terjangkit penyakit oleh sekawanannya karena tidak pernah menangis. Adalah Titin, seorang tokoh fiktif yang hadir menjadi racikan alur crita ini. Seorang puteri desa yang baru mengenal kekuatan cinta pada saat dia jatuh ke dalam hubungan suami isteri.”
;
            Perpisahan adalah lawan kalimat pertemuan, seperti gambaran hidup yang baru benar-benar aku rasakan dewasa ini. Setiap orang lahir tanpa disengaja, lalu ia akan mati yang tidak sesuai keinginan nuraninya. Akan banyak kesedihan yang digeluti ketika harus melepas pandangan-pandangan hangat dengan alam sekitar, bahkan dengan orang-orang tersayang. Di sini aku memang belum merasakan mati. Karena aku tidak mau bercerita tentang kematian yang sering didakwahkan oleh tetuah agama di sekeliling ku. Tapi sebuah referesi yang hanya aku ibaratkan sebagai salah satu contoh perpisahan dalam kehidupan. Persoalan bersama dan berpisah cukup membuatku kebal dari sedih yang sampai final di air mata. Teman-teman sejawat sering berargumen, katanya kalau wanita itu mudah menangi, lemah dan segala macam. Tapi tidak bagiku.
            Emak selalu mengajari arti ketegaran dengan ilmu yang ia dapatkan selama hidup. Itu ilmu pengalaman. Dulu, katanya Bapak selalu memotivasi aku dengan semangat-semangat bahasanya selagi aku masih berbentuk darah dalam perut Emak. Entah benar atau tidak, karena kemampuan mengingat hal itu tak mampu menjangkau sampai pada masa itu. Hanya saja kata Bapak waktu dilahirkan aku tidak pernah menangis. Namun lagi-lagi otakku tak mampu menjangkau untuk mengingat masa kelahiran itu. Pada saat aku duduk di bangku SMP. Emak bilang, kalau aku tidak pernah menangis. Sampai pada kebergian Bapak menghadap yang maha kuasa pun, aku tidak menangis. Bahkan tidak ada genangan air di kelopak mataku. Aku ingat kejaadian itu. Di mana orang yang sesak di rumah semua menampakkan kesedihan dengan pembuktian air matanya. Menangis. Tapi aku tidak sama sekali. Aku hanya merasa sedih dan ingin sekali menangis, tapi itu tidak bisa aku lakukan.
            Entah, persoalan tangis menangis aku belum pernah melakuannya. Teman sekawanan menganggap aku memiliki penyakit. Tapi saat aku tanya mengenai penyakitku, mereka tidak tahu menjawab penyakit apa istilahnya. Aku pernah ditunangkan dengan salah seorang pemuda desa oleh keluargaku. Aku bertunangan dengan Arif tidak berlangsung lama. Belum berujung sampai pernikahan, aku dan Arif sudah putus. Semua keluarga bersedih. Bahkan Emak juga ikut menangis karena Arif memutuskan menikah dengan wanita lain. Sementara aku heran-heran saja pada tangisan itu. Pada tangisan mereka. Aku tidak menangis bukan kerena tidak cinta. Malahan aku merasa sangat nyaman ketika berdua dengan mantan tunanganku itu. Hanya saja ini adalah persoalan aku yang belum tahu caranya untuk menangis.
            Ini adalah ribuan pagi yang ternikmati oleh ku sebagai seorang wanita. Saat ini aku sudah semester tiga di bangku kuliah. Aku bersyukur karena aku masih bisa melanjutkan kuliah tanpa harus menambah beban pikul pada Emak yang hanya tinggal seorang dalam keluarga. Masa kedewasaan mulai menuntut aku menjadi wanita yang normal. Puluhan kali aku berpacaran dan puluhan kali pula aku putus. Aku tidak menyesal. Aku tahu dari hal yang bersatu pasti terputus. Pelajaran itu seperti sudah menjadi spektrum kehidupan yang terhafal di otak.
***
            Bulan telah banyak menghabiskan tanggal menjadi masalalu. Sementara bulan sendiri terus bertrasformasi menjadi tahun-tahun yang baru. Banyak kenangan pahit dan manis yang aku cicipi selama menjadi seorang manusia ber‘status wanita’. Termasuk saat ini adalah tuntutan Emak yang menyuruhku untuk segera menikah.
            “Emak semakin hari bukan akan semakin segar Tin. Titin harus berkeluarga. Kamu harapan satu-satunya Emak sebagai keturunan keluarga nak.” Begitu lirih dan sarat wibawa suruhan Emak diuntukkan padaku.
            Kalimat Emak itu selalu terbayang berpamor mengibasi ingatan-ingatan ku sepanjang hari. Aku memang punya seorang kekasih saat ini. Dia adalah Ridwan anak bapak kepala desa di desa ku. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan S1 nya di Jogjakarta. Dan sekarang menjadi ketua organisasi Karag Taruna desa Serikat Pemuda Tamidung yang disingkat menjadi KT SERDADU. Sedang aku yang hanya kuliah di pesantren di Kota Sumenep, mau juga Ridwan mencintaiku. Satu tahun sejak Ridwan kembali dari kota Jogja, dia melihatku lamat-lamat di acara resminya organisasi yang dia pegang. Yang aku juga adalah termasuk dari anggota KT SERDADU sendiri. Dia tanpa ragu langsung mengatakan cinta kepada ku. Tepatnya  sih aku juga jatuh cinta pada pandangan pertama itu.
            Sebuah keajaiban atau bukan, aku hanya mensyukuri anugerah indah ini. Sejauh perjalanan hubunganku dengan Ridwan, aku merindukan kelahiran kalimat yang akan benar membuatku yakin bawha dia adalah cinta sejati bagiku. Tercipta sebagai wanita, aku hanya mampu menunggu. Semua kode keseriusan, termasuk kesederhanaan keluarga, Ridawan telah tahu. Aku bertelanjang dengan kehidupan yang tidak aku tutupi dengan penutup dusta. Hingga pada akhirnya Ridwan telanjang juga dengan keseriusannya padaku. Dia tidak tertutupi sehelai keraguan pun untuk bilang mau menikahi dengan aku. Segera aku menyampaikan kabar bahagia ini kepada Emak. Emak duduk takdzim di samping periuk yang berisi nasi jagung setengah masak tiba-tiba tercegang bahagia mendengar penyampaianku. Air matanya menetes. Benakku kembali bertanya-tanya perihal air mata itu yang tidak ku tahu rahasianya ‘bagaimana’. Emak memang mudah menangis. Mendengar kabar bahagia, mendengar kabar sedih, dia selalu mencucurkan air mata. Tapi kenapa tidak dengan ku?


***
            Usia pernikahanku dengan suami tercinta telah mencapai umur dua tahun. Aku tidak terfikirkan perasaan yang sebahagia itu akan aku rasakan. Perhatian suamiku memang cukup memuas ku. Sampai rasanya tiada sanggup lama-lama tanpa kabar dari dia. Kemanapun, dalam hal apapun aku selau bersamanya. Bahkan hampir semua sesuatu yang dikerjakan, seperti dilakukan berdua. Tidak ada beban berat dari langkah kehidupan yang terbangun dalam keluarga kecil ini. Dan ditambah lagi dengan hadirnya puteri pertama kita yang sangat aku sayangi, telah membuat aku semakin paham makna kebahagiaan. Dialah Ririn yang selalu dengan sikap isengnya mengisi lengang kehidupan keluarga. Tapi persoalan tangis, aku tetap belum bisa melakukannya. Bahkan pada saat melahirkan Ririn aku hanya menjerit sedikit menahan sakit. Tak sempat aku untuk menangis.
            Semenjak kehadiran anak pertama itulah, keluargaku kerap bermasalah. Bunga-bunga pertengkaran kerap membumbui sajian kehidupan keluarga. Aku dan Ridwan hampir setiap minggu bertengkar. Pernah sekali ia pergi dari rumah, beberapa hari dia tidur di rumah bapak mertua, karena suami tidak kuat lagi meredam sikapku yang selalu membuat hidupannya terusik. Namun pada saat ketiadaannya di rumah, aku merasa asing. Ririn yang selalu merengek ikut membuatku gelisah. Ada yang megganjal hati. Ada kosong dari ruang bahagia. Ya aku ternyata tidak bisa tanpa suami tercinta. Akhirnya aku jemput Ridwan ke rumah mertua. Aku ajak dia kembali. Aku dan suami kembali merajut kebersamaan yang sempat berai kocar-kacir.
            Musim kini berganti ke penghujan. Tidak jarang malam-malam hujan turun seperti hantu mengagetkan penduduk yang sedang terlelap tidur. Suara seng yang beradu dengan rintik hujan begitu nyaring sampai kebalik rumah tempat penghuni rumah istirahat. Aku dan suami sering terjaga pada saat hujan turun. Tidak bisa tidur sampai hujan redah. Itu semua karena bunyi atap rumah yang banyak terbuat dari seng berbunyi nyaring sat hujan turun. Tak dipungkiri, kebiasaan terbangun pada malam-malam dengan suami memang sering terjadi. Tapi yang ini beda. Dan dari keseringan itu aku mulai belajar betapa berharganya bahagia. Aku mulai mengerti besar kekuatan cinta yang mulai melahirkan rasa takut. Rasa takut untuk berpisah dengan keluarga, dengan Ririn, dengan Ridwan, suami yang telah banyak mengajarkan aku mahalnya kebersamaan.
            Kadang wajah ku mendadak pias ketika mengingat prisip dulu waktu muda. Sebuah pengetahuan yang coba aku pegang yaitu, spektrum hidup yang bersatu pasti akan terpisah. Itu hal yang kini menjadi menakutkan. Meski aku tahu rasa takut ini tidak akan merubah kepastian alam yang telah digariskan Tuhan dalam kehidupan mahluk-Nya. Sesekali aku tatapi wajah keluarga yang tampak hanyut dalam tidur pulasnya. Kebetulan hujan malam ini tidak berkunjung untuk kampungku. Wajah mereka membuat aku tersenyum perhatian. Tapi kenapa aku tidak menangis? Jiwaku kembali bersuara lirih.
            Sepagi buta suami telah siap membungkus celurit dalam karungnya yang nanti akan berisi penuh rumput-rumput hijau segar. Seperti itulah aktivitasnya setiap pagi dan sore hari, Ridwan mengambil rumput buat makan sapi-sapi. Sementara aktivitasku hanya menyirami bawang dan pohon cabe di sekitar rumah.
            “Aku berangkat dulu Mak..” Begitulah suami memanggilku, Emak. Seperti dia anakku saja. Maka aku juga memanggilnya Bapak. Aku tak menyoalnya mau memanggil apa, yang jelas harmonisasi dalam keluarga terus terjaga dan tersusun rapi tak roboh.
            “Iya Pak. Hati-hati sekarang musim hujan. Akan banyak binatang berkeliaran.” Aku mengingatinya agar lebih hati-hati saat memotong rumput. Karena pada saat musim hujan,  biasanya binatang sejenis ular, kala jengking, akan keluar dari lubangnya yang tergenang air. Tubuh suami hilang ditelan pepohonan yang besar-besar. Di desa ini, sejauh ini ekosistem alam masih terjaga dan tidak terjamah begitu keras oleh modernisasi. Meski aku dan suami adalah orang sarjana, tapi tetap saja tidak berhak untuk merubah tradisi desa demi menjaga ketertiban sosial. Orang di desa Tamidung masih belum banyak yang memiliki alat eletronika. Mereka yang memiliki sepeda motor, tivi, dan telpon, hanya beberapa orang saja. Di dalam keluargaku tidak ada tivi, tidak ada motor, tapi hanya HP jadul produk cina. Alam di sekitar masih biru dan kaya akan pepohonan yang juga dikelilingi beberapa sungai kecil dengan air jernih.
            ”Aduuuh…” Tiba-tiba jantungku berdegub kencang. Seperti ada sesuatu terjadi. Aku mulai berfikir sembari berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang buruk. Kepercayaan pada detak jantung yang tiba-tiba berubah kencang seperti telah menjadi simbol mistis tersendiri bagiku. Emak pernah berkata padaku tentang beberapa sesuatu yang akan terjadi pada seseorang dengan hadirnya tanda-tanda. Seperti mata yang gatal tiba-tiba, bersin-bersin, dan termasuk jantung yang tiba-tiba berdetak kencang, yang baru saja aku rasakan.
            Beberapa saat kemudian.
            “Tiiiiiiinn…. Tiiiinnn.. Ridwan Tin.” Terdengar suara meleking dari arah selatan rumah. Aku belum tahu pemilik suara itu, karena embun yang menutupi pagi masih tak beranjak tinggi pergi. Aku coba keluar rumah. Sementara Ririn masih tertidur pulas di atas dipan tua.
            “Kenapaaa Mar ? Kenapa dengan Ridwan hah ??” Aku mulai tahu siapa pemilik suara itu setelah aku mendekatinya. Dia adalah Marwati, tetangga sebelah yang belum bersuami meski usianya sudah cukup sepuh.
            “Dia tidur…eh… maksud aku pingsan dengan celurit dan karungnya yang baru berisi rumput seperempat Tin.” Marwati berusaha menjelaskan dengan sejelas mungkin sesuai penglihatannya sambil mengatur nafasnya yang tersengal. Sementara aku menjadi gelap. Aku menjadi tidak melihat panorama jalan menuju sawah yang biasa aku agungkan. Aku berlari sesuai kekuatan otot. Sawah tempat suamiku mencari rumput ternyata telah dipenuhi oleh warga desa. Para warga yang memenuhi sawah tempat suamiku berada terlihat seperti kerumunan orang yang sedang menonton karapan sapi. Aku membelah tubuh-tubuh penduduk yang tamapk rapi berdiri. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi dengan Ridwan suamiku.
            Aku melihatnya. Tapi aku tiba-tiba gelap.
            Ketika semua kembali terang. Aku mendengar ada puluhan isak seperti orang menangis di sekitar ku. Dan ada juga yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi aku belum paham apa yang terjadi. Aku mencoba mengingat dan bangkit dari pebaringan, ternyata di rumah orang telah penuh dengan pakaian muslim mereka. Kaki dengan langkah yang paya aku paksa mendekat dari dalam kamar menuju tempat instrument suara isak tangis itu berasal. Aku biasa saja. Mataku melihat kain putih di bagian kepalanya. Sementara bagian tubuhnya terselimuti oleh kain sampir liris keperak-perakan.
            “Aaaaaaaaaaaarrrrrrg………” Suaraku lepas. Orang-orang kaget balik kanan dan berdiri merangkul tubuhku. Ridwan telah meninggal. Ridwan telah benar-benar tiada karena gigitan ular berbisa. Emak mulai menasehatiku tanpa hirau. Air mataku mengalir membanjir di pipi. Aku terus menjerit menangis tidak percaya akan hadirnya perpisahan yang benar-benar memisahkan, seperti keyakinanku dulu. Dan  itulah pertama kali air mataku menetes. Pertama aku menangis karena cinta. Ya, cinta telah melemahkan kalbu. Sepanjang hari yang mengisi keheningan dalam sepih ditinggal suami,  adalah tangisku. Tidak ada yang mampu menjadi bendungan akan air mata. Aku paham bagaimana rasanya menangis tersebab kekuatan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.