Minggu, 16 November 2014

Elegi Lukaku



Tak jua sembuh luka ini
seketika samuraimu mengupas sebagian dada terdalam
                             ;pada luka yang sama

senja yang jingga
          merah seperti bibir mu.
Sejenak mengenang puisi yang kau abaikan
layu dan kaku tubuh ku
mulut pun bisu.

manis lidah mu,
dikulum seperti manisan kennong
tibatiba saja tersentak hatiku telah mati karena keracunan.
maut menjelma
                                    menjadi wanita.
dan nyawa ku tersisah satu dua dalam dada.

kalau aku hanya anak bhuntek
lalu kau abaikan,
kau bakar menjadi penghangat dalam dingin mu saja?
Mata ku buta memandang luka

langkah nafas yang tersisa
pada terjal kehidupan,
licin air mata ku tak perduli.
Lantas, bukan yusuf atau sulaiman
tak lebih dari gurindam lusuh
ingin dilihat meski tak dibaca.

Tegas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.