angin memberiku kabar dari balik gagang telepon
tentang acara pernikahan di seberang pulau.
luka diamdiam merobek tabir hati yang sudah layu dan sepi.
liuk jalanan membentuk tanda tanya
menanyakan lukaku, kenapa hujan tak sama rasa dengan air mata?
sebab yang aku rasa kalah dan tak kuasa karena kecewa.
sebelum kau masuk kamar menggandeng lengan suami mu,
justru aku bergegas merangkul knangan merapikan sisa rasa dalam jiwa.
kau bersanding bahagia, aku memeluk luka.
kabar pernikahan merangsang pada ujung ke-irian.
diam pun tetap gemuruh menggoyahkan iman aku,
demikian aku marahai waktu ;kenapa begitu lamban membawa tubuh kakuku?.
Sekian berada dalam jajaran pecandu nafsu,
tunggu di empat tahun lagi, akan ku bantai juga bahagia mu dengan bahagia ku.
tentang acara pernikahan di seberang pulau.
luka diamdiam merobek tabir hati yang sudah layu dan sepi.
liuk jalanan membentuk tanda tanya
menanyakan lukaku, kenapa hujan tak sama rasa dengan air mata?
sebab yang aku rasa kalah dan tak kuasa karena kecewa.
sebelum kau masuk kamar menggandeng lengan suami mu,
justru aku bergegas merangkul knangan merapikan sisa rasa dalam jiwa.
kau bersanding bahagia, aku memeluk luka.
kabar pernikahan merangsang pada ujung ke-irian.
diam pun tetap gemuruh menggoyahkan iman aku,
demikian aku marahai waktu ;kenapa begitu lamban membawa tubuh kakuku?.
Sekian berada dalam jajaran pecandu nafsu,
tunggu di empat tahun lagi, akan ku bantai juga bahagia mu dengan bahagia ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.