“Seorang
wanita yang terlahir dengan ketegaran. Beberapa kali hidupnya dirundung
pengkhianatan cinta seorang kekasih. Kepedihan-kepedihan lain tersirat dalam
kehidupannya. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya menangis. Sampai dia divonis
terjangkit penyakit oleh sekawanannya karena tidak pernah menangis. Adalah
Titin, seorang tokoh fiktif yang hadir menjadi racikan alur crita ini. Seorang
puteri desa yang baru mengenal kekuatan cinta pada saat dia jatuh ke dalam
hubungan suami isteri.”
;
Perpisahan adalah lawan kalimat pertemuan, seperti
gambaran hidup yang baru benar-benar aku rasakan dewasa ini. Setiap orang lahir
tanpa disengaja, lalu ia akan mati yang tidak sesuai keinginan nuraninya. Akan
banyak kesedihan yang digeluti ketika harus melepas pandangan-pandangan hangat
dengan alam sekitar, bahkan dengan orang-orang tersayang. Di sini aku memang
belum merasakan mati. Karena aku tidak mau bercerita tentang kematian yang
sering didakwahkan oleh tetuah agama di sekeliling ku. Tapi sebuah referesi
yang hanya aku ibaratkan sebagai salah satu contoh perpisahan dalam kehidupan. Persoalan
bersama dan berpisah cukup membuatku kebal dari sedih yang sampai final di air
mata. Teman-teman sejawat sering berargumen, katanya kalau wanita itu mudah
menangi, lemah dan segala macam. Tapi tidak bagiku.
Emak selalu mengajari arti ketegaran dengan ilmu yang ia
dapatkan selama hidup. Itu ilmu pengalaman. Dulu, katanya Bapak selalu
memotivasi aku dengan semangat-semangat bahasanya selagi aku masih berbentuk
darah dalam perut Emak. Entah benar atau tidak, karena kemampuan mengingat hal
itu tak mampu menjangkau sampai pada masa itu. Hanya saja kata Bapak waktu
dilahirkan aku tidak pernah menangis. Namun lagi-lagi otakku tak mampu menjangkau
untuk mengingat masa kelahiran itu. Pada saat aku duduk di bangku SMP. Emak
bilang, kalau aku tidak pernah menangis. Sampai pada kebergian Bapak menghadap
yang maha kuasa pun, aku tidak menangis. Bahkan tidak ada genangan air di kelopak
mataku. Aku ingat kejaadian itu. Di mana orang yang sesak di rumah semua
menampakkan kesedihan dengan pembuktian air matanya. Menangis. Tapi aku tidak
sama sekali. Aku hanya merasa sedih dan ingin sekali menangis, tapi itu tidak
bisa aku lakukan.
Entah, persoalan tangis menangis aku belum pernah
melakuannya. Teman sekawanan menganggap aku memiliki penyakit. Tapi saat aku
tanya mengenai penyakitku, mereka tidak tahu menjawab penyakit apa istilahnya.
Aku pernah ditunangkan dengan salah seorang pemuda desa oleh keluargaku. Aku
bertunangan dengan Arif tidak berlangsung lama. Belum berujung sampai
pernikahan, aku dan Arif sudah putus. Semua keluarga bersedih. Bahkan Emak juga
ikut menangis karena Arif memutuskan menikah dengan wanita lain. Sementara aku
heran-heran saja pada tangisan itu. Pada tangisan mereka. Aku tidak menangis
bukan kerena tidak cinta. Malahan aku merasa sangat nyaman ketika berdua dengan
mantan tunanganku itu. Hanya saja ini adalah persoalan aku yang belum tahu
caranya untuk menangis.
Ini adalah ribuan pagi yang ternikmati oleh ku sebagai seorang
wanita. Saat ini aku sudah semester tiga di bangku kuliah. Aku bersyukur karena
aku masih bisa melanjutkan kuliah tanpa harus menambah beban pikul pada Emak
yang hanya tinggal seorang dalam keluarga. Masa kedewasaan mulai menuntut aku
menjadi wanita yang normal. Puluhan kali aku berpacaran dan puluhan kali pula
aku putus. Aku tidak menyesal. Aku tahu dari hal yang bersatu pasti terputus.
Pelajaran itu seperti sudah menjadi spektrum kehidupan yang terhafal di otak.
***
Bulan telah banyak menghabiskan tanggal menjadi masalalu.
Sementara bulan sendiri terus bertrasformasi menjadi tahun-tahun yang baru.
Banyak kenangan pahit dan manis yang aku cicipi selama menjadi seorang manusia
ber‘status wanita’. Termasuk saat ini adalah tuntutan Emak yang menyuruhku
untuk segera menikah.
“Emak semakin hari bukan akan semakin segar Tin. Titin
harus berkeluarga. Kamu harapan satu-satunya Emak sebagai keturunan keluarga
nak.” Begitu lirih dan sarat wibawa suruhan Emak diuntukkan padaku.
Kalimat Emak itu selalu terbayang berpamor mengibasi
ingatan-ingatan ku sepanjang hari. Aku memang punya seorang kekasih saat ini.
Dia adalah Ridwan anak bapak kepala desa di desa ku. Dia baru saja
menyelesaikan pendidikan S1 nya di Jogjakarta. Dan sekarang menjadi ketua
organisasi Karag Taruna desa Serikat Pemuda Tamidung yang disingkat menjadi KT
SERDADU. Sedang aku yang hanya kuliah di pesantren di Kota Sumenep, mau juga
Ridwan mencintaiku. Satu tahun sejak Ridwan kembali dari kota Jogja, dia
melihatku lamat-lamat di acara resminya organisasi yang dia pegang. Yang aku
juga adalah termasuk dari anggota KT SERDADU sendiri. Dia tanpa ragu langsung
mengatakan cinta kepada ku. Tepatnya sih aku juga jatuh cinta pada pandangan
pertama itu.
Sebuah keajaiban atau bukan, aku hanya mensyukuri
anugerah indah ini. Sejauh perjalanan hubunganku dengan Ridwan, aku merindukan
kelahiran kalimat yang akan benar membuatku yakin bawha dia adalah cinta sejati
bagiku. Tercipta sebagai wanita, aku hanya mampu menunggu. Semua kode
keseriusan, termasuk kesederhanaan keluarga, Ridawan telah tahu. Aku
bertelanjang dengan kehidupan yang tidak aku tutupi dengan penutup dusta.
Hingga pada akhirnya Ridwan telanjang juga dengan keseriusannya padaku. Dia
tidak tertutupi sehelai keraguan pun untuk bilang mau menikahi dengan aku. Segera
aku menyampaikan kabar bahagia ini kepada Emak. Emak duduk takdzim di samping
periuk yang berisi nasi jagung setengah masak tiba-tiba tercegang bahagia
mendengar penyampaianku. Air matanya menetes. Benakku kembali bertanya-tanya
perihal air mata itu yang tidak ku tahu rahasianya ‘bagaimana’. Emak memang
mudah menangis. Mendengar kabar bahagia, mendengar kabar sedih, dia selalu
mencucurkan air mata. Tapi kenapa tidak dengan ku?
***
Usia pernikahanku dengan suami tercinta telah mencapai
umur dua tahun. Aku tidak terfikirkan perasaan yang sebahagia itu akan aku
rasakan. Perhatian suamiku memang cukup memuas ku. Sampai rasanya tiada sanggup
lama-lama tanpa kabar dari dia. Kemanapun, dalam hal apapun aku selau
bersamanya. Bahkan hampir semua sesuatu yang dikerjakan, seperti dilakukan
berdua. Tidak ada beban berat dari langkah kehidupan yang terbangun dalam
keluarga kecil ini. Dan ditambah lagi dengan hadirnya puteri pertama kita yang
sangat aku sayangi, telah membuat aku semakin paham makna kebahagiaan. Dialah
Ririn yang selalu dengan sikap isengnya mengisi lengang kehidupan keluarga.
Tapi persoalan tangis, aku tetap belum bisa melakukannya. Bahkan pada saat
melahirkan Ririn aku hanya menjerit sedikit menahan sakit. Tak sempat aku untuk
menangis.
Semenjak kehadiran anak pertama itulah, keluargaku kerap
bermasalah. Bunga-bunga pertengkaran kerap membumbui sajian kehidupan keluarga.
Aku dan Ridwan hampir setiap minggu bertengkar. Pernah sekali ia pergi dari
rumah, beberapa hari dia tidur di rumah bapak mertua, karena suami tidak kuat
lagi meredam sikapku yang selalu membuat hidupannya terusik. Namun pada saat
ketiadaannya di rumah, aku merasa asing. Ririn yang selalu merengek ikut membuatku
gelisah. Ada yang megganjal hati. Ada kosong dari ruang bahagia. Ya aku
ternyata tidak bisa tanpa suami tercinta. Akhirnya aku jemput Ridwan ke rumah
mertua. Aku ajak dia kembali. Aku dan suami kembali merajut kebersamaan yang
sempat berai kocar-kacir.
Musim kini berganti ke penghujan. Tidak jarang
malam-malam hujan turun seperti hantu mengagetkan penduduk yang sedang terlelap
tidur. Suara seng yang beradu dengan rintik hujan begitu nyaring sampai kebalik
rumah tempat penghuni rumah istirahat. Aku dan suami sering terjaga pada saat
hujan turun. Tidak bisa tidur sampai hujan redah. Itu semua karena bunyi atap
rumah yang banyak terbuat dari seng berbunyi nyaring sat hujan turun. Tak
dipungkiri, kebiasaan terbangun pada malam-malam dengan suami memang sering terjadi.
Tapi yang ini beda. Dan dari keseringan itu aku mulai belajar betapa
berharganya bahagia. Aku mulai mengerti besar kekuatan cinta yang mulai
melahirkan rasa takut. Rasa takut untuk berpisah dengan keluarga, dengan Ririn,
dengan Ridwan, suami yang telah banyak mengajarkan aku mahalnya kebersamaan.
Kadang wajah ku mendadak pias ketika mengingat prisip
dulu waktu muda. Sebuah pengetahuan yang coba aku pegang yaitu, spektrum hidup
yang bersatu pasti akan terpisah. Itu hal yang kini menjadi menakutkan. Meski
aku tahu rasa takut ini tidak akan merubah kepastian alam yang telah digariskan
Tuhan dalam kehidupan mahluk-Nya. Sesekali aku tatapi wajah keluarga yang
tampak hanyut dalam tidur pulasnya. Kebetulan hujan malam ini tidak berkunjung
untuk kampungku. Wajah mereka membuat aku tersenyum perhatian. Tapi kenapa aku tidak menangis? Jiwaku
kembali bersuara lirih.
Sepagi buta suami telah siap membungkus celurit dalam
karungnya yang nanti akan berisi penuh rumput-rumput hijau segar. Seperti
itulah aktivitasnya setiap pagi dan sore hari, Ridwan mengambil rumput buat
makan sapi-sapi. Sementara aktivitasku hanya menyirami bawang dan pohon cabe di
sekitar rumah.
“Aku berangkat dulu Mak..” Begitulah suami memanggilku,
Emak. Seperti dia anakku saja. Maka aku juga memanggilnya Bapak. Aku tak
menyoalnya mau memanggil apa, yang jelas harmonisasi dalam keluarga terus
terjaga dan tersusun rapi tak roboh.
“Iya Pak. Hati-hati sekarang musim hujan. Akan banyak
binatang berkeliaran.” Aku mengingatinya agar lebih hati-hati saat memotong
rumput. Karena pada saat musim hujan,
biasanya binatang sejenis ular, kala jengking, akan keluar dari
lubangnya yang tergenang air. Tubuh suami hilang ditelan pepohonan yang
besar-besar. Di desa ini, sejauh ini ekosistem alam masih terjaga dan tidak
terjamah begitu keras oleh modernisasi. Meski aku dan suami adalah orang
sarjana, tapi tetap saja tidak berhak untuk merubah tradisi desa demi menjaga
ketertiban sosial. Orang di desa Tamidung masih belum banyak yang memiliki alat
eletronika. Mereka yang memiliki sepeda motor, tivi, dan telpon, hanya beberapa
orang saja. Di dalam keluargaku tidak ada tivi, tidak ada motor, tapi hanya HP
jadul produk cina. Alam di sekitar masih biru dan kaya akan pepohonan yang juga
dikelilingi beberapa sungai kecil dengan air jernih.
”Aduuuh…” Tiba-tiba jantungku berdegub kencang. Seperti
ada sesuatu terjadi. Aku mulai berfikir sembari berdoa semoga tidak terjadi
hal-hal yang buruk. Kepercayaan pada detak jantung yang tiba-tiba berubah
kencang seperti telah menjadi simbol mistis tersendiri bagiku. Emak pernah
berkata padaku tentang beberapa sesuatu yang akan terjadi pada seseorang dengan
hadirnya tanda-tanda. Seperti mata yang gatal tiba-tiba, bersin-bersin, dan
termasuk jantung yang tiba-tiba berdetak kencang, yang baru saja aku rasakan.
Beberapa saat kemudian.
“Tiiiiiiinn…. Tiiiinnn.. Ridwan Tin.” Terdengar suara
meleking dari arah selatan rumah. Aku belum tahu pemilik suara itu, karena
embun yang menutupi pagi masih tak beranjak tinggi pergi. Aku coba keluar
rumah. Sementara Ririn masih tertidur pulas di atas dipan tua.
“Kenapaaa Mar ? Kenapa dengan Ridwan hah ??” Aku mulai tahu siapa pemilik suara itu setelah aku
mendekatinya. Dia adalah Marwati, tetangga sebelah yang belum bersuami meski
usianya sudah cukup sepuh.
“Dia tidur…eh… maksud aku pingsan dengan celurit dan
karungnya yang baru berisi rumput seperempat Tin.” Marwati berusaha menjelaskan
dengan sejelas mungkin sesuai penglihatannya sambil mengatur nafasnya yang
tersengal. Sementara aku menjadi gelap. Aku menjadi tidak melihat panorama
jalan menuju sawah yang biasa aku agungkan. Aku berlari sesuai kekuatan otot.
Sawah tempat suamiku mencari rumput ternyata telah dipenuhi oleh warga desa.
Para warga yang memenuhi sawah tempat suamiku berada terlihat seperti kerumunan
orang yang sedang menonton karapan sapi. Aku membelah tubuh-tubuh penduduk yang
tamapk rapi berdiri. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi dengan Ridwan
suamiku.
Aku melihatnya. Tapi aku tiba-tiba gelap.
Ketika semua kembali terang. Aku mendengar ada puluhan
isak seperti orang menangis di sekitar ku. Dan ada juga yang melantunkan
ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi aku belum paham apa yang terjadi. Aku mencoba
mengingat dan bangkit dari pebaringan, ternyata di rumah orang telah penuh
dengan pakaian muslim mereka. Kaki dengan langkah yang paya aku paksa mendekat
dari dalam kamar menuju tempat instrument suara isak tangis itu berasal. Aku
biasa saja. Mataku melihat kain putih di bagian kepalanya. Sementara bagian
tubuhnya terselimuti oleh kain sampir liris keperak-perakan.
“Aaaaaaaaaaaarrrrrrg………” Suaraku lepas. Orang-orang kaget
balik kanan dan berdiri merangkul tubuhku. Ridwan telah meninggal. Ridwan telah
benar-benar tiada karena gigitan ular berbisa. Emak mulai menasehatiku tanpa
hirau. Air mataku mengalir membanjir di pipi. Aku terus menjerit menangis tidak
percaya akan hadirnya perpisahan yang benar-benar memisahkan, seperti
keyakinanku dulu. Dan itulah pertama
kali air mataku menetes. Pertama aku menangis karena cinta. Ya, cinta telah
melemahkan kalbu. Sepanjang hari yang mengisi keheningan dalam sepih ditinggal
suami, adalah tangisku. Tidak ada yang
mampu menjadi bendungan akan air mata. Aku paham bagaimana rasanya menangis tersebab
kekuatan cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.