Tak jua sembuh
luka ini
seketika samuraimu
mengupas sebagian dada terdalam
;pada luka yang sama
senja yang jingga
merah seperti bibir mu.
Sejenak mengenang puisi
yang kau abaikan
layu dan kaku
tubuh ku
mulut pun bisu.
manis lidah mu,
dikulum seperti manisan kennong
tibatiba saja
tersentak hatiku telah mati karena keracunan.
maut menjelma
menjadi wanita.
dan nyawa ku
tersisah satu dua dalam dada.
kalau aku hanya
anak bhuntek
lalu kau abaikan,
kau bakar menjadi penghangat
dalam dingin mu saja?
Mata ku buta
memandang luka
langkah nafas yang tersisa
pada terjal
kehidupan,
licin air mata ku tak
perduli.
Lantas, bukan
yusuf atau sulaiman
tak lebih dari
gurindam lusuh
ingin dilihat
meski tak dibaca.
Tegas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.